Home Opini Gen Z dan Godaan Jalan Pintas yang Serba Cepat dan Rentan Terjerat
Opini

Gen Z dan Godaan Jalan Pintas yang Serba Cepat dan Rentan Terjerat

Share

Oleh : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari 

​Suara USU, Medan. Di tengah gempuran tren instant gratification yang menuntut segalanya berjalan cepat, Generasi Z dihadapkan pada realitas ekonomi dan sosial yang keras. Tekanan hidup yang tinggi, ekspektasi sosial yang masif dari media sosial, serta standar kesuksesan yang tampak tidak realistis membuat banyak anak muda dari generasi ini mencari pelarian sekaligus solusi instan. Sebatang rokok dan hembusan vape, satu klik belanja, satu aplikasi pinjaman yang cair dalam hitungan menit. Generasi yang tumbuh bersama gawai terbiasa mendapat semuanya cepat. Masalahnya, tidak semua hal dalam hidup bisa dipercepat, dan sebagian jalan pintas berujung pada jalan buntu.

Banyaknya tuntutan yang dihadapi membuat sebagian Gen Z mencari berbagai cara untuk mendapatkan sesuatu secara instan, baik untuk menghilangkan stres, membanggakan orang tua, terlihat keren, dan banyak hal lainnya. Bahkan tidak banyak juga Gen  Z yang melakukan pinjaman daring. Menurut data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan bermasalah pinjaman daring per Juli 2026 didominasi kelompok usia 19-34 tahun, dengan porsi 48,22 persen dari total outstanding bermasalah. Kelompok usia itu mencakup Gen Z dan milenial. Tingkat kredit macet agregat naik ke 4,32 persen, mendekati ambang aman 5 persen. OJK juga mencatat pendanaan macet banyak berasal dari sektor konsumtif yang sensitif terhadap kemampuan bayar.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menilai kebiasaan scrolling media sosial memicu “sedikit-sedikit ingin check out“. Ia mengingatkan bahayanya bagi anak muda yang belum berpenghasilan tetapi sudah terbiasa berbelanja tanpa memikirkan cara membayarnya. Riset Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 menemukan bahwa 52 persen pengguna paylater dari kalangan milenial dan Gen Z meyakini layanan tersebut dapat mendorong pengeluaran berlebihan. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian pengguna menyadari adanya risiko pengeluaran berlebihan, kemudahan dan kenyamanan paylatertetap dapat mendorong mereka untuk menggunakannya.

Tidak hanya untuk mencari kemudahan dalam pencarian uang saja, namun juga dalam media penghilang stress. Media yang sering dijadikan sebagai penghilang stress instan ala Gen Z adalah Rokok maupun Vape (Rokok Elektrik). Berdasarkan hasil survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi merokok usia 10-18 tahun turun menjadi 7,4 persen dari 9,1 persen. Namun, jumlah perokok anak dan remaja disebut justru naik dari 4,1 juta menjadi 5,9 juta karena pertambahan penduduk. Rentang usia mulai merokok terbanyak adalah 15–19 tahun, dan usia pertama kali mencoba dilaporkan makin muda, dari sekitar 12 menjadi 10 tahun.

Namun bagi sebagian Gen Z, sebatang rokok atau kepulan uap vape bukan sekadar gaya hidup, melainkan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) instan saat menghadapi kecemasan akademik, tekanan kerja, atau kelelahan mental (burnout). Di tengah tuntutan untuk selalu produktif dan sempurna, merokok menawarkan jeda instan selama lima menit yang bisa menjadi sebuah pelarian cepat untuk menenangkan saraf tanpa harus menyelesaikan akar masalahnya.

Menurut Dr. Anita Wijayanti, M.Psi., seorang psikolog klinis yang mendampingi kesehatan mental remaja, pelarian semacam ini sangat berbahaya karena bersifat artifisial. “Rokok memberikan ilusi ketenangan sesaat melalui pelepasan dopamin cepat akibat nikotin. Masalahnya, Gen Z kerap menggunakan ini sebagai jalan pintas emosional. Alih-alih belajar mengelola stres melalui teknik relaksasi yang sehat atau problem-solving, mereka mengandalkan zat kimia eksternal yang justru merusak kesehatan fisik jangka panjang,” jelasnya.

Kini Rokok elektrik (vape) memperluas pintu masuk nikotin. Survei GATS mencatat penggunaannya naik sepuluh kali lipat dalam satu dekade, dari 0,3 persen menjadi 3 persen. Angka ini mencakup semua usia, bukan hanya Gen Z. Kemenkes menduga ada kecenderungan anak beralih dari rokok konvensional ke rokok elektrik. 

Di sisi profesional, fenomena Gen Z menolak pekerjaan dengan gaji UMR sering memicu perdebatan panas di ruang publik. Banyak dari mereka yang terang-terangan menolak tawaran kerja bergaji rendah di kota-kota besar dengan alasan bahwa up tersebut tidak masuk akal jika dibandingkan dengan harga sewa tempat tinggal, biaya transportasi, dan kesehatan mental.

​

Di satu sisi, sikap ini mencerminkan kesadaran finansial dan batasan diri (boundaries) yang sehat. Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang terjebak dalam mentalitas instan: ingin langsung menempati posisi manajerial atau bergaji dua digit tanpa mau merangkak dari posisi awal atau membuktikan kompetensi terlebih dahulu. Survei Deloitte melaporkan 31 persen Gen Z berencana berganti pemberi kerja dalam dua tahun, dibanding 17 persen milenial. Namun, laporan itu menegaskan bahwa hal ini tidak semata-mata karena kurang loyal, melainkan strategi mencari stabilitas dan keseimbangan hidup. Analisis Jakpat menyebut gaji kurang memuaskan menjadi alasan 41 persen Gen Z mengundurkan diri.

Dosen IPB University Rahmi Damayanti mengingatkan bahwa Gen Z yang menolak promosi tidak berarti tidak ambisius, melainkan sedang menggeser makna keberhasilan. Psikolog klinis remaja Tara de Thouars menilai beban generasi ini memang lebih berat, mulai dari tekanan media sosial hingga biaya hidup, sehingga prinsipnya menjadi “work smart instead of work hard“. Namun, ia mengingatkan bahwa hasil maksimal tetap membutuhkan proses panjang.

Rian Hidayat, M.E., seorang ekonom ketenagakerjaan, melihat hal ini sebagai buah dari disinformasi digital. “Media sosial penuh dengan narasi ‘raih seratus juta pertama di usia muda’ atau kisah sukses instan influencer. Akibatnya, Gen Z mengalami distorsi realitas. Mereka memandang gaji UMR sebagai sebuah penghinaan, padahal dalam struktur karier tradisional, tahap awal selalu diisi dengan proses akumulasi pengalaman dan portofolio, bukan langsung instan kaya,” paparnya.

Kecenderungan mencari jalan pintas ini tidak hanya berhenti pada urusan rokok dan gaji. Berikut adalah beberapa contoh kasus nyata yang kerap ditemui seperti : 

  1. Jalan Pintas Akademik dengan AI: Mengandalkan kecerdasan buatan sepenuhnya untuk menulis esripsi atau makalah tanpa proses berpikir kritis, yang akhirnya membuat kemampuan analisis mereka tumpul saat diuji di dunia nyata.
  2. ​Tergiur Skema Investasi Bodong dan Judi Online: Mencari kekayaan kilat dalam semalam melalui instrumen keuangan berisiko tinggi atau judi online karena tergiur iklan di media sosial yang menjanjikan hasil instan tanpa keringat.

Namun, semua hal ini tidak bisa hanya diukur dan menyalahkan satu generasi saja dengan mudah. Pada kuartal pertama 2025, PPATK mencatat 1.066.000 pemain judi online, dengan 396.000 berusia 20–30 tahun dan 395.000 berusia 31–40 tahun. Sebanyak 71 persen pemain berpenghasilan di bawah Rp5 juta per bulan. Hasrat mencari jalan pintas lintas usia. Gen Z hanya paling terpapar teknologi yang membuatnya semudah menekan tombol.

Secara hukum sendiri regulasinya sebenarnya sudah ada yaitu PP 28/2024 melarang penjualan rokok ketengan, penjualan kepada mereka yang berusia di bawah 21 tahun, dan penjualan dalam radius 200 meter dari sekolah. Ketua Yayasan Jantung Indonesia Annisa Pohan Yudhoyono menilai implementasinya masih butuh perhatian pada verifikasi usia pembeli dan pengawasan. Direktur P2PTM Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengakui bahwa perubahan perilaku “tidak instan hasilnya”. Kalimat itu berlaku bagi semua pihak.

Regulator perlu menegakkan aturan penjualan rokok dan vape serta memperketat penilaian kelayakan pinjaman. Tempat kerja perlu menyediakan jenjang karier dan gaji yang jelas agar bertahan terasa masuk akal. Gen Z sendiri perlu melatih kemampuan menunda kepuasan. Kerja cerdas memang baik, tetapi tidak menggantikan proses. Jalan pintas sering terasa lebih cepat, sampai tagihannya datang.

Jalan pintas, baik itu sebatang rokok untuk meredakan stres maupun penolakan mentah-mentah terhadap proses merintis karir dari bawah, mencerminkan ketakutan mendalam akan ketidaknyamanan. Padahal, hidup tidak selalu bisa disaring dan dipercepat layaknya video pendek berdurasi 15 detik.

Redaktur: Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.