
Reporter: Alya Nayla Sahirah S.
Suara USU, Medan. Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kuliah tamu serial ketiga mata kuliah Budaya Masyarakat Perkebunan dengan tema “Kamera” pada Senin (29/9) melalui Zoom Meeting pukul 15.30 WIB. Acara ini menghadirkan Dr. Will Davis, SNSF Ambizione Group Leader Voyaging Vapors dari Accademia di Architettura, Università della Svizzera Italiana, Mendrisio, Swiss, dan dipandu oleh dosen Ilmu Sejarah USU, Muhammad Rasyidin.
Dalam pemaparannya, Dr. Davis menekankan bahwa kamera bukan sekadar alat dokumentasi, tetapi juga instrumen yang membentuk cara pandang manusia terhadap lingkungan. Menurutnya, kamera berkaitan erat dengan persoalan otoritas dalam menafsirkan dan menarasikan apa yang terlihat. “The question really is about who has the authority to interpret and shape memory,” ungkapnya.
Ia mencontohkan penggunaan kamera oleh David Fairchild, penjelajah botani pada 1940-an, yang kerap mendokumentasikan perjalanannya melalui fotografi. Namun, menurutnya, foto kerap tidak sesuai kenyataan karena sebagian dibuat dengan rekayasa untuk membangun narasi tertentu. Kamera, kata Davis, berfungsi seperti mesin yang mampu membawa momen ke ruang dan waktu berbeda.
Dr. Davis juga mengangkat sosok Dorothy Pelzer, arsitek Amerika yang pada 1960-an berkeliling Asia memotret arsitektur tradisional. Melalui kameranya, Pelzer berusaha melestarikan jejak budaya yang terdesak industrialisasi, ekspansi perkebunan, hingga militerisasi. Namun, catatan dan foto-fotonya tetap dipengaruhi konteks politik, termasuk Perang Vietnam. “The way she’s seeing these communities is completely mediated by her military connections, by the use of this technology, by the use of the map,” jelas Davis.
Ia menegaskan kamera bukanlah alat netral. Fotografi sejak lama menjadi bagian dari proyek kolonial yang menciptakan sekaligus memperkuat stereotip sosial. “Cameras were a huge tool in colonial projects. They reinforced stereotypes, and stereotypes can be very unhealthy for a society,” tuturnya. Stereotip itu, menurutnya, menjebak masyarakat dalam kategori ras, kelas, maupun gender yang membatasi ruang gerak mereka.
Diskusi interaktif berlangsung dengan antusiasme mahasiswa. Salah seorang peserta menanyakan peran kamera dalam masyarakat perkebunan. Ia mengungkapkan, “In plantation societies, local communities were often photographed by outsiders such as colonizers, missionaries, or researchers. Do you think the function of the camera in the context of Vietnam’s strategic hamlets is similar, presenting ‘culture’ while concealing the repressive power relations behind it?” Pertanyaan itu memicu diskusi lebih dalam mengenai bagaimana kamera kerap menampilkan sisi menarik kehidupan masyarakat, sekaligus menutupi kenyataan lain yang tidak tampak. Davis menekankan perlunya menginterpretasi foto berdasarkan situasi sosial dan politik yang melatarbelakanginya.
Acara kuliah tamu berakhir pukul 16.49 WIB. Melalui kegiatan ini, FIB USU memperkenalkan kepada mahasiswa tentang peran kamera dalam mendokumentasikan kehidupan masyarakat perkebunan, sekaligus keterkaitannya dengan aspek sejarah, politik, dan kebudayaan.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment