Home Film Desa Piyungan Jadi Sorotan dan Destinasi Wisata Usai Kesuksesan Abadi Nan Jaya
Film

Desa Piyungan Jadi Sorotan dan Destinasi Wisata Usai Kesuksesan Abadi Nan Jaya

Share
Ilustrator: Erika Anggraini

Oleh: Dinda Sajidah

Suara USU, Medan. Keberhasilan film Abadi Nan Jaya sebagai salah satu film horor yang tengah menjadi sorotan internasional turut mengangkat perhatian publik terhadap lokasi proses produksinya. Film yang berhasil meraih posisi puncak dalam daftar tontonan Netflix di berbagai negara ini ternyata melibatkan sebuah desa di wilayah Yogyakarta, tidak hanya sebagai latar tempat, tetapi juga sebagai bagian dari proses kreatif melalui peran aktif masyarakat lokal.

Masyarakat di wilayah Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, memiliki peran penting dalam proses produksi film Abadi Nan Jaya yang disutradarai oleh Kimo Stamboel. Pengambilan gambar yang dilakukan sejak pertengahan tahun 2024 tidak hanya memanfaatkan wilayah Padukuhan Jombor dan Ngijo, Kalurahan Srimulyo, sebagai lokasi syuting, tetapi juga melibatkan warga setempat sebagai figuran zombie serta menyewa lahan milik warga untuk kebutuhan pengambilan gambar.

Menariknya, penduduk yang tinggal di area produksi menunjukkan tingkat kedisiplinan tinggi dalam menjaga kerahasiaan jalannya syuting. Sejak proses produksi dimulai, mereka tidak membagikan dokumentasi maupun bocoran cerita di media sosial, meskipun rasa antusias dan penasaran sangat kuat di tengah masyarakat. Tindakan ini dilakukan demi menjaga kejutan dan pengalaman menonton yang maksimal bagi penonton saat film dirilis.

Sikap kompak warga tersebut kemudian menjadi perhatian publik setelah beberapa rekaman prosesi syuting beredar di media sosial. Banyak warganet mengapresiasi solidaritas dan sikap profesional masyarakat desa yang dinilai jarang ditemukan pada lokasi syuting terbuka.

Kerja sama antara kru produksi dan masyarakat lokal juga berjalan harmonis. Warga merasa diuntungkan karena lahan yang disewa dihargai dengan layak, yakni sekitar Rp1 juta per bidang. Selain itu, hadirnya tim produksi turut meningkatkan aktivitas ekonomi di warung dan usaha kecil di sekitar lokasi syuting, menciptakan peluang pendapatan baru bagi warga.

“Setahun yang lalu, sawah milik saya dipakai untuk taman dan jalan guna keperluan pengambilan gambar. Kebetulan kantor polisi itu bersebelahan dengan sawah saya, jadi turut disewa,” ujar Sariyanti, warga Ngijo, Jumat (31/10/2025).

Salah satu lokasi syuting yang paling menarik perhatian adalah bangunan yang tampak seperti kantor polisi. Faktanya, bangunan tersebut awalnya merupakan kandang ternak milik warga yang kemudian dimodifikasi sepenuhnya oleh tim produksi untuk menyesuaikan kebutuhan adegan film. Transformasi ini meninggalkan kesan mendalam bagi pemiliknya.

“Saya melihat langsung bagaimana kandang milik saya diubah menjadi kantor polisi. Ya, walaupun jadi terlihat menyeramkan, tapi saya merasa bangga,” tutur Mbah Kardi, pemilik kandang tersebut.

Setelah produksi selesai, seluruh lokasi yang digunakan dikembalikan ke kondisi semula. Kandang ternak kembali berfungsi sebagaimana mestinya, dan sawah warga telah ditanami kacang tanah. Masyarakat setempat merasa bangga karena kampung mereka kini dikenal luas sebagai lokasi syuting film yang sukses secara internasional.

Dampak positif lain pun muncul. Desa yang sebelumnya relatif sepi kini mulai dikunjungi wisatawan dan penggemar film yang ingin melihat langsung lokasi syuting Abadi Nan Jaya. Fenomena ini membuka peluang berkembangnya wisata lokal dan memperkuat citra kawasan selatan Yogyakarta sebagai destinasi produksi film nasional.

Kesuksesan film ini juga tercermin dari data Netflix periode 20–26 Oktober 2025. Abadi Nan Jaya berhasil menduduki posisi pertama di lima negara dan masuk Top 10 Global Film di 75 negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Jerman, Prancis, dan Brasil.

Dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (29/10/2025), Kimo Stamboel menegaskan bahwa film ini berupaya menghadirkan horor zombie dengan akar budaya Indonesia.
“Saya ingin menghadirkan film zombie yang benar-benar bernuansa Indonesia, bukan hanya dari lokasi dan bahasa, tetapi juga dari dasar ceritanya,” ujar Kimo.

Sejak perilisannya, Abadi Nan Jaya mendapat sambutan positif dari penonton dalam negeri maupun mancanegara. Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian adalah desain karakter zombie yang terinspirasi dari tanaman kantong semar, tumbuhan karnivora khas Nusantara. Tekstur, warna, dan detail visual yang kuat menjadikan karakter zombienya unik dan berbeda dari film zombie lain.

Dengan kualitas produksi yang tinggi, penggarapan yang matang, serta pelibatan masyarakat lokal dalam setiap tahap produksi, film Abadi Nan Jaya tidak hanya menghadirkan cerita yang menegangkan, tetapi juga menjadi contoh kolaborasi antara industri kreatif dan komunitas desa yang layak untuk diapresiasi.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.