Home Tulisan Perilaku Mahasiswa Medan terhadap Shopee Live dan TikTok Shop dalam Perspektif Nilai Pancasila
Tulisan

Perilaku Mahasiswa Medan terhadap Shopee Live dan TikTok Shop dalam Perspektif Nilai Pancasila

Share

Oleh: Livia Salsabila, Zahra Zahira Husein Nst, Nadin Nasmatuzzahra Lubis, Fenny Yoana Silitonga, Rifa Ayu Pratiwi/M. Rasya Athallah, Vinarta Kumar

Suara USU, Medan. Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Kini hanya dengan ponsel dan koneksi internet, semua kebutuhan dapat terpenuhi tanpa harus keluar rumah. Dua platform yang paling digemari generasi muda saat ini adalah Shopee live dan TikTok shop yang menawarkan pengalaman berbelanja interaktif melalui fitur live streaming .

Melalui siaran langsung, pembeli dapat melihat produk secara nyata, bertanya langsung kepada penjual, hingga melakukan transaksi dalam hitungan detik. Fenomena ini juga marak di kalangan mahasiswa medan yang dikenal adaptif terhadap tren digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan baru: apakah kebiasaan ini membuat mahasiswa semakin konsumtif? Apakah perilaku konsumtif yang lahir dari tren ini masih sejalan dengan nilai nilai Pancasila?

Penelitian mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) berjudul “Perilaku Mahasiswa Medan terhadap Shopee Live atau Tiktok Shop” mencoba menjawab hal tersebut. Melalui wawancara, survei daring, dan observasi langsung, penelitian ini menganalisis bagaimana mahasiswa memandang, menggunakan, dan mengendalikan perilaku belanja mereka di tengah derasnya promosi digital.

Daya Tarik Shopee Live dan Tiktok Shop

Hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa tertarik menonton shopee live atau tiktok shop karena faktor harga. Diskon besar, potongan ongkir, hingga promo kilat menjadi faktor utama. Selain itu, gaya host yang interaktif dan tampilan produk yang menarik juga membuat penonton betah berlama-lama di layar.

Sebagai mahasiswa mengaku lebih memilih belanja online karena alasan kepraktisan, hemat waktu, tenaga, dan biaya transportasi. Namun, kepraktisan ini juga membuka peluang bagi munculnya perilaku impulsive, yaitu kecenderungan membeli barang tanpa pertimbangan kebutuhan utama. Banyak yang mengaku membeli karena “sayang kalau promo lewat” atau sekadar ikut tren.

Antara Efisiensi dan Perilaku Konsumtif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa shopee live dan tiktok shop berpengaruh pada pola konsumsi mahasiswa. Sebagian besar responden mengaku perilaku konsumtif mereka meningkat setelah terbiasa menonton siaran langsung belanja. Promo dan visualisasi produk membuat mereka mudah tergoda, terutama saat ada batas waktu promo yang singkat.

Namun, tidak semua mahasiswa terjebak dalam perilaku konsumtif. Sebagian justru tetap berpegang pada prinsip hemat dan tanggung jawab, membeli barang sesuai kebutuhan. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh live shopping sangat bergantung pada kontrol diri masing-masing individu.

Dosen Manajemen Pemasaran USU, Dr. Beby K.F. Sembiring, menilai bahwa perilaku ini menggambarkan gejala “FOMO (Fear of Missing Out)” di kalangan mahasiswa. “Sebenarnya sih bagus tiktok itu karena kan bagaimanapun karena serba digital jadi membantu kita tidak perlu datang ketempat cuman gak bagusnya tu efek negatifnya tu orang jadi hedonis terus timbul lah yang namanya FOMO gamau ketinggalan, karena biasanya kalau kita live itu memicu kita jadi mau beli…” ujarnya.

Sebaliknya, dosen Pendidikan Pancasila, Dr. Simson Ginting, melihat fenomena ini dari kacamata nilai dasar bangsa. Menurutnya, perilaku konsumtif bukanlah masalah utama, yang penting adalah bagaimana mahasiswa mengendalikan diri dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam aktivitas digitalnya.

“…kalau mahasiswa nya konsumtif mau daring mau luring tetap konsumtif dong…” tegasnya.

Dari sisi etika, mahasiswa menilai bahwa sistem live shopping belum sepenuhnya adil bagi semua penjual. Merek besar memiliki keuntungan lebih besar dalam menarik audiens karena modal promosi yang kuat. Meski begitu, banyak yang melihat sisi positifnya fitur live streaming memberi peluang bagi pelaku UMKM untuk bersaing di pasar digital tanpa harus memiliki toko fisik.

Masalah kejujuran juga menjadi perhatian utama. Sebagian mahasiswa mengaku pernah menerima barang yang tidak sesuai dengan deskripsi saat live. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan konsumen masih bergantung pada integritas penjual, bukan hanya pada sistem platform. Dalam konteks nilai Pancasila, kejujuran, tanggung jawab, dan rasa keadilan menjadi kunci penting agar aktivitas jual beli daring tetap etis.

Live Shopping dalam Perspektif Pancasila

Ketuhanan Yang Maha Esa

Mahasiswa dituntut untuk jujur dan menjaga moralitas dalam bertransaksi. Kejujuran penjual menjadi poin penting, sebab 86,7% responden menilai hanya sebagian penjual yang benar-benar jujur. Etika bisnis yang baik adalah bentuk pengamalan nilai Ketuhanan. Kejujuran diperlukan tidak hanya dari pihak penjual, tetapi juga dari pihak pembeli. Konsumen yang menganut Pancasila memegang prinsip kejujuran dan tanggung jawab moral seperti tidak membagikan ulasan palsu, tidak menyebarkan fitnah terhadap toko, serta membeli barang dengan niat dan kesadaran yang baik.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Mahasiswa sebagai konsumen digital harus bersikap beradab dalam berbelanja. Itu berarti menghargai penjual, tidak bersikap kasar di kolom komentar, dan menggunakan bahasa sopan saat berkomunikasi dalam sesi live. Konsumen juga harus bijak dalam menilai produk, tidak langsung menuduh penjual menipu tanpa bukti, dan tidak memanipulasi sistem pengembalian barang untuk keuntungan pribadi. Sikap adil dan beretika ini mencerminkan kemanusiaan yang beradab di dunia maya.

Persatuan Indonesia

Meski belanja online bersifat individual, penelitian menemukan bahwa 33,3% mahasiswa melihat kegiatan ini juga memperkuat solidaritas sosial. Mereka sering berbagi promo, link diskon, atau mendukung teman yang berjualan. Ini mencerminkan semangat gotong royong di ranah digital.

Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan

Sila keempat sangat relevan bagi mahasiswa sebagai konsumen modern.

Penelitian menunjukkan bahwa banyak mahasiswa mempertimbangkan ulasan pembeli lain sebelum membeli barang di Shopee Live atau TikTok Shop. Tindakan ini mencerminkan semangat musyawarah dan kebijaksanaan, karena mereka tidak langsung percaya pada promosi penjual, tetapi menimbang berbagai pendapat terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Dengan menimbang pendapat orang lain, mahasiswa menunjukkan sikap demokratis dan bijak, bukan sekadar mengikuti tren tanpa berpikir.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Fitur live streaming membuka peluang besar bagi UMKM lokal, namun penelitian mencatat ketimpangan: brand besar lebih mudah dikenal dibanding penjual kecil. Dukungan mahasiswa terhadap produk lokal dianggap sebagai bentuk nyata penerapan nilai keadilan sosial dalam ekonomi digital.

Menumbuhkan Kesadaran Belanja yang Seimbang

Menurut hasil wawancara dengan dosen dan mahasiswa, perilaku konsumtif bukan semata akibat teknologi, melainkan juga cerminan kebiasaan individu. Belanja online dapat menjadi sarana efisien bila disertai pengendalian diri, tetapi bisa berubah menjadi kebiasaan boros bila tidak diatur dengan bijak.

Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk menanamkan nilai Pancasila dalam kehidupan digital. Nilai kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, dan kesederhanaan perlu diterapkan agar aktivitas belanja daring tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga membangun sikap konsumsi yang sehat dan beretika.

Kesimpulan

Shopee live dan tiktok shop kini menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa medan. Keduanya menawarkan kemudahan, hiburan, sekaligus tantangan dalam hal pengendalian diri. Mahasiswa sebagai generasi digital diharapkan mampu menyeimbangkan antara kebutuhan dan keinginan, serta menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam memanfaatkan teknologi. Dengan begitu, kemajuan digital tidak hanya membawa kenyamanan, tetapi juga membentuk perilaku konsumsi yang bertanggung jawab dan berkeadilan.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen Pengampu: Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si.

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.