Home Musik Ketabo, Lagu Daerah Padangsidimpuan yang Menyapa dari Kota Salak
Musik

Ketabo, Lagu Daerah Padangsidimpuan yang Menyapa dari Kota Salak

Share
Sumber: Youtube

Oleh: Nenni Purnama Harahap

Suara USU, Medan. Lagu bertajuk “Ketabo” merupakan salah satu lagu tradisional Indonesia yang berasal dari Sumatra Utara, khususnya daerah Padangsidimpuan. Biasanya, lagu ini diputar dalam bus angkutan yang menuju atau berasal dari Kota Padangsidimpuan. Saat ada acara adat, lagu ini sering diputar dan menjadi iringan tari kreasi di Padangsidimpuan. Lagu yang diciptakan oleh Nahum Situmorang ini, memiliki makna ajakan yang sesuai dengan artinya. Dalam bahasa Indonesia, kata “ketabo” berarti marilah.

Sesuai dengan arti judulnya, lagu ini berisi ajakan ramah kepada para wisatawan untuk berkunjung ke Kota Padangsidimpuan. Kota yang dikelilingi perkebunan salak di kaki Gunung Lubuk Raya ini dikenal dengan sebutan Kota Salak. Buah salak yang manis-asam tidak hanya menjadi ikon kota, tetapi juga sebagai lambang hasil bumi yang melimpah. Dengan demikian, lagu ini seolah menjadi undangan terbuka bagi siapa saja yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus keramahan masyarakat Padangsidimpuan.

Lagu “Ketabo” pernah dimuat dalam video 7 Etnis Sumatera Utara yang diproduksi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam video tersebut, “Ketabo” dipilih mewakili etnis Mandailing, berdampingan dengan lagu-lagu daerah dari etnis lain di Sumatera Utara. Video ini menampilkan beragam lagu daerah sebagai representasi identitas budaya tiap suku, dengan tujuan melestarikan sekaligus mempromosikan kekayaan budaya dan bahasa daerah. Kehadiran lagu “Ketabo” dalam proyek budaya ini menegaskan nilai representatif yang tinggi, bukan hanya bagi masyarakat Padangsidimpuan, tetapi juga untuk etnis Mandailing secara keseluruhan.

Ketabo ketabo

Ketabo dongan tu Sidimpuan an

Musim ni salak saonari di si dongan

Tonggi-tonggi sapot tae tabo

Musim ni salak saonari disi dongan

Tonggi-tonggi sapot tae tabo

Potongan lirik ini menggambarkan keceriaan masyarakat dalam menyambut musim salak, sekaligus menjadi ajakan bagi orang-orang untuk datang ke Padangsidimpuan. Buah salak bukan sekadar hasil bumi, melainkan simbol kemakmuran dan ciri khas kota.

Selain itu, lagu “Ketabo” juga menceritakan gambaran kehidupan sosial masyarakat. Jika musim salak tiba, banyak gadis-gadis cantik yang berjualan salak yang bisa dilihat langsung oleh wisatawan. Jika terpincut atau tertarik oleh gadis Sidimpuan, ajaklah berkenalan dan menjalin kasih, yang dalam adat Mandailing dikenal dengan sebutan Markusip.

Lagu “Ketabo” merupakan salah satu bukti kekayaan musik tradisional Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, lagu ini juga dipadukan dengan tarian tradisional. Tidak hanya sekadar hiburan, tetapi lagu ini juga berfungsi sebagai media untuk memperkenalkan budaya, identitas daerah, dan sebagai sarana mempererat kebersamaan masyarakat.

Aransemen Lagu “Ketabo” dibuat sederhana namun tetap memikat. Iringannya biasanya menggunakan alat musik tradisional seperti gondang, seruling, dan gendang yang menghasilkan irama ceria dan penuh semangat. Melodi vokalnya pun ringan dan mudah diingat, sehingga siapa saja bisa ikut menyanyikannya. Kesederhanaan aransemen inilah yang membuat Ketabo terasa dekat dengan masyarakat, sekaligus tetap mempertahankan ciri khas musik tradisional Mandailing.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Kota Padangsidimpuan, lagu “Ketabo” terus diajarkan, diperdengarkan, dan terus dinyanyikan dari masa kemasa. Lagu Ketabo bukan hanya sekedar lagu rakyat biasa, melainkan simbol kebahagiaan, persaudaraan, dan identitas kultural masyarakat Padangsidimpuan. Lirik yang sederhana namun sarat makna, ditambah iringan musik tradisional yang khas, menjadikan lagu ini terus hidup di tengah masyarakat.

Di tengah derasnya arus globalisasi, lagu “Ketabo” menjadi pengingat bahwa budaya lokal harus tetap dijaga dan dilestarikan. Dengan terus dinyanyikan dan diperkenalkan kepada generasi muda, lagu ini tidak hanya menjadi warisan seni, tetapi juga sebuah perekat sosial yang menguatkan identitas masyarakat Padangsidimpuan. 

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.