
Oleh: Kevin hutagalung, Bagus Satriana, Johanes Samuel Partono, Binenta tampubolon, M.Irsyad Mubarakna, Madinatuz Zahra, Wahyu Hertanto, Muhammad Azizih
Suara USU, Medan. Perkembangan teknologi digital membawa dampak besar terhadap kehidupan manusia, khususnya generasi muda. Media sosial kini menjadi ruang utama bagi ekspresi diri, namun sekaligus menjadi sumber tekanan sosial. Standar kecantikan yang sempit dan sering kali tidak realistis, seperti tubuh langsing, kulit putih, dan wajah sempurna menimbulkan perbandingan sosial yang berlebihan. Akibatnya, banyak remaja dan mahasiswa merasa tidak puas terhadap dirinya sendiri dan mengalami penurunan self confidence atau kepercayaan diri.
Fenomena ini tidak hanya menjadi isu psikologis, tetapi juga menyangkut persoalan karakter dan moral. Di tengah derasnya arus digitalisasi, nilai-nilai Pancasila dapat menjadi fondasi moral yang kuat untuk menumbuhkan cara pandang yang sehat, inklusif, dan berkepribadian dalam menghadapi tekanan sosial dari media digital.
Body image adalah cara seseorang memandang dan menilai bentuk tubuhnya sendiri, yang terdiri dari empat aspek utama: persepsi (bagaimana ia melihat tubuhnya), kognisi (pikiran tentang tubuh), afeksi (perasaan terhadap tubuh), dan perilaku (cara memperlakukan tubuhnya). Media sosial dan lingkungan sosial menjadi faktor besar yang memengaruhi pembentukan citra tubuh.
Banyak remaja yang mengalami body dissatisfaction atau ketidakpuasan terhadap tubuh, yang dapat menimbulkan rasa cemas, stres, hingga gangguan makan. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan figur ideal di media sosial, kepercayaan diri pun menurun, dan individu cenderung merasa tidak berharga.
Self confidence atau kepercayaan diri merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan dan nilai dirinya. Individu dengan tingkat kepercayaan diri tinggi mampu beradaptasi, mengambil keputusan, serta mengekspresikan potensi dirinya secara optimal. Sebaliknya, mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah cenderung merasa takut dinilai, enggan mencoba hal baru, dan mudah terpengaruh oleh opini orang lain.
Media sosial sering memperburuk kondisi ini melalui social comparison theory — teori yang menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Dalam konteks digital, hal ini diperkuat oleh “likes”, komentar, dan umpan balik visual yang sering kali tidak mencerminkan kenyataan.
Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia memiliki lima sila yang masing-masing dapat menjadi solusi atas permasalahan psikologis di era digital:
- Ketuhanan Yang Maha Esa – Mengajarkan rasa syukur dan penerimaan diri sebagai ciptaan Tuhan yang unik.
- Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – Menghargai martabat manusia tanpa membeda- bedakan fisik atau penampilan.
- Persatuan Indonesia – Menumbuhkan solidaritas, kebersamaan, dan semangat untuk saling mendukung, bukan membandingkan diri.
- Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan – Menanamkan sikap saling menghargai pendapat dan empati terhadap sesama.
- Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia – Menegaskan bahwa setiap orang berhak berkembang tanpa harus mengikuti standar kecantikan tertentu.
Melalui internalisasi nilai-nilai ini, mahasiswa dapat membangun self acceptance (penerimaan diri) dan self respect (penghargaan terhadap diri sendiri). Pancasila berfungsi bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai panduan etika dalam menjaga kesehatan mental di era digital.
Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner terhadap mahasiswa di Universitas Sumatera Utara dan kampus lain di Medan, ditemukan bahwa:
- 100% responden pernah merasa tidak percaya diri dengan
- 77,8% responden menilai media sosial memberi pengaruh besar terhadap citra
- 100% responden percaya bahwa nilai-nilai Pancasila dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri dan penerimaan diri.
- Mayoritas menilai pendidikan Pancasila sangat penting dalam menanamkan sikap menghargai diri sendiri dan orang lain.
Responden juga menyampaikan bahwa Pancasila menumbuhkan sikap menerima diri apa adanya, menghargai perbedaan, dan memandang tubuh sebagai anugerah Tuhan yang tidak harus disesuaikan dengan standar kecantikan yang sempit.
Temuan penelitian memperkuat dugaan bahwa media sosial berperan besar dalam pembentukan persepsi tubuh yang negatif. Namun demikian, nilai-nilai Pancasila terbukti relevan sebagai dasar moral untuk membangun ketahanan psikologis. Internalisasi sila-sila Pancasila membantu remaja bersikap lebih toleran terhadap perbedaan, menghormati keberagaman, serta membentuk karakter yang kuat dan percaya diri.
Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis Pancasila menjadi solusi konkret dalam menghadapi tantangan psikologis era digital.
Kesimpulan
Masalah body image dan self confidence adalah tantangan nyata bagi generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi. Media sosial telah membentuk standar kecantikan yang sempit dan sering kali tidak realistis, namun Pancasila hadir sebagai pedoman hidup yang mampu menyeimbangkan pengaruh negatif tersebut. Nilai-nilai Kemanusiaan, Persatuan, dan Keadilan Sosial menjadi kunci dalam membangun rasa percaya diri, penerimaan diri, dan pandangan hidup yang positif.
Saran
- Mahasiswa: Bijak menggunakan media sosial dan terapkan nilai Pancasila dalam menghargai diri sendiri serta orang lain.
- Keluarga: Tanamkan nilai agama dan Pancasila sejak dini untuk membentuk anak yang percaya diri.
- Teman Sebaya: Ciptakan lingkungan pertemanan yang suportif dan tidak menilai berdasarkan penampilan.
- Lembaga Pendidikan: Integrasikan nilai Pancasila dalam kegiatan kampus dan program kesehatan mental.
- Masyarakat Umum: Bangun budaya sosial yang inklusif agar generasi muda memiliki citra tubuh positif dan mental yang sehat.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.,
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment