Home Opini Inferioritas di Tengah Standar yang Menuntut Sempurna
Opini

Inferioritas di Tengah Standar yang Menuntut Sempurna

Share

Oleh: Deswina Listiani Matondang

Suara USU, Medan. Perasaan rendah diri atau inferioritas sering hadir secara diam-diam. Kondisi ini tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh perlahan melalui pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta standar yang terus dijejalkan kepada individu. Pada akhirnya, seseorang terbiasa memandang dirinya kurang, tidak cukup baik, dan selalu tertinggal dibandingkan orang lain.

Yang lebih berbahaya, kondisi ini kerap dianggap sebagai masalah personal semata, seolah-olah individu sendirilah yang gagal mengelola emosinya. Padahal, rasa inferior tidak lahir di ruang kosong.

Secara bahasa, inferioritas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai “kerendahan mutu” dan “rasa rendah diri”. Dalam kajian psikologi, kondisi ini dapat berkembang menjadi inferiority complex, yakni keadaan ketika seseorang terus-menerus merasa dirinya lebih rendah dibandingkan orang lain, baik secara fisik, sosial, maupun psikologis. Mengutip Halodoc, perasaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pengalaman masa kecil, tekanan sosial, kondisi ekonomi, hingga ekspektasi lingkungan yang menuntut individu memenuhi standar tertentu.

Namun, persoalan ini tidak berhenti pada level psikologis. Inferioritas justru dipelihara oleh sistem yang diuntungkan dari rasa tidak puas manusia terhadap dirinya sendiri. Industri kecantikan, fesyen, hingga media digital hidup dari satu premis sederhana: membuat orang merasa kurang, lalu menawarkan solusi. Tubuh dianggap belum ideal, wajah belum cukup menarik, pencapaian belum membanggakan, dan gaya hidup belum “layak tampil”. Ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup, ia lebih mudah terdorong untuk membeli, mengikuti tren, dan mengejar validasi tanpa henti.

Di titik inilah media sosial memainkan peran besar. Platform digital saat ini bukan sekadar ruang berbagi, tetapi juga arena kompetisi yang dibungkus secara halus. Orang mengunggah pencapaian akademik, liburan, tubuh ideal, hubungan romantis, hingga rutinitas produktif. Linimasa dipenuhi versi terbaik kehidupan orang lain. Akibatnya, banyak individu terjebak dalam kebiasaan membandingkan hidupnya dengan potongan realitas yang telah dikurasi.

Di sisi lain, media sosial juga menghadirkan kontradiksi yang sulit dihindari. Ia menjadi sumber rasa tidak aman sekaligus tempat mencari validasi. Seseorang bisa merasa minder setelah melihat teman seusianya sudah magang di perusahaan besar, memenangkan lomba, atau memiliki lingkar pertemanan yang tampak sempurna. Namun, pada saat yang sama, ia tetap mengunggah foto terbaik, memeriksa jumlah “suka”, melihat siapa yang menonton cerita, lalu merasa cemas ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Misalnya, ketika melihat teman lulus lebih dulu, memperoleh IPK tinggi, aktif berorganisasi, atau diterima magang di tempat bergengsi, seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri: “Mengapa saya belum sampai di sana?” atau “Apakah saya kurang pintar?” Pertanyaan seperti ini terdengar sederhana, tetapi jika terus berulang dapat mengikis harga diri secara perlahan. Kehidupan pun berubah menjadi perlombaan yang melelahkan, di mana nilai diri diukur berdasarkan progres orang lain.

Penelitian dalam Jurnal Bima: Pusat Publikasi Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra tahun 2024 menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan perasaan rendah diri, khususnya pada remaja dan dewasa muda. Semakin tinggi intensitas paparan terhadap pencapaian orang lain, semakin besar kecenderungan individu membandingkan dirinya secara tidak sehat. Inferioritas juga berkaitan dengan tekanan sosial, relasi interpersonal, serta pengalaman lingkungan yang tidak suportif.

Dampaknya tidak bisa diremehkan. Individu yang hidup dalam inferioritas kronis cenderung kehilangan kepercayaan diri, sulit mengambil keputusan, takut gagal, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Potensi diri terhambat bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena terlalu sibuk merasa tidak layak. Banyak orang akhirnya hidup berdasarkan standar eksternal yang terus berubah, bukan berdasarkan nilai dan tujuan yang benar-benar diyakini.

Karena itu, membahas inferioritas hanya sebagai persoalan mental individu jelas tidak cukup. Perlu dilihat bagaimana sistem sosial turut melanggengkannya. Standar kecantikan yang sempit, budaya produktivitas berlebihan, glorifikasi kesuksesan di usia muda, hingga algoritma media sosial yang terus menyajikan konten pembanding merupakan bagian dari masalah yang lebih besar.

Maka, yang perlu dibangun bukan sekadar self-love dalam pengertian dangkal, melainkan kesadaran kritis terhadap standar yang selama ini diterima mentah-mentah. Tidak semua target harus dikejar, dan tidak semua pencapaian orang lain relevan dengan hidup kita. Setiap individu memiliki ritme, latar belakang, serta perjalanan yang berbeda.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “mengapa saya merasa kurang?”, melainkan: siapa yang sebenarnya diuntungkan ketika kita terus merasa tidak cukup? Jika hidup terus diukur dengan standar yang diciptakan orang lain, sampai kapan kita benar-benar hidup untuk diri sendiri?

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.