
Oleh: Emmi Simatupang
Suara USU, Medan. Noam Chomsky, intelektual asal Amerika Serikat, menyingkap wajah asli politik, ekonomi, dan media global lewat bukunya How the World Works. Diterbitkan pada 2011, buku ini menggambarkan bagaimana kekuasaan bekerja di balik retorika demokrasi dan kemanusiaan, serta bagaimana rakyat kecil kerap menjadi korban kebijakan yang berpihak pada elite.
Karya ini merangkum empat buku Chomsky sebelumnya: What Uncle Sam Really Wants, The Prosperous Few and the Restless Many, Secrets, Lies and Democracy, serta The Common Good. Melalui gabungan keempatnya, Chomsky membangun narasi menyeluruh tentang strategi politik luar negeri Amerika Serikat, peran media massa, dan sistem ekonomi global yang memperlebar kesenjangan sosial.
Fokus utama buku ini adalah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kerap dibungkus dengan slogan demokrasi dan kebebasan. Chomsky menegaskan bahwa di balik intervensi di Amerika Latin hingga dukungan terhadap rezim otoriter di Asia dan Timur Tengah, terdapat kepentingan besar untuk memperkuat posisi korporasi dan elite politik domestik. Menurutnya, kampanye melawan komunisme di masa Perang Dingin bukan semata-mata persoalan ideologi, melainkan upaya mengamankan sumber daya alam dan pasar dunia.
Baginya, istilah “penyebaran demokrasi” hanyalah legitimasi untuk intervensi. Amerika Serikat bukan polisi dunia yang netral, melainkan aktor utama dalam mempertahankan struktur ketidakadilan global.
Selain kebijakan luar negeri, Chomsky menyoroti peran media arus utama yang menurutnya tidak sepenuhnya independen. Media justru sering menjadi alat penguasa untuk memperkuat narasi politik dan ekonomi yang menguntungkan kelompok elite. Publik menerima informasi yang telah diseleksi dan diformat agar mendukung kebijakan tertentu.
Kecenderungan itu tampak jelas dalam pemberitaan perang, di mana media lebih sering menyoroti versi resmi pemerintah ketimbang penderitaan korban di negara yang diserang. Akibatnya, masyarakat Amerika percaya bahwa negaranya selalu berada di pihak benar. Chomsky menyebut hal ini sebagai bentuk propaganda halus yang secara perlahan membentuk opini publik.
Buku ini juga mengurai ketimpangan global. Menurut Chomsky, globalisasi yang disebut-sebut sebagai jalan menuju kemajuan justru menguntungkan segelintir orang di negara maju. Lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia, tulisnya, memperkuat ketimpangan dengan pinjaman dan program penyesuaian struktural yang membuat negara berkembang semakin bergantung. Negara-negara itu dipaksa menyesuaikan kebijakan ekonominya dengan kepentingan pemodal asing.
Fenomena ini dirangkum Chomsky dalam istilah the prosperous few and the restless many—segelintir orang kaya yang hidup di atas penderitaan miliaran manusia lainnya.
Meski sarat kritik, How the World Works tidak sepenuhnya pesimis. Dalam bagian yang diadaptasi dari The Common Good, Chomsky menekankan pentingnya solidaritas dan partisipasi masyarakat. Demokrasi sejati, katanya, hanya dapat tumbuh bila rakyat berani menantang struktur kekuasaan yang menindas.
Kebaikan bersama tidak lahir dari kebijakan elite, melainkan dari gerakan kolektif rakyat yang sadar akan hak dan tanggung jawabnya. Ia mendorong pembaca untuk tidak berhenti pada kritik, tetapi juga mengambil tindakan nyata melalui partisipasi politik, keterlibatan sosial, dan keberanian mengungkap kebohongan.
Lebih dari satu dekade setelah terbit, isi buku ini tetap relevan. Di era media sosial, propaganda tidak lagi datang hanya dari televisi atau surat kabar, tetapi juga dari algoritma digital yang menentukan informasi yang dilihat setiap hari. Disinformasi meluas, polarisasi politik meningkat, dan konflik global memperlihatkan bahwa analisis Chomsky masih bertahan menghadapi waktu.
Bahkan isu krisis iklim dapat dibaca melalui kacamata Chomsky: di balik kebijakan yang tampak ramah lingkungan, sering tersembunyi kepentingan korporasi besar yang ingin mempertahankan keuntungan.
Di Indonesia, pemikiran Chomsky banyak dirujuk oleh akademisi, jurnalis, dan aktivis. Isu kepemilikan media yang terhubung dengan elite politik, bias pemberitaan, serta kebijakan pembangunan yang menguntungkan investor besar dibanding masyarakat lokal, semuanya dapat dipahami melalui kerangka pemikiran dalam How the World Works.
Buku ini menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan hanya tentang pemilu, melainkan juga tentang distribusi informasi, akses terhadap keadilan, dan kesejahteraan rakyat banyak.
Membaca How the World Works bisa menimbulkan dilema emosional. Di satu sisi, pembaca bisa merasa putus asa saat melihat kuatnya jaringan kekuasaan global. Namun di sisi lain, Chomsky menyalakan api optimisme: perubahan mungkin terjadi bila masyarakat memiliki kesadaran kritis.
Gaya penulisan Chomsky yang lugas membuat isu berat seperti geopolitik dan ekonomi global tetap mudah dipahami. Ia menggunakan contoh konkret dan bahasa sederhana tanpa mengurangi kedalaman analisis. Karena itu, How the World Works relevan dibaca bukan hanya oleh akademisi, tetapi juga masyarakat umum yang ingin memahami bagaimana dunia bekerja di balik retorika politik dan arus berita harian.
Dengan perpaduan analisis kritis, fakta sejarah, dan ajakan moral, buku ini tidak hanya merekam pemikiran Chomsky, tetapi juga menjadi seruan untuk berpikir kritis, mempertanyakan narasi resmi, dan berani keluar dari zona nyaman demi dunia yang lebih adil.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment