
Oleh: Nikolas Supriyanto
Suara USU, Medan. Malam ini, seekor burung gagak kembali bertengger di ujung jalan, di dahan pohon yang sudah renta oleh waktu. Sayapnya yang hitam pekat seperti kegelapan yang enggan menepi, membentang di atas kampung kami yang kini tak lagi utuh. Ia datang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pertanda penyambung pesan yang hanya bisa dibaca oleh jiwa-jiwa yang paham arti kehilangan.
Sudah dua puluh tahun berlalu, namun nyanyiannya tetap sama. Serak, dingin, menggema dalam ruang kosong yang dulu bernama rumah. Ia tidak datang untuk menakut-nakuti. Ia datang untuk mengingatkan. Dan malam ini, ketika angin menusuk seperti tusukan jarum, aku kembali teringat pada luka yang belum juga sembuh, luka yang tak hanya mengoyak tanah, tapi juga menyayat harga diri.
“Kita harus melawan! Tak ada cara lain!” teriak seorang lelaki muda dengan dada bergemuruh. Suaranya memecah siang, menyentak jiwa-jiwa yang duduk resah di balai desa. “Mereka datang bukan untuk berdialog, mereka datang untuk merampas! Hanya karena kita hidup di desa, mereka anggap kita tak tahu apa-apa. Lebih baik mereka lenyap sekalian!”
Ia berdiri tegak, tapi matanya bergetar. Urat-urat di lehernya seperti tambang yang menahan beban amarah bertahun-tahun. Matahari siang memang terik, tapi panas di dadanya lebih membakar dari bara.
“Tenanglah, Nak. Amarahmu benar, tapi jangan sampai membutakanmu,” suara itu keluar dari seorang perempuan tua. Wajahnya keriput namun sorot matanya tajam seperti mata air yang tahu kapan harus tenang dan kapan harus mengalir. “Mereka punya kertas yang mereka sebut sertifikat. Kita hanya punya tanah ini dan kenangan di atasnya.”
“Namboru… aku hampir mati. Hanya karena aku memanen apa yang ditanam oleh ayahku, oleh kakekku. Salahkah aku? Salahkah aku menuntut apa yang diwariskan darahku sendiri?” Suaranya bergetar. Di ujung matanya, air mata menggantung, menunggu waktu yang tepat untuk jatuh. Menatap warga desa yang hanya bisa terduduk diam membisu.
Aku masih mengingat hari itu, di bawah matahari yang menggila, kami berdiri. Teriakan bertalu-talu di udara, bercampur dengan debu yang beterbangan dan suara mesin buldoser yang menggeram seperti binatang lapar. Mesin itu mendekat, mencabik batas-batas yang dulu dibuat dengan sumpah dan janji. Batas yang ditunjukkan oleh ayahku saat aku belum cukup tinggi untuk menggapai bahunya.
“Dari sini, Nak,” katanya dulu. “Sampai ke sana, itulah tanah kita. Tanah yang kami lindungi dengan keringat dan doa.”
Kini tanah itu digilas seperti tak punya arti. Tanah tempat aku belajar berjalan, menangis, dan bercocok tanam kini dianggap sebagai lahan kosong, lahan mati yang harus dihidupkan ulang oleh mereka yang datang dengan jas dan rencana. Tapi mereka lupa, kami tak butuh dibangunkan dari hidup kami sendiri.
Tanah kami tidak diam. Ia merekam jejak. Ia menyimpan roh nenek moyang kami, doa-doa yang tertanam bersama benih, dan nyanyian pagi saat embun masih malu-malu.
Namun, orang-orang itu datang dengan mata yang tak melihat, telinga yang tak mendengar, dan hati yang sudah lama membatu. Mereka datang membawa lembaran kertas yang bagi mereka adalah kebenaran, dan bagi kami adalah kutukan.
Kami mencoba bicara. Kami mengundang mereka duduk bersama, seperti adat kami yang mengajarkan bahwa setiap masalah bisa selesai jika manusia mau saling mendengar. Tapi mereka lebih suka berbicara tentang “izin”, “investasi”, “pembangunan”. Kata-kata yang asing bagi kami, dan menyakitkan ketika akhirnya mereka paksa masuk ke dalam hidup kami.
Mereka bilang tanah ini milik negara. Tapi apakah negara tahu bahwa di tanah ini, kami menanam bukan sekadar makanan, tapi harapan?
Pernah suatu waktu, anak-anak muda desa kami tak mampu lagi menahan amarah. Mereka berdiri di hadapan orang-orang itu, dengan dada terbuka dan wajah penuh luka. Tangan-tangan yang biasa memegang cangkul kini menggenggam batu. Tapi, seperti kisah lama yang terus terulang, kami kalah. Kalah karena kami tak punya kuasa, tak punya kertas, dan tak punya suara.
Dan kekalahan itu bukan hanya berarti kehilangan lahan, tapi kehilangan martabat. Kami menangis. Tapi tangis kami tak terdengar. Kami marah. Tapi amarah kami tak diindahkan. Lalu kami diam. Dan diam kami pun dianggap setuju.
Hari demi hari, tanah kami makin mengecil. Udara yang dulu sejuk kini penuh dengan debu. Sungai yang dulu jernih kini tercemar. Anak-anak yang dulu berlari riang di pematang sawah kini hanya bisa menatap dari kejauhan, bertanya kenapa dunia tiba-tiba mengecil dan mengepung.
Aku mulai mengerti, bahwa melawan tak hanya soal otot dan suara. Melawan juga berarti menjaga yang tersisa, menyelamatkan yang belum sempat dicuri, dan merawat ingatan agar tidak lenyap begitu saja.
“Tanaman yang kami tanam ini lebih bernilai,” kata mereka suatu hari. “Pasar lebih butuh tanaman kami. Ini untuk kepentingan bangsa.”
Bangsa? Apakah bangsa itu berarti kami harus menyingkir? Apakah bangsa itu berarti kami harus merelakan pohon-pohon kami tumbang, hanya agar kalian bisa menanam sesuatu yang tak kami kenal? Apakah bangsa itu berarti kalian boleh menindas agar kalian bisa berkembang?
Kami muak. Kami lelah. Kami bosan menjadi bahan tertawaan, dianggap sebagai penghalang kemajuan. Padahal kami tak pernah menolak perubahan. Kami hanya ingin diajak bicara, bukan digilas.
Sore ini, aku kembali ke ladang. Haminjon yang ku sadap tak lagi banyak, tapi setiap tetesnya seolah berkata “Kami masih di sini.” Getahnya pekat, menggumpal, menyimpan aroma waktu dan penderitaan.
Aku menjemurnya. Lalu saat senja mulai menelan matahari, aku dan Opung berjalan ke tempat sembahyang. Di sana, kami membakar haminjon yang sudah mengering. Asapnya mengepul pelan, naik ke langit, menyatu dengan warna oranye yang perlahan berubah jadi kelam.
Kami berdoa. Dengan kata-kata yang tak perlu diucapkan keras-keras. Doa yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sudah terlalu sering kehilangan.
Aroma haminjon menyelimuti udara. Harum dan getir, seperti kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan tapi terlalu pahit untuk dikenang. Dalam diam, aku memejamkan mata, berharap bahwa doa-doa kami sampai pada Ompu Mulajadi Nabolon.
Semoga Ia masih sudi mendengar. Semoga tanah ini masih diberkati. Semoga kami masih diberi kekuatan untuk bertahan.
Malam ini, burung gagak itu masih di sana. Tapi kali ini aku tak gentar. Biarlah ia menjadi pengingat. Bahwa kami pernah melawan. Bahwa kami pernah mencintai tanah ini lebih dari kami mencintai hidup kami sendiri. Dan jika esok pagi ia masih ada di sana, akan ku bisikkan satu pesan. “Kami belum menyerah. Kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali berdiri.”
Karena tanah ini bukan sekadar ruang berpijak, ia adalah nadi, darah, dan napas kami. Di setiap pohon yang tumbang, ada nama leluhur yang ikut rebah. Di setiap jejak kaki yang menghilang, ada kisah yang terhapus paksa. Maka selama haminjon masih bisa menguarkan harumnya ke langit, selama doa-doa masih bisa kami bisikkan dalam sunyi, kami akan terus menanam harapan, walau harus di ladang yang makin sempit, di hati yang makin luka.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment