
Oleh : Siti Aisyah
Suara USU, Medan. Dalam masyarakat yang sejak awal menilai perempuan berdasarkan seberapa baik mereka diam, patuh, dan mampu menahan penderitaan, Firdaus lahir bukan sebagai sosok yang luar biasa. Ia hanya dianggap sebagai bagian dari angka-angka statistik perempuan yang terlupakan. “Perempuan di Titik Nol” oleh Nawal El Saadawi bukan hanya sekedar cerita tentang seorang narapidana wanita yang menanti hukuman mati. Buku ini juga memberikan gambaran mendalam mengenai bagaimana dunia dapat merusak kehidupan seorang perempuan, tanpa memandang kesalahan yang dilakukannya. Namun, ini adalah gambaran jelas mengenai bagaimana dunia dapat menghancurkan seorang wanita, bukan karena kesalahannya melainkan karena keberaniannya memilih untuk hidup sesuai dengan keinginannya sendiri.
Firdaus tidak dilahirkan dengan keistimewaan apa pun. Ia tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan, di mana anak perempuan dianggap sebagai beban. Pengalaman masa kecilnya dipenuhi dengan luka emosional yang belum sempat disembuhkan, lukanya mungkin tidak terlihat secara fisik, tetapi telah menghancurkan kepercayaan dirinya sejak kecil. Dalam pandangan masyarakat, dia selalu dianggap tidak layak untuk diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, tapi cukup penting untuk diatur, diatur oleh agama, adat, dan laki-laki.
Yang membedakan kisah ini adalah perjalanan Firdaus yang berubah dari sosok yang patuh menjadi seseorang yang kritis. Ia pernah berusaha untuk berbuat baik, dan sempat percaya akan pentingnya pendidikan, cinta, pernikahan, serta kerja keras. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa meskipun ada usaha yang keras, menjadi seorang perempuan sering kali diartikan menjadi perempuan sudah kalah sejak awal. Seperti yang tuliskan dalam novel ini, “Kalau laki-laki selalu salah dalam tindakannya, kalau perempuan sudah salah saat dilahirkan.” Sebuah ungkapan yang menyakitkan, tetapi memberikan dasar bagi cara sistem sosial menilai gender.
Firdaus akhirnya menikah, tetapi bukan karena cinta melainkan karena desakan. Pernikahan tersebut menjadi tempat baru untuk mengalami penderitaan yang sah sesuai norma. Ia menggambarkan pernikahan sebagai “lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk wanita” dalam satu kalimat itu, Nawal El Saadawi mengungkapkan lapisan kepura-puraan yang menyelimuti lembaga-lembaga yang dianggap suci. Nyatanya dalam kisah Firdaus, pernikahan bukan ruang aman, melainkan sebuah tempat di mana wanita diajari untuk menanggung penderitaan dalam kesunyian.
Dalam perjalanan hidup yang terus menekannya, Firdaus memilih untuk menjadi seorang pekerja seks. Bagi banyak orang, ini dianggap sebagai titik terendah dalam hidup. Namun, bagi Firdaus ini adalah satu-satunya kesempatan di mana ia bisa merasakan kontrol atas dirinya sendiri. Dunia yang seharusnya memberikan perlindungan justru sering kali menyakiti. Dunia yang mengutuk pelacur adalah dunia yang terus menerus membiarkan kekerasan dalam rumah tangga. Ia menyadari bahwa apa yang membuatnya memiliki nilai bukanlah status atau norma, melainkan pilihan untuk mengatur nilai dirinya sendiri.
“Lelaki tidak tahu nilai seorang perempuan, Firdaus. Perempuan itulah yang menentukan nilai dirinya.”
Namun, dunia patriarki tidak pernah mengizinkan perempuan merasakan kebebasan dalam jangka waktu yang lama. Saat Firdaus berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan para lelaki, seorang germo berusaha untuk menjatuhkannya lagi. Kali ini ia memutuskan untuk melawannya. Ia membunuh. Sebuah keputusan yang mengantarkannya pada hukuman mati. Tapi hal itu tidak membuatnya gentar bukan karena tidak takut mati, melainkan karena ia sadar bahwa diam di bawah penindasan lebih menyakitkan daripada mati karena melawan.
“Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan.”
Dalam satu pernyataan yang sangat menggugah dalam novel ini “Setiap orang harus mati. Saya akan mati dan kamu akan mati. Dan yang penting ialah bagaimana hidup sampai mati.” Kalimat itu tidak hanya mencerminkan eksistensi, tetapi juga esensi dari perjuangan Firdaus. Dia meyakini bahwa nilai seseorang bukan diukur oleh cara mereka berakhir dalam hidup, melainkan pilihan yang mereka buat dalam menjalani hidupnya. Dirinya tidak ingin mati sebagai korban, tetapi sebagai seseorang yang berani menolak menjadi bagian dari sistem yang menindasnya.
Ia menolak anggapan bahwa perempuan selalu memerlukan pertolongan. Ia mengkritik para lelaki yang berpura-pura peduli, datang seolah ingin membantu, tetapi sebenarnya hanya berusaha mengembalikan perempuan dalam kendali yang lain.
“Lelaki yang saya benci ialah mereka yang berusaha menasihati atau berkata pada saya bahwa mereka ingin menyelamatkan saya dari kehidupan yang saya jalani”
Firdaus merupakan sosok yang tak pernah menyerah, meskipun semua alasan untuk bertahan telah diambil darinya. Ia menjalani hidup dengan semangat yang lebih kuat daripada kehidupan itu sendiri. “Kau harus lebih keras dari hidup itu. Hidup itu amat keras. Yang hanya hidup ialah orang-orang yang lebih keras dari hidup itu sendiri.”
Firdaus bukanlah seseorang yang ditempa untuk menjadi pahlawan, tetapi ia melambangkan perjuangan seorang perempuan yang mampu bangkit dari kondisi terendah, bahkan dari tempat yang dianggap “nol”. Buku ini tidak mengabaikan penderitaan, juta tidak mengagungkan kekerasan. Sebaliknya, membuka luka-luka yang disimpan banyak perempuan di balik penampilan sehari-hari mereka. Ini adalah suara dari wanita-wanita yang sering kali terabaikan, bahkan sering dibungkam.
Perempuan di Titik Nol bukan sekedar kisah tentang seorang wanita, melainkan juga tentang sistem yang ada. Ini menggambarkan betapa terbatasnya ruang bagi perempuan untuk merenung, membuat pilihan, dan mengatur hidunya sendiri. Ketika sebuah suara berani terdengar dari dalam penjara, di ruang eksekusi, suaranya menjadi perwakilan bagi ribuan wanita lain yang juga terkurung dan yang mungkin tidak terlihat namun ada.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment