Home Opini Filter Boleh Viral, Tetapi Sentuhan Seniman Tetap Vital
Opini

Filter Boleh Viral, Tetapi Sentuhan Seniman Tetap Vital

Share
Ilustrator: Erika Anggraini

Oleh: Syafira Sari

Suara USU, Medan. Dunia media sosial saat ini tengah diramaikan oleh trend filter berbasis kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan sebutan Artificial Intelligence (AI), di mana ini memungkinkan pengguna mengubah gambar atau video sesuai dengan keinginan mereka. Filter gambar bergaya animasi adalah sebuah teknik pengolahan gambar yang mengubah foto asli menjadi tampak seperti karya animasi, kartun, atau ilustrasi digital. Filter ini bekerja dengan mendeteksi bentuk, warna, dan tekstur dari objek dalam gambar, lalu mengolahnya sehingga terlihat seperti gaya tertentu misalnya seperti animasi Studio Ghibli, karakter anime, kartun 3D, atau lukisan bergaya ilustratif.

Sederhananya, filter ini seperti “menyulap” gambar nyata menjadi dunia imajinasi. Sebuah foto biasa bisa berubah menjadi potongan adegan film animasi, lengkap dengan warna-warna lembut, garis tegas, atau efek khas yang membuatnya terasa hidup dan penuh karakter.

Filter semacam ini sering digunakan untuk memberi kesan unik, mempercantik karya visual, atau sekadar bersenang-senang di media sosial. Selain itu, filter bergaya animasi juga membuka ruang kreativitas, karena membuat siapa saja bisa “masuk” ke dalam dunia seni tanpa harus menggambar dari awal.

Dalam laporan lain dari Interactive Advertising Bureau (IAB) bersama Sonata Insights, ditemukan bahwa lebih dari 50% Gen Z lebih tertarik pada konten visual atau iklan yang dibuat dengan bantuan AI, terutama yang menghadirkan kualitas grafis tinggi dan inovatif. Ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya digunakan sebagai alat kreatif pribadi, tetapi juga membentuk preferensi visual Gen Z terhadap konten yang mereka konsumsi.

Selain itu, data dari Google Workspace menunjukkan bahwa 93% pekerja Gen Z yang berusia 22–27 tahun menggunakan minimal dua alat AI generatif setiap minggu, seperti ChatGPT, Gemini, atau Perplexity. Alat-alat ini tidak hanya membantu dalam pembuatan dokumen atau brainstorming ide, tetapi juga dalam menghasilkan visual kreatif, seperti desain grafis, konsep ilustrasi, hingga konten media sosial

Selain itu keresahan masyarakat tentang penyalahgunaan AI dengan membuat video palsu tentang gempa di Thailand menggunakan AI juga merupakan tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Gempa bumi adalah bencana serius yang bisa menghancurkan banyak nyawa dan merusak kehidupan masyarakat. Ketika ada video palsu yang menggambarkan seolah-olah terjadi gempa besar, itu bukan hanya menyesatkan, tapi juga mempermainkan penderitaan orang lain.

Video palsu seperti ini dapat memicu ketakutan massal, menyebarkan berita bohong, dan memperkeruh suasana, terutama bagi keluarga korban dan masyarakat Thailand yang sedang waspada. Mereka bisa jadi cemas dan panik tanpa alasan yang sebenarnya. Bahkan, pemerintah dan tim penyelamat bisa terganggu karena harus menangani kepanikan yang tidak perlu.

Di balik kemudahan dan daya tarik yang ditawarkan, penggunaan gambar buatan AI juga menuai kritik lainnya. Banyak yang berpendapat bahwa karya yang dihasilkan mesin cenderung kehilangan “jiwa” yang hanya bisa dihadirkan melalui sentuhan tangan seniman sesungguhnya. Proses kreatif manusia melibatkan emosi, pengalaman, dan interpretasi personal yang tidak bisa sepenuhnya ditiru oleh algoritma. Karya seni yang diciptakan dengan ketulusan dan pergulatan batin memiliki nilai yang jauh lebih dalam dibandingkan hasil instan dari program komputer. Oleh karena itu, meskipun teknologi AI menawarkan inovasi, apresiasi terhadap karya seni murni buatan manusia tetap tidak bisa tergantikan.

Salah satu akun di platform TikTok, akun dengan username @lian turut mengemukakan pandangan yang dianggap cukup penting.

“Sekedar meluruskan disinformasi yang ramai terjadi belakangan soal Chat GPT Generated Image:
1. Hayao Miyazaki belum menyampaikan pendapat ke publik terkait Open AI & Ghibli Style, statemen “AI = Insult to life.” itu dia keluarkan beberapa tahun lalu (2016) saat melihat timnya presentasi AI dengan preview animasi yg sangat creepy yg dia tolak mentah-mentah.
2. Surat peringatan/somasi dari Ghibli yg viral beredar di internet adalah fake. Surat ini disangkal secara official oleh Ghibli.
3. Ghibli secara official belum menuntut open AI atas fenomena yang sedang berlangsung, semua masih pada level menebak-nebak, perhatikan penggunaan kata “could.”
4. Jepang & Singapura memperbolehkan konten yang memiliki copyright sekalipun untuk dijadikan bahan learning oleh AI, meski ada juga sebagian kelompok yang menentang.

Kalau saya objektif saja:
1. Gaya gambar itu tidak bisa dilindungi copyright, seperti halnya Jepang gak akan pernah bisa menggugat China & Korsel (Manhwa) karena mirip dengan style Manga, Ghibli harusnya paham betul dan memilih belum mengambil tindakan, apalagi negaranya melegalkan AI untuk menggunakan aset bercopyright sebagai proses learning.
2. Daripada ke copyright, masalahnya lebih condong ke moral value, seni vs mass production seperti era revolusi industri sebelumnya.”

Dari opini yang disampaikan nama pengguna @lian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perdebatan seputar penggunaan AI dalam dunia seni tidak hanya berhenti pada masalah hak cipta, tetapi lebih dalam lagi menyentuh persoalan nilai moral dan etika seni itu sendiri. Perkembangan AI memang membawa kemudahan, namun juga menantang prinsip-prinsip keaslian, apresiasi, dan penghormatan terhadap karya seni yang dibuat dengan proses kreatif manusia

Meskipun teknologi filter berbasis AI telah mendorong lahirnya banyak trend visual baru di media sosial, penting untuk tetap menghargai karya seni yang lahir dari kreativitas, teknik, dan sensitivitas seniman. Inovasi harus berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap proses artistik yang otentik.

Dengan demikian, dalam dunia kreatif yang terus berkembang, kolaborasi antara teknologi dan nilai-nilai seni tradisional menjadi kunci untuk menciptakan karya yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menyentuh jiwa.

Redaktur: Alicia Reylina

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.