Home Kabar Kampus FIB USU Gelar Kuliah Umum, Cegah Amnesia Sejarah di Era AI
Kabar Kampus

FIB USU Gelar Kuliah Umum, Cegah Amnesia Sejarah di Era AI

Share

Reporter: Agnes Dhea Oktavia Sinaga, Ghefira Mannawa Salwa, dan Nisa Rosanti

Suara USU, Medan. Program Studi S-1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Sejarah Lisan di Era Digital” di Gedung Serbaguna FIB USU pada Jumat (18/9/2026) pukul 09.30–11.30 WIB. Kegiatan ini menghadirkan dosen Universitas Negeri Semarang (UNNES), Mukhamad Shokheh, S.Pd., M.A., Ph.D., sebagai narasumber guna memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan sejarah lisan di tengah kemajuan teknologi.

Acara diikuti oleh mahasiswa dari tiga kelas reguler Program Studi Ilmu Sejarah serta kelas Mata Kuliah Wajib Universitas (MKWU), khususnya angkatan 2025. Sejumlah pimpinan fakultas dan jurusan turut hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Dekan FIB USU Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., Wakil Dekan I Dr. Zulfan, S.S., M.Hum., Wakil Dekan III Andi Pratama Lubis, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi S-1 Ilmu Sejarah Lestari Dara Cinta Utami Ginting, S.S., M.A., serta Ketua Program Studi Magister (S-2) Ilmu Sejarah Drs. Nuhung, M.A., Ph.D.

Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, pembacaan doa, serta penyampaian sambutan. Dalam sambutannya, Dekan FIB USU, Mhd. Pujiono, S.S., M.Hum., Ph.D., menyampaikan bahwa tema kuliah umum ini relevan dengan perkembangan zaman karena mendukung upaya pelestarian sumber sejarah. Ia berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mendorong mereka untuk berpikir kritis dalam memahami dan mengelola sumber sejarah.

Setelah pembukaan, sesi utama berlangsung dengan dipandu oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah (HIMIS), Al Kautsar Refanda, selaku moderator. Dalam pemaparannya, Shokheh menjelaskan bahwa sejarah lisan merupakan sejarah yang dibangun berdasarkan wawancara dengan para saksi atau pelaku mengenai peristiwa dan pengalaman masa lalu. Menurutnya, metode ini penting untuk mencegah terjadinya amnesia sejarah, yaitu kondisi ketidaktahuan, pengabaian, atau distorsi terhadap fakta sejarah.

Shokheh juga menjelaskan pergeseran tradisi lisan dari bentuk tradisional menuju kelisanan digital (secondary orality). Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan percakapan direkam, diputar ulang, dan disebarluaskan secara luas melalui media seperti siniar (podcast), YouTube, dan pesan suara. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak menghilangkan tradisi lisan, melainkan mengubah bentuk dan medium penyampaiannya. “Budaya lisan mengajarkan kita untuk memahami bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Namun, di era sekarang, karakter kita cenderung tidak tahan menjalani proses dan ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat. Padahal, sejarah lisan sendiri tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan proses untuk menggali, memahami, dan melestarikan sumber sejarah,” ujarnya.

Materi tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Mahasiswa mengajukan sejumlah pertanyaan seputar metode penelusuran sejarah lisan, cara memilih narasumber, pemanfaatan kecerdasan buatan. hingga pengaruh teknologi digital terhadap penelitian sejarah.

Ketua Program Studi S-1 Ilmu Sejarah FIB USU, Lestari Dara Cinta Utami Ginting, S.S., M.A., menjelaskan bahwa kuliah umum ini diselenggarakan sejalan dengan kurikulum semester tiga yang tengah mempelajari mata kuliah Sejarah Lisan. Selain melengkapi perkuliahan kelas, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan mahasiswa pada tantangan penelitian sejarah di era digital.

Lestari juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membeda-bedakan nilai sumber sejarah. Sumber tertulis, lisan, benda, maupun audiovisual dinilai memiliki fungsi yang saling melengkapi tergantung cara peneliti memperoleh, menguji keabsahan, mengkritisi, dan menginterpretasikannya. “Semua sumber memiliki nilai yang sama. Yang menentukan adalah bagaimana cara kita memperoleh dan mengkritisinya,” ungkapnya.

Pandangan senada disampaikan oleh Ketua HIMIS, Al Kautsar Refanda, yang menyebutkan bahwa keikutsertaan mahasiswa dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi dan maraknya penggunaan perangkat AI. Mahasiswa sejarah perlu bersiap menggunakan arsip digital, rekaman wawancara, serta aplikasi transkripsi berbasis AI untuk menunjang penelitian. “Sejarah lisan bagi kami cukup penting untuk memverifikasi dokumen yang sudah ada. Ketika sumber lisan tidak lagi tersedia, sumber dokumen dapat membantu menutupi keterbatasan tersebut,” pungkasnya.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, Program Studi S-1 Ilmu Sejarah FIB USU berencana memfasilitasi kerja sama antara mahasiswa HIMIS USU dan himpunan mahasiswa Ilmu Sejarah dari UNNES. Rencana kolaborasi tersebut dirintis setelah narasumber membagikan kontak pengurus himpunan di UNNES untuk membuka ruang diskusi antarmahasiswa kedua perguruan tinggi. “Dengan harapan, kuliah umum ini bisa membantu kerja sama di antara dua himpunan mahasiswa ini,” tutur Lestari.

Penyelenggaraan kuliah umum ini juga menjadi bentuk dukungan kampus terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya sasaran nomor 4 yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui penguatan wawasan akademik mahasiswa, serta sasaran nomor 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals) melalui jejaring kerja sama antara USU dan UNNES.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.