
Oleh : Yunitri Maylia Mahady, Briyan Priduanta Ginting, Sandria natasya purba, Raissa kamila yustana, Adelia Ramadhani, Zuhaira Nafisah Hilmi, Vania Beatrice
Fenomena game online di masa ini telah berkembang dari sekadar hiburan hingga menjadi bagian dari budaya populer, khususnya di kalangan anak muda termasuk mahasiswa. Tidak hanya memiliki peran sebagai hiburan di layar, game online ternyata memiliki peran signifikan dalam membentuk dan memperkuat solidaritas di dalam komunitasnya. Komunitas game, yang dulu hanya sebagai tempat untuk bermain, kini juga berperan sebagai ruang sosial virtual dimana banyak anak muda berinteraksi dan bertemu banyak orang.
Game online, terutama jenis Massively Multiplayer Online Role-Playing Games (MMORPG) atau Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) seperti Mobile Legends atau Dota 2, secara inheren menuntut adanya kerja sama tim dan interaksi yang intens. Pemain harus berkomunikasi, merencanakan strategi, berbagi peran untuk mencapai kemenangan. Tuntutan seperti inilah yang mendasari terbentuknya solidaritas diantara para gamer, yang kemudian terciptalah komunitas game sesuai dengan game yang dimainkan.
Selain itu, komunitas game online tidak hanya tercipta dari game-game seperti MOBA atau MMORPG saja, platform Game Daring Multi-pemain Masif (Massively Multiplayer Online/MMO), seperti Roblox, juga merupakan game yang menjadikan wadah sosial bagi para gamer. Pada game ini, gamer bisa mendapatkan teman baru dan memperluas pertemanannya.
Solidaritas di dalam komunitas game online tidak hanya berhenti pada saat permainan berlangsung, tetapi merambat ke berbagai aspek interaksi sosial, baik online maupun offline, seperti dukungan emosional dan pengetahuan, solidaritas organik (solidaritas yg terbentuk karena perbedaan ketrampilan, biasanya ditemui pada komunitas esport), bahkan pertemuan untuk kegiatan sosial secara offline.
Meski memiliki dampak positif yang besar, fenomena ini juga tidak lepas dari sisi negatif. Solidaritas yang kuat di dalam komunitas terkadang menciptakan eksklusivitas, yaitu dimana individu terlalu fokus pada komunitas game, sehingga mereka mengabaikan interaksi sosial di lingkungan nyata, seperti keluarga, teman sebaya, atau kegiatan akademik. Hal ini memicu dilema sosial karena, disamping banyaknya hal positif pada komunitas game online, game online juga membawa banyak dampak negatif pada kepribadian induvidu yang memainkan game online dan berada pada komunitas game online.
Selain itu, game online juga dapat memicu konflik dan perilaku agresif, seperti flaming (kata-kata kasar) dan cyberbullying, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat merusak keharmonisan tim dan mental pemain. Kecanduan game online juga menyita sebagian besar waktu kita yang seharusnya dipakai untuk melakukan hal-hal positif. Jadi, dapat dibilang, kecanduan game online– lah yang menjadi isu serius yang bisa mengancam keseimbangan hidup gamer dan solidaritas sosial mereka di dunia nyata.
Berdasarkan hasil survei dari 30 mahasiswa USU, yang juga merupakan gamer, 17 mahasiswa bermain game Mobile Legends: Bang Bang dan 7 lainnya bermain game Roblox. Sementara sisanya bermain game online lain seperti PUBG MOBILE dan Free Fire. 16 dari 30 mahasiswa biasa bermain dengan teman kampus mereka, dan 14 lainnya biasa bermain dengan teman di luar kampus ataupun pemain lain yang mereka temui di game mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka bermain hanya untuk seru-seruan, tetapi ada juga yang bermain secara kompetitif dan serius untuk memenangkan permainannya. Mereka semua sudah merasakan solidaritas saat bermain game, dan solidaritas itu sudah terbawa sampai ke dunia nyata seperti semakin akrab, dan saling membantu disaat memiliki kebutuhan. Hal positif yang mereka dapatkan dari bermain game juga beragam, seperti menambah teman, memperkuat kemampuan bekerja sama, dan juga untuk menghilangkan stres. Tetapi, sering bermain game online juga memiliki dampak negatif seperti lupa waktu ataupun terjadinya konflik antar pemain. Disaat mengalami konflik, mereka juga memiliki banyak cara untuk menyelesaikannya.
Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa fenomena game online terbukti menjadi lahan subur bagi tumbuhnya solidaritas dan komunitas yang kuat. Ia menawarkan ruang untuk kerja sama, persahabatan, dan perkembangan kompetensi sosial. Namun, seperti mata uang, ia memiliki dua sisi. Kunci untuk memaksimalkan dampak positifnya terletak pada kebijaksanaan para gamer dan dukungan lingkungan sekitar agar solidaritas virtual yang terjalin tetap berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti, bagi kehidupan sosial di dunia nyata. Komunitas game adalah refleksi masyarakat modern yang unik dimana ikatan batin dapat terjalin kuat, melampaui batas geografis, hanya dengan menyentuh layar sebagai perantaranya.
Artikel ini adalah publikasi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar. S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment