Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Di tengah masifnya penggunaan media sosial oleh anak muda, komunitas digital Booktwt hadir sebagai ruang literasi alternatif yang berkembang pesat di platform X (Twitter). Komunitas ini menjadi wadah bagi para pembaca untuk berinteraksi, berbagi pengalaman membaca, serta membangun kebiasaan literasi dalam lingkungan digital yang akrab dengan keseharian anak muda.
Booktwt dikenal sebagai komunitas pembaca yang aktif melakukan berbagai aktivitas terkait dunia perbukuan. Para penggunanya kerap membagikan progres bacaan, menulis ulasan buku, mendiskusikan isi bacaan, hingga melakukan transaksi jual beli buku. Aktivitas-aktivitas tersebut menjadikan membaca tidak lagi dipersepsikan sebagai kegiatan individual yang sunyi, melainkan pengalaman sosial yang dapat dirayakan bersama.
Bagi generasi muda yang akrab dengan ritme cepat media sosial, Booktwt menjadi jembatan antara dunia digital dan kebiasaan membaca. Interaksi yang cair dan informal membuat buku terasa lebih dekat dengan keseharian mereka. Membaca tidak lagi identik dengan tuntutan akademik atau aktivitas yang kaku, melainkan hadir sebagai bagian dari gaya hidup yang dapat dinikmati dan dibagikan.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap literasi di tingkat nasional. Data Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) mengalami peningkatan dari 69,42 poin pada 2023 menjadi 73,52 poin pada 2024, melampaui target yang ditetapkan sebesar 71,4 poin. Meski peningkatan tersebut tidak dapat dilekatkan pada satu faktor semata, keberadaan komunitas literasi digital seperti Booktwt menunjukkan bahwa media sosial dapat berkontribusi dalam membangun budaya baca yang lebih inklusif.
Namun, literasi bukan sekadar soal minat, melainkan juga konsistensi. Banyak pembaca mengakui bahwa tantangan terbesar bukanlah memulai membaca, tetapi mempertahankan kebiasaan tersebut di tengah kesibukan dan distraksi digital. Dalam konteks ini, Booktwt menghadirkan dukungan sosial yang berperan penting. Interaksi antarpembaca, saling menyemangati, serta adanya target membaca bersama membantu menjaga rutinitas membaca agar tidak mudah terputus.
Sebut saja Y, salah satu pengguna X yang aktif di komunitas Booktwt, mengungkapkan bahwa keberadaan orang-orang dengan minat serupa memberikan pengaruh besar terhadap konsistensi membacanya. Menurutnya, reading challenge yang rutin diadakan setiap bulan menjadi pemicu untuk tetap membaca secara teratur. Apresiasi yang diberikan di akhir tantangan juga menjadi daya tarik tersendiri yang mendorongnya untuk menyelesaikan target bacaan.
Meski demikian, atmosfer produktif di Booktwt tidak selalu berdampak positif bagi semua pembaca. Paparan terhadap progres bacaan orang lain yang terlihat cepat dan konsisten kerap memunculkan tekanan tersendiri. Dalam beberapa situasi, membaca yang seharusnya menjadi aktivitas menyenangkan justru berubah menjadi beban karena perasaan tertinggal atau kurang produktif.
Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh sebut saja Y dalam beberapa waktu tertentu. Ia mengaku tetap merasa termotivasi oleh Booktwt, tetapi tidak menampik bahwa target baca yang terlalu tinggi terkadang menimbulkan rasa tertekan, terutama ketika sedang merasa lelah secara mental. Dalam kondisi seperti itu, mengambil jarak sejenak dari media sosial menjadi langkah yang diperlukan agar aktivitas membaca kembali pada tujuan awalnya. “Aku merasa Booktwt lebih bikin termotivasi. Tapi di beberapa waktu, aku juga merasa tertekan soal target baca, apalagi kalau lagi capek. Walaupun begitu, sebagian besar waktunya tetap bikin aku termotivasi,” ungkapnya.
Di sisi lain, ada pula pembaca yang merasakan dampak sebaliknya. Alcy, pengguna Booktwt lainnya, mengaku lebih sering merasa termotivasi daripada tertekan. Ia menikmati percakapan santai seputar buku, opini jujur tentang karakter dan alur cerita, hingga respons spontan yang membuat pengalaman membaca terasa lebih hidup. Bagi Alcy, melihat orang lain membaca banyak buku justru menjadi sumber inspirasi, bukan kompetisi. “Booktwt as a community can have a significant effect on young people’s reading consistency, especially through exposure, social interaction, and shared enthusiasm,” ujarnya.
Pengalaman yang beragam ini menunjukkan bahwa Booktwt, seperti komunitas digital lainnya, memiliki dinamika yang tidak selalu seragam. Dampaknya sangat bergantung pada cara individu memaknai interaksi di dalamnya. Ketika dimaknai sebagai ruang saling mendukung, Booktwt dapat menjadi sumber motivasi yang kuat. Namun, ketika fokus bergeser pada angka dan pencapaian, tekanan pun tidak terelakkan.
Pada akhirnya, membaca bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling banyak menyelesaikan buku dalam waktu singkat. Membaca adalah proses personal yang sarat makna, baik untuk memperluas pengetahuan, memahami sudut pandang baru, maupun sekadar mencari hiburan. Dalam konteks ini, Booktwt memiliki potensi besar sebagai ruang literasi digital yang mendukung pembaca muda menemukan kembali makna membaca sesuai dengan ritme masing-masing.
Sebagai komunitas, Booktwt mengajarkan bahwa literasi dapat tumbuh melalui kebersamaan, dialog, dan saling berbagi. Tantangannya adalah menjaga agar ruang ini tetap inklusif dan ramah, sehingga membaca tidak berubah menjadi ajang pembandingan, melainkan tetap menjadi aktivitas yang membebaskan dan bermakna.
Redaktur: Axfeba Saragih
Leave a comment