
Oleh: Emiya Sera Charina Ginting, Shayna Netanya R. S., Jihan Nandita Hafiz Damanik, Ringgas Brillian Latahzan Harahap, Elisabeth Kezia Mendrofa, Siti Nayla Salsabila, dan Maharani Az Zahra
Suara USU, Medan. TikTok bukan lagi sekadar platform yang menyajikan hiburan. Di tengah video dance, resep, dan tren belanja, muncul satu fenomena baru yang justru mengajarkan kesadaran diri, yaitu No Buy Challenge. Tantangan ini mengajak pesertanya, khususnya pengguna TikTok, untuk menahan diri dari membeli barang yang tidak diperlukan dalam jangka waktu tertentu.
Tantangan ini mungkin terlihat sederhana awalnya, tetapi di baliknya terdapat proses psikologis yang menarik. Gerakan ini secara tidak langsung mendorong mahasiswa untuk melatih kemampuan mengatur diri. Dalam konteks psikologi, hal ini dikenal dengan self-regulation.
Menurut Albert Bandura (1991), self-regulation adalah kemampuan seseorang untuk mengontrol perilaku, emosi, dan keinginan agar sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Melalui No Buy Challenge, mahasiswa belajar untuk menunda kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih besar, yaitu pengelolaan keuangan dan keseimbangan hidup.
Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Kelompok 10 mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan 34 Universitas Sumatera Utara (USU) melibatkan 125 mahasiswa aktif di Kota Medan. Mayoritas responden merupakan mahasiswa USU yang aktif menggunakan TikTok dan mengenal tren No Buy Challenge.
Dari hasil survei daring, ditemukan bahwa 69% mahasiswa setuju hingga sangat setuju bahwa No Buy Challenge membantu mereka menekan perilaku konsumtif. Sementara hasil survei secara langsung (luring) menunjukkan angka yang lebih tinggi, yaitu 90% mahasiswa menilai gerakan ini efektif.
Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa mulai mampu mengontrol perilaku konsumtifnya secara sadar. Kondisi ini sejalan dengan teori self-regulation, di mana individu belajar menyesuaikan tindakan dan keinginannya melalui pengamatan, refleksi diri, dan pengalaman sosial.
Salah satu responden, Nadya Kiandra Nugroho, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU, menyampaikan pendapatnya:
“Menurut saya, No Buy Challenge cukup efektif untuk menekan perilaku konsumtif mahasiswa. Tantangan ini membantu kita lebih sadar dalam mengatur keuangan dan membatasi pembelian yang tidak perlu.”
Pendapat Nadya mencerminkan bagaimana gerakan sederhana di media sosial dapat membentuk kesadaran finansial dan tanggung jawab pribadi mahasiswa.
Hasil riset juga menunjukkan bahwa 39,5% mahasiswa sangat setuju bahwa promo dan diskon online menjadi tantangan terbesar mereka selama menjalani No Buy Challenge. Hal ini memperlihatkan bahwa mahasiswa yang aktif di media sosial, khususnya TikTok, menghadapi tekanan konsumsi yang kuat di dunia digital.
Namun, lebih dari 75% responden menyatakan bahwa mereka kini lebih mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Artinya, No Buy Challenge tidak hanya memengaruhi perilaku konsumsi, tetapi juga membantu mahasiswa mengubah pola pikir terkait kebutuhan.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Social Learning dari Bandura (1977), yang menyatakan bahwa individu belajar melalui observasi dan interaksi sosial. Melalui TikTok, mahasiswa mengamati pengalaman orang lain dalam menahan diri dari belanja impulsif, kemudian mereka menirunya dan menjadikannya kebiasaan baru. Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menahan diri, tetapi juga mengembangkan pemahaman baru tentang tanggung jawab pribadi dalam mengelola keuangan dan gaya hidup.
Dari data penelitian, 76,3% mahasiswa merasa No Buy Challenge relevan dengan kehidupan finansial mereka. Selain melatih pengendalian diri, banyak mahasiswa mulai membagikan pengalaman mereka kepada teman-teman lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Kebiasaan saling berbagi tips hemat dan saling mengingatkan menciptakan semangat kebersamaan baru. Fenomena ini memperlihatkan nilai sosial yang muncul secara alami dari praktik individu, saling mendukung, empati, dan tanggung jawab sosial.
Tindakan sederhana seperti menahan diri dari pembelian tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menumbuhkan rasa kesadaran terhadap orang lain yang mungkin menghadapi situasi ekonomi yang berbeda. Inilah nilai kemanusiaan yang tumbuh dari tantangan yang awalnya hanya viral di dunia digital.
Selama ini, media sosial sering dianggap sebagai tempat yang hanya menyajikan hiburan. Namun, penelitian yang dilakukan oleh sekeompok mahasiswa USU memperlihatkan fungsi lain dari TikTok, yaitu sebagai ruang pembelajaran sosial. Melalui konten singkat, mahasiswa belajar mengamati, meniru, dan menyesuaikan perilaku mereka.
Proses ini sesuai dengan konsep modeling dalam teori pembelajaran sosial, di mana seseorang dapat belajar melalui contoh yang dilihat dari lingkungan sekitarnya. TikTok, yang biasanya dianggap ringan dan mendorong perilaku konsumtif, justru menjadi wadah pembentukan nilai. Mahasiswa belajar mengatur keinginan, menahan dorongan impulsif, dan menemukan makna dari kesederhanaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital jika digunakan secara reflektif dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter. Dalam konteks kewarganegaraan, hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa belajar menjadi individu yang sadar, mandiri, dan beretika dalam berperilaku sosial, bukan karena aturan, tetapi karena kesadaran pribadi.
Dari hasil penelitian dan tanggapan para responden, terlihat bahwa No Buy Challenge bukan hanya tentang menahan diri dari belanja, tetapi juga tentang membangun serta memperkuat kesadaran diri dan integritas pribadi. Lebih dari tiga perempat mahasiswa menyatakan bahwa mereka merasa lebih tenang dan lebih mampu mengatur diri setelah mengikuti tantangan ini.
Kebiasaan sederhana seperti menunda pembelian, menahan keinginan, dan bersyukur atas apa yang dimiliki ternyata membawa keseimbangan, baik secara finansial maupun emosional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengambil pelajaran moral dari aktivitas digital yang mereka jalani sendiri. Mereka belajar mengontrol keinginan, menghargai keterbatasan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan pribadi.
No Buy Challenge menjadi simbol dari perubahan cara belajar mahasiswa masa kini, dari ruang kelas menuju dunia digital, dari teori menuju tindakan nyata. Dan di tengah cara kerja dunia yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menyaring dengan sadar mungkin adalah bentuk kebijaksanaan paling modern.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment