Oleh: Intan Nurhaliza
Suara USU, Medan. Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti mengulang hal yang sama mulai dari bangun pagi, menjalani aktivitas, mengerjakan tugas, lalu tidur. Esoknya, semua dimulai lagi dari awal.
Tidak ada kejadian besar yang membuat hidup terasa buruk. Semuanya berjalan seperti biasa. Namun justru karena terlalu biasa, rutinitas itu lama-kelamaan bisa terasa melelahkan, sampai akhirnya muncul pertanyaan, “Apa memang akan begini terus?”
Perasaan semacam itu tergambar dalam “Saturn“, lagu milik SZA yang dirilis pada 2024. Lagu ini membawa pendengarnya pada rasa jenuh terhadap kehidupan yang sedang dijalani, sekaligus keinginan untuk menemukan sesuatu yang berbeda.
Saturnus dalam lagu ini bukan sekadar sebuah planet. Ia menjadi gambaran tentang “tempat lain” yang dibayangkan ketika kehidupan sekarang mulai terasa terlalu penuh dengan pola yang itu-itu saja: tempat yang belum pernah ditinggali, belum diketahui seperti apa rupanya, tetapi terasa menarik justru karena menawarkan kemungkinan baru.
Keinginan untuk berada di tempat lain sudah terasa sejak awal lirik lagu:
If there’s another universe
Please make some noise
Give me a sign
This can’t be life
SZA seperti sedang meminta jawaban. Ia ingin tahu apakah ada kehidupan lain di luar apa yang sedang ia jalani. Kalimat “This can’t be life” terdengar seperti penolakan terhadap rutinitas yang terasa kurang cukup.
Menariknya, keinginan untuk pergi tidak selalu muncul karena hidup sedang berada di titik terburuknya. Kadang justru muncul ketika semuanya berjalan terlalu lama dengan cara yang sama. Seseorang bisa tetap menjalani aktivitasnya, bertemu orang-orang yang sama, mengerjakan hal-hal yang harus diselesaikan, tetapi di dalam hati mulai merasa kosong atau bosan. Tidak ada masalah besar yang bisa ditunjuk. Hanya ada keinginan untuk merasakan sesuatu yang lain.
Di sinilah lagu “Saturn” terasa dekat dengan kehidupan mahasiswa. Kuliah, tugas, rapat organisasi, kepanitiaan, dan berbagai kegiatan lain bisa memenuhi hari-hari tanpa terasa. Satu tugas selesai, tugas berikutnya sudah menunggu. Satu kegiatan selesai, agenda lain sudah ada. Lama-kelamaan, bukan hanya tugasnya yang melelahkan, tetapi polanya juga.
Karena itu, keinginan untuk “pergi” bisa muncul dalam bentuk yang sederhana: ingin tidur lebih lama, ingin jalan-jalan tanpa memikirkan tugas, ingin nongkrong dan membicarakan hal lain, atau mungkin hanya ingin satu hari tanpa harus mengejar apa pun. Bukan berarti ingin meninggalkan semuanya. Kadang, seseorang hanya ingin keluar sebentar dari pola yang sudah terasa terlalu familiar.
Hal itu kembali tergambar dalam lirik:
Life’s better on Saturn
Got to break this pattern
Of floating away
Ada pola yang ingin diputus. Ketika seseorang sudah terlalu lama menjalani rutinitas yang sama, kehidupan lain mulai terlihat menarik. Di sinilah Saturnus bisa dibaca sebagai sebuah perumpamaan: kita tidak benar-benar tahu seperti apa kehidupan di sana, dan justru karena tidak tahu itulah, tempat itu bisa menjadi ruang untuk membayangkan kehidupan yang berbeda.
Hal serupa bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat lelah dengan keadaan sekarang, kita bisa mulai membayangkan, “Mungkin kalau aku tinggal di kota lain, semuanya akan lebih baik,” atau, “Mungkin kalau sudah lulus nanti, hidup bakal lebih enak.” Masalahnya, kehidupan yang belum dijalani memang selalu lebih mudah terlihat indah. Kita belum tahu bagaimana rasanya bekerja setelah lulus, belum tahu bagaimana kehidupan di kota lain, dan belum tahu apakah kesibukan yang berbeda benar-benar akan membuat kita lebih bahagia.
Namun, bukan berarti keinginan untuk pergi itu harus dianggap berlebihan. Bisa jadi, keinginan tersebut justru menunjukkan bahwa ada sesuatu dalam kehidupan sekarang yang sedang perlu diperhatikan.
Bagi mahasiswa, “kehidupan lain” itu mungkin terasa seperti masa setelah wisuda. Ada yang membayangkan bekerja, punya penghasilan sendiri, pindah kota, atau akhirnya terbebas dari tugas dan jadwal kuliah. Masa depan memang mudah dibayangkan sebagai sesuatu yang lebih menyenangkan. Padahal, begitu sampai di sana, kita mungkin akan menemukan masalah dan rutinitas yang berbeda, bukan bebas dari keduanya.
Karena itu, “Saturn” bukan hanya tentang keinginan untuk pergi. Lagu ini juga terasa seperti gambaran tentang seseorang yang sedang mencari tahu apa yang sebenarnya ia butuhkan. Mungkin yang dicari bukan kehidupan baru, melainkan hanya jeda. Mungkin bukan benar-benar ingin meninggalkan semuanya, melainkan hanya ingin mengubah sesuatu dari kehidupan yang sekarang.
Pada akhirnya, Saturnus dalam lagu SZA terasa seperti simbol dari kehidupan yang kita bayangkan ketika kehidupan saat ini mulai terasa monoton: jauh, asing, dan belum diketahui, tetapi menarik karena menawarkan kemungkinan yang berbeda.
Mungkin kita sebenarnya tidak ingin pergi ke Saturnus. Kita hanya ingin tahu rasanya menjalani hidup yang tidak terasa sama terus. Seperti yang digambarkan SZA, keinginan untuk pergi tidak selalu muncul karena kita membenci kehidupan sekarang. Kadang, kita hanya sedang mencari alasan untuk kembali menyukainya.
Redaktur : Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari
Leave a comment