
Oleh: Aufi Az Zahra, Joyce Belandina Tandayu, Mona Simbolon, Chesia Agitia Tarigan, Atifa Arfa Nabila, Nabila Putri Ramadhani, Ronaldino Saut Manik, Chayla Kusuma Dewi SetiawanÂ
Suara USU, Medan. Seperti yang kita ketahui saat ini, media sosial bukan lagi sekadar platform untuk berbagi momen atau hiburan semata. Instagram dan TikTok telah bertransformasi menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk membangun identitas digital dan personal branding yang dapat mendukung pengembangan karier profesional mereka di masa depan. Hal yang perlu dianalisis adalah bagaimana mahasiswa USU membangun konstruksi identitas digital mereka di Instagram dan TikTok, serta apa dampaknya terhadap kehidupan akademik dan persiapan profesional mereka.Â
 Berdasarkan pengamatan yang diperoleh dari penelitian terhadap 83 mahasiswa aktif dari 16 fakultas di USU, maka ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa secara aktif dan strategis membangun identitas digital mereka dengan pertimbangan yang matang. Data menunjukkan 54,2% mahasiswa memilih Instagram sebagai platform utama untuk membangun personal brand, sementara 42,2% menggunakan kombinasi Instagram dan TikTok, dan 3,6% fokus di TikTok. Pemilihan platform ini bukan tanpa alasan, dimana 57,8% responden menyebut kenyamanan dan fitur platform sebagai pertimbangan utama. Instagram dengan format visual yang terstruktur menjadi portofolio digital untuk menampilkan prestasi akademik, dokumentasi kegiatan organisasi, dan karya kreatif dengan presentasi profesional. Sementara TikTok dengan format video pendeknya menawarkan cara yang lebih dinamis untuk mengekspresikan ide dan keterampilan. Sebanyak 66,3% mahasiswa memposting konten akademik secara berkala, menunjukkan integrasi identitas akademik ke dalam kehadiran digital mereka.Â
 Motivasi mahasiswa dalam membangun identitas digital ternyata jauh lebih strategis dari sekadar mencari popularitas. Platform ekspresi alternatif menjadi motivasi tertinggi dengan skor 3,88 dari 5, dimana media sosial memberi ruang untuk menyampaikan ide dan kreativitas di luar batasan formal ruang kuliah. Membangun jejaring profesional menempati urutan kedua dengan skor 3,77, menunjukkan pemahaman bahwa koneksi hari ini membuka peluang masa depan untuk terhubung dengan alumni, profesional industri, dan komunitas relevan. Persiapan portofolio digital dengan skor 3,71 juga menjadi pertimbangan penting, mengingat banyak perusahaan kini melakukan screening kandidat melalui media sosial, sehingga mahasiswa membangun jejak digital positif sejak dini (Labrecque et al., 2011). Â
 Dampak positif dari aktivitas membangun identitas digital sangat terukur. Mahasiswa melaporkan kehadiran digital mereka membantu memperluas relasi di kampus dengan skor 4,04 sebagai skor tertinggi dari semua indikator. Mereka lebih mudah terhubung dengan dosen, senior, dan teman dari berbagai fakultas yang membuka peluang kolaborasi dan pertukaran informasi. Kepercayaan diri mahasiswa juga meningkat signifikan dengan skor 3,96, dimana apresiasi positif terhadap konten memberikan validasi sosial yang menguatkan keyakinan diri. Beberapa mahasiswa bahkan merasakan dampak langsung pada peluang profesional seperti tawaran magang atau proyek kolaboratif. Yang menggembirakan adalah mahasiswa USU mampu menjaga keseimbangan, dimana tekanan mempertahankan konsistensi identitas digital hanya berada di tingkat sedang dengan skor 2,89, dan aktivitas ini tidak mengganggu fokus akademik dengan skor 2,24 dalam kategori rendah (Marwick, 2013).Â
 Temuan penting lainnya adalah 85,5% mahasiswa mengakui lingkungan kampus termasuk teman sejawat, dosen, dan kegiatan akademik memengaruhi konten yang mereka buat. Ini menunjukkan identitas digital mahasiswa tidak terbentuk dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi oleh ekosistem pendidikan tempat mereka berada. Sebanyak 66,3% mahasiswa merasa kampus dan Unit Kegiatan Mahasiswa telah memberikan wadah untuk kreativitas mereka, namun 33,7% masih bersikap netral yang mengindikasikan ruang untuk peningkatan. Yang paling signifikan adalah 96,4% responden menganggap penting adanya program literasi digital dari perguruan tinggi, bukan sebagai kontrol atau pembatasan, melainkan keinginan mendapat bimbingan dalam mengelola identitas digital secara etis dan strategis (Dabbagh & Kitsantas, 2012). Â
Berdasarkan temuan ini, terdapat beberapa rekomendasi strategis yang perlu dipertimbangkan. Pertama, program literasi digital dapat diintegrasikan dalam kegiatan pengembangan soft skills mahasiswa melalui workshop tentang personal branding, etika digital, dan manajemen reputasi online sebagai nilai tambah dalam persiapan memasuki dunia profesional. Kedua, mentoring dari alumni dan profesional yang sukses membangun karier dari personal brand mereka dapat memberikan inspirasi dan panduan praktis tentang bagaimana identitas digital berperan dalam perjalanan karier. Ketiga, platform showcasing kampus dapat menjadi wadah untuk mempublikasikan karya, prestasi, dan aktivitas mahasiswa yang tidak hanya mendukung personal branding mahasiswa tetapi juga memperkuat citra kolektif USU. Keempat, program apresiasi seperti kompetisi konten kreatif atau ambassador kampus dapat menjadi sarana mengapresiasi mahasiswa yang aktif dan kreatif dalam membangun identitas digital positif. Â
 Penelitian ini memberikan pembelajaran penting bahwa mahasiswa generasi saat ini memiliki kesadaran baik tentang pentingnya identitas digital untuk masa depan dan tidak sekadar menggunakan media sosial secara reaktif tetapi memiliki strategi dan tujuan jelas. Mahasiswa mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan tanggung jawab akademik yang menunjukkan kedewasaan dalam mengelola prioritas. Ada keinginan kuat dari mahasiswa untuk mendapat bimbingan dalam mengembangkan keterampilan digital sebagai sinyal positif bahwa mereka terbuka untuk belajar dan berkembang. Lingkungan kampus memiliki pengaruh signifikan terhadap bagaimana mahasiswa membangun identitas digital yang membuka peluang kolaborasi produktif antara institusi dan mahasiswa.Â
 Di era digital ini, kemampuan mengelola identitas online menjadi keterampilan yang semakin penting. Mahasiswa USU telah menunjukkan inisiatif positif dalam membangun kehadiran digital yang strategis dan bermakna, tidak hanya mengikuti tren tetapi membangun fondasi untuk masa depan profesional mereka. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi aktif antara mahasiswa, fakultas, dan universitas untuk mengembangkan ekosistem digital yang mendukung. Universitas perlu mengambil langkah proaktif dalam menyediakan program literasi digital yang komprehensif, tidak sebagai bentuk kontrol tetapi sebagai fasilitasi untuk membantu mahasiswa mengoptimalkan potensi platform digital sambil tetap menjaga etika dan profesionalisme. Mari kita bersama-sama membangun generasi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga bijak secara digital, karena identitas digital yang kita bangun hari ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih cerah. Â
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment