Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga
Suara USU, Medan. Dari balik kepulan uap khas rebusan daun, lahir salah satu komoditas tradisional Indonesia yang telah diwariskan lintas generasi, yaitu gambir. Olahan ekstrak daun ini berbentuk padatan kering berwarna cokelat gelap dan dikenal luas karena manfaatnya yang beragam.
Bagi masyarakat di Sumatra dan Kalimantan, gambir bukan sekadar hasil olahan tanaman. Sejak dahulu, gambir menjadi bagian dari tradisi menyirih. Di luar fungsi budaya, gambir juga dipercaya sebagai obat alami untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan ringan seperti bau mulut, sariawan, diare, dan lain-lain berkat sifatnya yang antiseptik dan astringen.
Pohon gambir adalah tumbuhan tropis yang tumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian hingga 20 meter. Daunnya berbentuk lonjong dan berwarna hijau tua, bunganya berwarna kuning dan berbau harum.
Khasiat gambir berasal dari kandungan alaminya, terutama pada daun. Daun gambir kaya akan tanin, senyawa yang berperan penting dalam menangkal radikal bebas penyebab kerusakan sel. Kandungan ini pula yang membuat gambir dimanfaatkan dalam industri penyamakan kulit karena kemampuannya mengikat protein.
Selain tanin, gambir mengandung flavonoid yang membantu meredakan peradangan serta vitamin C yang berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh. Berbagai mineral seperti kalium, kalsium, dan magnesium turut melengkapi nilai manfaat tanaman ini. Kalium berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan membantu mengontrol tekanan darah.
Proses pengolahan gambir masih dilakukan secara tradisional dan membutuhkan ketelatenan. Daun dan ranting muda hasil panen diikat dengan berat sekitar tiga kilogram per ikat, lalu disusun rapi dalam keranjang bambu. Ikatan tersebut direbus selama 1-1,5 jam hingga sari daun keluar. Hasil rebusan dimasukkan ke dalam alat kempa untuk melakukan pengempaan (mengeluarkan getah gambir).
Getah yang terkumpul disaring dan diendapkan dalam wadah kayu semalaman. Perlahan, endapan kecokelatan dengan tekstur menyerupai pasta terbentuk. Keesokan harinya, endapan ini ditiriskan agar semakin pekat sebelum dicetak. Cetakan yang digunakan bervariasi, mulai dari bentuk silinder cekung, silinder, hingga koin. Setelah itu, gambir dijemur selama 4-7 hari, menunggu matahari mengeringkannya hingga mengeras dan berwarna cokelat gelap.
Di balik proses panjang tersebut, gambir menyimpan nilai ekonomi yang tak kecil. Indonesia tercatat sebagai eksportir gambir terbesar di dunia. Mengutip RRI.co.id, pada November 2025 Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Provinsi Sumatra Barat melepas ekspor sebanyak 27 ton ekstrak gambir ke India. Ekspor ini menjadi angin segar bagi petani gambir di daerah, sekaligus menegaskan posisi gambir sebagai komoditas lokal yang mampu bersaing di pasar global.
Dari dapur-dapur tradisional hingga jalur perdagangan internasional, gambir membuktikan bahwa kekayaan hayati Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi terus memberi manfaat lintas zaman.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment