Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Bedah Jurusan

Dàjiā hǎo! Kenalan yuk dengan Program Studi Bahasa Mandarin di USU!

Penulis : Wardah Mujahidah Nasution dan Amanda Amelia

Suara USU, Medan. Hai, udah tau belum? Dikutip dari laman web badanbahasa.kemdikbud.go.id, Bahasa Mandarin termasuk urutan ke 5 dari 6 bahasa resmi PBB setelah Bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Rusia, Mandarin dan Bahasa Arab. Lima bahasa pertama menjadi bahasa resmi di Majelis Umum PBB sejak tahun 1945. Jadi, sebenarnya apasih itu Bahasa Mandarin?

Apakah sama dengan bahasa yang digunakan masyarakat Tionghoa di Indonesia yang sering kita dengar? Tentu tidak, ya. Bahasa Mandarin sendiri merupakan bahasa nasional dan bahasa utama di Republik Rakyat Tiongkok, sedangkan  bahasa yang sering kita dengar dan digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia dinamakan Bahasa Hokkien atau bisa dibilang Bahasa Daerah.

Sama halnya seperti yang dikatakan oleh Duta Wiwaha, ketua umum HUASHAN (Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin). Ia mengatakan, Bahasa Mandarin ini adalah bahasa pokok yang digunakan oleh masyarakat Tiongkok.

“Walaupun mereka memiliki suku yang banyak tetapi bahasa utama yang digunakan tetap bahasa mandarin, sama seperti kita walaupun kita memiliki suku etnis bahasa yang banyak tetapi dalam komunikasi itu kita tetap menggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa utama untuk berbicara,” jelasnya dalam wawancara Via WhatsApp.

Program Studi Bahasa Mandarin ini merupakan salah satu jurusan yang berada di naungan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Didirikan pada tahun 2007 dengan nama Program Studi Sastra Cina. Namun, pada MBKD 4 Februari 2019, Sastra Cina resmi berubah nama menjadi Bahasa Mandarin berdasarkan SK Rektor Universitas Sumatera Utara nomor 1044/UN 5.1. R/SK/PRS/2019.

Program Studi Bahasa Mandarin mengajak para peserta didik untuk mampu memenuhi tujuan dan arah pendidikan pada bidang bahasa, sastra, dan budaya Tiongkok, serta menghasilkan lulusan yang dapat memenuhi kompetensi yang diharapkan dan dapat bekerja masing-masing dengan kinerja yang memuaskan. Selengkapnya bisa dilihat di sastrachina.usu.ac.id.

Alasan mengapa diubah menjadi Bahasa Mandarin, Duta Wiwaha mengungkapkan bahwa pergantian nama dari Sastra Cina menjadi Bahasa Mandarin karena kebutuhan untuk menjadi abdi negara.

“Nama itu baru saja terganti pada masa kepemimpinan bapak ketua prodi Bahasa Mandarin saat ini. Karena pada saat itu ada alumni kita yang bermasalah ketika penerimaan menjadi abdi Negara. Karena jurusannya sastra cina, dan yang dibutuhkan untuk saat itu bahasa mandarin,” terang Duta.

“Jadi, untuk memastikan itu, untuk pengetesan masuk abdi Negara, mereka minta surat bahwasannya sastra cina ini mempelajari bahasa mandarin juga. Maka dari itu, diputuskan oleh ketua Prodi kita untuk diubah namanya menjadi program studi bahasa mandarin agar tidak menjadi simpang siur lagi kedepannya untuk alumni alumni kita yang tercipta dan memudahkan kita juga kedepannya,” jelasnya.

Beberapa mata kuliah yang dipelajari dalam jurusan ini adalah Tata Bahasa, Aksara Mandarin, Menyimak, Pelafalan Bahasa Mandarin, Membaca, Berbicara, Sejarah Tiongkok, Pengantar Kesusastraan Tiongkok dan mata kuliah lainnya.

Lalu bagaimana dengan prospek kerja kedepannya? Sama halnya seperti jurusan Bahasa dan Sastra lainnya, Jurusan ini memiliki prospek kerja yang menjanjikan. Mulai dari Guru, Dosen, Pegawai Negeri, Tour guide , Translator, Sastrawan dan masih banyak lagi.

“Untuk prospek kerja bahasa Mandarin saat ini sangat banyak dibutuhkan, seperti dibidang penerjemahan. Banyak perusahaan asing yang mencari seorang penerjemah lisan maupun tulisan yang menguasai bahasa Mandarin,” ucap Kasa Rullah, salah satu Dosen sekaligus alumni dari mahasiswa sastra Cina pada tahun 2008.

Disela wawancara Kasa Rullah juga bercerita mengenai alasan utamanya menjadi dosen, pengajar dan terjun langsung dalam perkembangan keilmuan bidang Bahasa Mandarin ini

“Saya menjadi dosen sejak tahun 2014. Alasan saya menjadi dosen adalah ingin menerapkan, memberikan pengetahuan saya tentang bahasa Mandarin yang telah saya pelajari selama ini dimulai dari S1 dari USU, S2 dari Jinan university Guangzhou dan S3 dari USU,” ujarnya.

Dilihat dari website resmi LTMPT, peminat jurusan ini masih terbilang sedikit dari tahun sebelumnya, yaitu dengan 113 peminat pada SBMPTN 2020. Selain itu, Program Studi Bahasa Mandarin ini meraih Akreditas B dari BAN-PT berdasarkan SK nomor 0403/SK/BAN-PT/Akred/S/I/2017.

“Untuk yang mengambil jurusan bahasa Mandarin, jangan takut tidak bisa berbahasa Mandarin. Adik-adik akan diajarkan oleh Dosen-Dosen yang berpengalaman dalam bidang bahasa Mandarin. Tetap semangat,” ucap Kasa Rullah selaku alumni sekaligus Dosen Bahasa Mandarin USU.

Duta Wiwaha juga menyampaikan, bahwa kita semua harus berani keluar dari comfort zone dan mencoba hal-hal maupun tantangan baru.

“Harus berani mencoba hal hal baru, karena semakin besar tantangannya semakin besar juga yang nantinya kita dapatkan. Semangat terus kepada adinda-adinda untuk terus belajar menggali ilmu,” pungkasnya.

Redaktur: Zukhrina Az Zukhruf

Related posts

Selangkah Lebih Dekat Mengenal Sastra Jepang USU!

redaksi

Jurusan Sosiologi, Belajar Apa dan Kerja Jadi Apa?

redaksi

Jurusan Etnomusikologi, Hanya Main Alat Musik?

redaksi