SUARA USU
Featured Film

Cinta, Penerimaan dan Pertumbuhan Lewat Film My Precious

sumber: pinterest.com

 

Penulis: Zahra Zaina Rusty

Suara USU, Medan. My Precious merupakan film Thailand hasil adaptasi novel the Girl We Chased Together karya Jiu Ba Dao. Novel tersebut telah lebih dulu diadaptasi oleh Taiwan dan Jepang dalam film berjudul You Are the Apple of My Eye.

Film My Precious bukan hanya menyajikan adegan yang memikat lewat kisah cinta remaja, tetapi juga mempersembahkan refleksi mendalam tentang perjalanan cinta, pertumbuhan pribadi, dan penerimaan akan takdir. Melalui perjalanan Tong dan Lin, penonton dibawa dalam lanskap emosional yang memperlihatkan bahwa cinta tidak selalu tentang akhir yang bahagia, namun juga tentang bagaimana kita menghadapi perubahan, keputusan sulit, dan pertumbuhan pribadi.

Kisah dimulai dengan Tong, seorang siswa berusia 16 tahun yang tidak memiliki minat atau motivasi yang kuat terhadap belajar maupun dunia perkuliahan. Namun, segalanya berubah ketika ia dipaksa untuk duduk di depan kursi Lin, seorang siswi terbaik yang tidak hanya cantik tetapi juga cerdas. Awalnya, Tong merasa bahwa dia terlalu keren atau terlalu sibuk dengan urusan sekolahnya untuk terlibat dalam hubungan romantis. Tong dengan keras menyatakan dia tidak akan naksir dengan Lin, meski hampir semua teman dalam geng-nya menyukai Lin. Namun, semakin dekat dia dengan Lin, semakin jelas bagi Tong bahwa cinta bisa menjadi pendorong yang kuat untuk perubahan positif dalam hidupnya.

Pertemuan Tong dengan Lin tidak hanya membawa perubahan positif dalam kehidupan pendidikan Tong, tetapi juga membuka wawasan baru tentang konflik dan perbedaan yang dapat muncul dalam hubungan jarak jauh. Tong yang memiliki minat yang kuat terhadap bela diri dan dunia akting, harus berhadapan dengan perbedaan pandangan antara dirinya dan Lin. Konflik ini mencapai puncaknya ketika Tong memutuskan untuk bergabung dengan fight club, sebuah keputusan yang tidak disetujui oleh Lin. Meskipun keduanya mencintai satu sama lain, perbedaan pandangan ini menyebabkan ketegangan yang sulit untuk diatasi.

Dua tahun berlalu sejak Tong dan Lin mengakhiri hubungan mereka. Namun, ketika sebuah gelombang besar melanda daerah ranong tempat Lin kuliah pada 26 Desember 2004, Tong merasa perlu untuk menghubungi Lin dan memastikan keadaannya. Meskipun Tong berharap bisa merajut kembali hubungan mereka, Lin dengan bijaksana menolak tawaran tersebut. Bagi Lin, momen paling indah dalam jatuh cinta adalah sebelum keduanya setuju untuk menjadi pasangan. Dia ingin menjaga Tong sebagai kenangan terbaik dalam hidupnya, tanpa harus melangkah ke dalam hubungan yang mungkin tidak akan sama seperti sebelumnya.

Meskipun menerima penolakan Lin, Tong memberikan tanggapan dengan penuh lapang dada. Dia mengungkapkan keyakinannya bahwa mungkin di alam semesta lain, mereka berdua bisa bersama. Namun, keputusan Lin untuk maju ke arah yang berbeda dari Tong menjadi semacam titik balik dalam kisah cinta mereka.

Puncak dari perjalanan Tong dan Lin datang pada tahun 2007, ketika Tong menerima undangan pernikahan milik Lin. Undangan tersebut mungkin menjadi penutup dari satu bab dalam kehidupan Tong dan Lin, namun, cerita cinta mereka tetap menjadi bagian yang tak terhapuskan dari kenangan dan pengalaman mereka.

Kisah Tong dan Lin menunjukkan bahwa cinta tidak selalu tentang akhir yang bahagia, tetapi juga tentang perjalanan, pertumbuhan, dan penerimaan akan perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Meski jalan mereka terpisah, pengaruh dan kenangan satu sama lain akan tetap hidup dalam hati dan pikiran mereka selamanya. Melalui My Precious kita diingatkan bahwa cinta sejati mempersembahkan lebih dari sekadar kemesraan, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai dan belajar dari setiap momen, baik yang manis maupun yang pahit.

Redaktur: Fatih Fathan Mubina

Related posts

The Social Dilemma, Sisi Lain di Balik Layar Media Sosial

redaksi

Bijak Memilih: Membimbing Pemilih Muda Menuju Pemilu 2024

redaksi

Kim Ji Young Born 1982: Sebuah Realita yang Tidak Diakui

suarausu