SUARA USU
Buku

How To Think Like Sherlock Holmes Karya Petter Hollins

Penulis: Luthfiah Amanda Putri

Sherlock Holmes merupakan seorang tokoh detektif Inggris rekaan sang pengarang sekaligus dokter kebangsaan Scotlandia, Sir Arthur Conan Doyle. Keberadaan Holmes mulai populer pertama kali dalam karya Conan berjudul A Study in Scarlet. Doyle menampilkan karakter Holmes sebagai seseorang dengan ketajaman penalaran yang logis, kemampuan menyamar, dan keterampilannya dalam menggunakan Ilmu forensik untuk memecahkan berbagai kasus.

Ia nyaris sempurna dalam mengungkapkan sebuah situasi atau jati diri seseorang dengan berbekal sedikit data atau informasi. Berkat otak geniusnya, banyak orang dari berbagai belahan dunia terpaku dan berlomba-lomba menyetarai kegeniusannya. Namun menurut penulis buku How to Think Like Sherlock Holmes ini, 99% manusia mustahil untuk meniru kegeniusan Holmes. Kemampuannya yang luar biasa datang dari proses belajar dan pengalaman ekstensif, dan tentunya Holmes mungkin saja memiliki IQ 190.

Tetapi sobat Suara Usu tidak perlu khawatir. Meskipun kita tidak akan bisa mempraktikkan semua hal sama persis dengan Sherlock Holmes, kita dapat memolesnya agar berguna dalam pemecahan masalah sehari-hari seperti cara objektif dalam mengamati sebuah masalah, meningkatkan pengetahuan serta daya ingat, hingga berfikir lebih kreatif untuk menghasilkan solusi, yang mungkin saja tidak secanggih Holmes tetapi tetap bermanfaat.

Pada bab 2 buku How to Think Like Sherlock Holmes, penulis menyajikan satu tips menyelesaikan masalah yang biasa dilakukan Sherlock Holmes, yakni “berpikir diluar kebiasaan”. Penulis memberikan metode yang digunakan untuk menumbuhkan cara berpikir diluar kebiasaan melalui metode SCAMPER, yang dipelopori oleh Bob Eberle. Metode ini terdiri atas tujuh Teknik yang dapat membantu kita berpikir langsung menuju ide-ide dan solusi inovatif: (S) substitute (menggantikan); (C) combine (menggabungkan); (A) adapt (menyesuaikan); (M) minimize/magnify (memperkecil/memperbesar); (P) put to other use (menggunakan untuk kebutuhan lain); (E) eliminate (menghilangkan); dan (R) reverse (membalik). Metode ini tidak mangharuskan kita bergerak dalam urutan langkah-langkah diatas.

Hal yang harus dilakukan sebelum megaplikasikan metode SCAMPER adalah dengan sebisa mungkin membebaskan pikiran atas hal-hal yang tidak pernah terbayangkan bisa saling berhubungan. Mengingat kita sering kali tertahan oleh prasangka dan asumsi atas sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Selain itu, pada bab ini Petter Hollins juga memberikan tips lain karena pada metode SCAMPER fokus menghasilkan ide untuk mengatasi masalah yang sudah diketahui, tetapi elemen-elemennya tidak bisa digunakan secara bersamaan. Pada metode selanjutnya disebut dengan model creative problem solving (CPS), merupakan buah pemikiran dan kreativitas pelopornya, Alex Osborn dan Sidney Parnes. Model CPS ini mengangkat enam tahap pemecahan masalah yakni:

  1. Mess-finding (mencari ketidakberesan);
  2. Fact-finding (mencari fakta);
  3. Problem-finding (mencari masalah);
  4. Idea-finding (mencari ide);
  5. Solution-finding (mencari solusi);
  6. Action-finding (mencari Tindakan atau pengakuan).

Dalam proses pelaksanaan model CPS ini, kita dituntut untuk memperluas wawasan terhadap ide-ide tidak biasa, serta membantu dalam berpikir diluar kebiasaan dalam rangka menemukan solusi.

Buku How to Think Like Sherlock Holmes karya Petter Hollins menyajikan tips-tips menyelesaikan masalah sehari-hari dan berfikir keratif seperti ala Sherlock Holmes. Buku ini terdiri dari 5 bab dan setiap bab-nya berisikan metode, strategi, hingga latihan untuk mencapai ide-ide segar dan solusi inovatif yang akan membantu dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang kita alami.

Ada banyak tips-tips lain yang disajikan penulis di dalam buku yang terdiri dari 195 halaman ini. buku ini memberikan kita pengetahuan baru. Permasalahan yang diangkat pun beragam, mulai dari masalah keuangan, keluarga, kerabat, rekan kerja, dan banyak permasalahan lainnya. Dibuku ini juga ditemukan banyak contoh-contoh yang relevan di dalam kehidupan sehari-hari.

Redaktur: Khaira Nazira

 

 

Related posts

Ubah Insecurity Menjadi Nilai Positif dalam Diri

redaksi

Potret Penjajahan di Jawa dalam Novel Fiksi Sejarah “Tanah Bangsawan”

redaksi

Anak Rantau: Petualangan Mencari Ilmu dan Memaknai Kata Dewasa

redaksi