Home Tulisan Dari Ketergantungan Menuju Pemulihan, Peran Nyata Pekerja Sosial di IPWL Bukit Doa
Tulisan

Dari Ketergantungan Menuju Pemulihan, Peran Nyata Pekerja Sosial di IPWL Bukit Doa

Share
Foto bersama Konselor

Oleh: Nestapa Zega, Yusti Kasih Gea, Aprida Simamora, Mestano Waruwu

Saat berbicara tentang rehabilitasi, banyak orang langsung mengira dan membayangkan tempat yang penuh batasan dan dianggap negatif. Namun, kunjungan kami ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Bukit Doa Rumahku, rehabilitasi yang berlokasi di Jl. Lapangan Golf No.120 B, Kecamatan Pancur Batu, Medan, Sumatera Utara, mengubah pandangan itu sepenuhnya. Di balik pagar yang tenang, dan udara sejuk perbukitan, ada proses pemulihan yang penuh harapan dan di balik proses itu, berdirilah para pekerja sosial yang berperan penting dalam pemulihan klien.

IPWL Bukit Doa Rumahku menangani klien dari berbagai latar belakang seperti yang dijelaskan oleh bapak Herman selaku salah satu staf senior yang menjelaskan bahwa klien yang datang ke rehabilitasi Bukit Doa memiliki tiga kategori utama yaitu, pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), pengguna NAPZA dengan gangguan jiwa, dan orang denga gangguan jiwa (ODGJ) tanpa keterkaitan langsung dengan NAPZA. Cara klien masuk di lembaga ini pun berbeda-beda, ada yang datang secara mandiri ataupun diantar oleh keluarga, ada juga yang dirujuk oleh instansi atau Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian setelah penggerebekan. Menariknya, IPWL Bukit Doa tidak hanya mengandalkan pendekatan medis, melainkan juga pendekatan sosial dan spiritiual.

“Kami mempunyai 12 orang konselor yang kebanyakan adalah alumni dari tempat ini sendiri. Mereka adalah orang-orang yang pernah merasakan langsung perjuangan ketergantungan,” ucap bapak Herman.

Di IPWL Bukit Doa terdapat dua orang pekerja sosial yang tidak hanya sekadar berperan terhadap pencatatan data ataupun pendampingan sesi konseling saja. Mereka juga melakukan screening, dengan melihat masalah yang dihadapi klien mulai dari masalah keluarga, hukum, pekerjaan, sampai akses psikologis, yang semuanya digali melalui asesmen mendalam dan konseling. Pekerja sosial juga menyusun treatment plan, dan mendampingi klien dari hari pertama hingga kembali ke masyarakat. Di sana mereka menggunakan metode pendekatan dalam program rehabilitasi, yaitu pendekatan religius, terapi komunitas, dan pendekatan medis/psikologis.

Berlangsungnya Pelaksanaan Wawancara

Bapak Herman menjelaskan, bahwa prinsip-prinsip case work dan group work turut mereka gunakan, meskipun tidak disebut secara akademik. Konselor atau pekerja sosial tetap menjalankan asesmen individual, merancang intervensi dan memberikan pendampingan berkelanjutan. Semuanya dilakukan sesuai pendekatan yang disesuaikan dengan budaya lokal dan standar dari Kementerian Sosial (Kemensos) serta BNN.

“Semua pencatatan dan perkembangan klien bersifat privat. Bahkan keluarga sekalipun tidak bisa mengakses tanpa izin dari konselor,” ujar bapak Herman. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kode etik dan privasi dalam pekerjaan sosial di lembaga tersebut.

Setelah penelitian di IPWL Bukit Doa, dapat disimpulkan bahwa tempat ini bukan hanya tempat untuk ‘membuang’ mereka yang bermasalah dengan narkoba atau gangguan jiwa. Tempat ini adalah tempat pemulihan, tempat di mana pekerja sosial memainkan peran nyata dalam membangun kembali hidup seseorang dari nol. Dengan pendekatan holistik, religi, komunitas, dan medis—serta pendampingan dari konselor yang berempati dan berpengalaman, proses rehabilitasi di sini menjadi lebih manusiawi dan berdampak jangka panjang.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Metode-Metode Pekerja Sosial dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Fatimah Roudaul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.