Home Kabar Nasional Kemenkeu Laporkan Defisit APBN 2025 Capai Rp695,1 Triliun
Kabar Nasional

Kemenkeu Laporkan Defisit APBN 2025 Capai Rp695,1 Triliun

Share

Reporter: Muhammad Ar Rofi Nst

Suara USU, Medan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mengalami defisit pada akhir tahun anggaran. Berdasarkan laporan resmi Kementerian Keuangan, defisit APBN tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit tersebut hampir menyentuh batas maksimal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yakni sebesar tiga persen dari PDB. Selain itu, realisasi ini juga melampaui target defisit yang sebelumnya disepakati pemerintah, yaitu sebesar 2,78 persen.

Meski mengalami pelebaran, pemerintah memastikan posisi defisit masih berada dalam koridor aman. Purbaya menegaskan bahwa pengelolaan fiskal tetap terkendali dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. “Walau defisit membesar ke Rp695,1 triliun dan lebih tinggi dari rencana awal, defisit tetap terjaga tidak di atas tiga persen,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN, dikutip dari Kompas.

Pelebaran defisit tersebut terjadi akibat belanja negara yang lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima sepanjang tahun anggaran. Kondisi ini mencerminkan kinerja fiskal nasional yang melibatkan seluruh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah dalam struktur APBN. Sepanjang 2025, belanja negara tercatat sebesar Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari target, sementara penerimaan negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target outlook, sebagaimana dilansir Tempo.

Dari sisi penerimaan, pendapatan pajak terealisasi sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target Rp2.189,3 triliun. Penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp300,3 triliun atau 99,6 persen dari target Rp301,6 triliun. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target Rp513,6 triliun. Penerimaan hibah juga tercatat sebesar Rp4,3 triliun atau 733,3 persen dari target Rp600 miliar.

Sementara itu, dari sisi belanja, Belanja Pemerintah Pusat (BPP) terealisasi sebesar Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen dari target Rp2.701,4 triliun. Berdasarkan komponennya, belanja kementerian/lembaga mencapai Rp1.500,4 triliun atau 129,3 persen dari target Rp1.160,1 triliun. Adapun belanja non-kementerian/lembaga tersalurkan sebesar Rp1.102 triliun atau 71,5 persen dari target Rp1.541,4 triliun.

Purbaya menjelaskan bahwa pelebaran defisit merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, belanja negara tetap diperlukan sebagai stimulus agar aktivitas ekonomi tidak melambat. “Kenapa nggak potong belanja agar defisit kecil? Ketika ekonomi kita downfall, kita harus menurunkan stimulus perekonomian. Ini cara pemerintah menjaga ekonomi tumbuh berkesinambungan tanpa membebani APBN,” ujar Purbaya yang dikutip dari Metrotvnews.

Selain defisit APBN, indikator fiskal lainnya juga menunjukkan tekanan. Realisasi sementara keseimbangan primer mencatat defisit sebesar Rp180,7 triliun, lebih lebar dibandingkan target awal Rp63,3 triliun. Keseimbangan primer merupakan selisih antara pendapatan negara dan belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Sementara itu, pembiayaan anggaran tercatat mencapai Rp744 triliun dengan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp48,9 triliun.

Ke depan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mengoordinasikan belanja negara secara tepat sasaran guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta mendukung program-program prioritas. Purbaya menilai peran belanja pemerintah masih krusial dalam menopang aktivitas ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Secara keseluruhan, pemerintah tetap berupaya menekan defisit ke tingkat yang lebih rendah secara bertahap tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Fokus juga diarahkan pada menjaga stabilitas, keseimbangan, dan keberlanjutan APBN agar pengelolaan fiskal tetap sehat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.