
Oleh: Ines Eliyana Br Ginting
Suara USU, Medan. Setiap daerah di Indonesia memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai, salah satunya melalui alat musik tradisional. Di Tanah Karo, Sumatera Utara, terdapat sebuah alat musik sederhana namun sarat makna yang dikenal dengan nama Keteng-Keteng. Sekilas, bentuknya hanya berupa batang bambu dengan senar di bagian atasnya. Namun, siapa sangka alat musik ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi yang kuat dalam masyarakat Karo.
Keteng-Keteng terbuat dari bambu yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara merdu dan khas. Alat musik ini sering dijumpai dalam berbagai acara adat Karo, baik pernikahan yang penuh sukacita maupun kematian yang membawa duka cita. Kehadiran Keteng-Keteng menjadi pengikat suasana, menghadirkan alunan ritmis yang mampu menenangkan sekaligus menghidupkan perasaan para hadirin.
Dikutip dari Detik.com, yang membuat Keteng-Keteng begitu unik adalah senarnya. Jika gitar menggunakan nilon atau baja, Keteng-Keteng justru memakai kulit bambu. Proses pembuatannya pun tidak sembarangan. Pengrajin harus memilih bambu tua, lalu mengukir bagian luarnya dan mengangkat sebagian kulit untuk dijadikan senar tanpa memisahkan bambu dari batang utamanya. Hasilnya adalah senar alami yang, ketika dipukul, menghasilkan suara khas. Bunyi tersebut bukan hanya indah di telinga, tetapi juga menjadi simbol keterikatan masyarakat Karo dengan alam.
Dalam sejarahnya, Keteng-Keteng bukan sekadar alat musik hiburan. Dahulu, alat ini sering digunakan pada upacara adat “Erpangir Ku Lau”. Ritual tersebut dilakukan di danau atau sungai dengan tujuan tertentu, seperti mengobati penyakit atau mengusir gangguan gaib. Irama Keteng-Keteng diyakini menambah kekhusyukan jalannya upacara, seolah menjadi jembatan antara dunia manusia dan dunia gaib. Dengan demikian, Keteng-Keteng menyimpan nilai spiritual yang kuat. Bukan hanya suara bambu, tetapi juga doa, harapan, dan simbol kekuatan budaya Karo.
Layaknya drum, Keteng-Keteng dimainkan dengan cara dipukul menggunakan dua stik kecil. Pemain akan memukul bagian tubuh bambu secara bergantian untuk menghasilkan pola ritmis yang dinamis. Tempo yang dimainkan bisa disesuaikan; semakin cepat dipukul, semakin hidup irama yang lahir. Meski sederhana, tidak semua orang dapat memainkannya. Dibutuhkan rasa ritme yang kuat dan pemahaman terhadap irama tradisional Karo agar suara yang keluar terdengar padu. Itulah sebabnya, pemain Keteng-Keteng sering dianggap sebagai penggerak semangat dalam sebuah pertunjukan musik tradisional.
Menariknya, kini Keteng-Keteng tidak lagi terbatas pada panggung adat. Alat musik ini dapat berpadu dengan instrumen modern seperti gitar listrik, keyboard, bahkan drum set. Perpaduan tradisional dan modern tersebut memperkaya warna musik Karo serta membuka jalan baru bagi generasi muda untuk lebih mengenal budayanya.
Seperti banyak tradisi lainnya, Keteng-Keteng sempat terpinggirkan. Modernisasi dan masuknya musik populer membuat generasi muda Karo hampir melupakan instrumen ini. Ada masa ketika Keteng-Keteng jarang sekali dimainkan, bahkan hampir punah dari kehidupan sehari-hari.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para pemuda Karo mulai bergerak. Mereka memperkenalkan kembali Keteng-Keteng, bukan hanya di acara adat, tetapi juga di ruang ibadah, festival budaya, hingga pentas musik modern. Kebangkitan ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak akan mati selama masih ada generasi yang mau merawatnya.
Bagi masyarakat Karo, Keteng-Keteng bukan sekadar hiburan. Ia adalah warisan leluhur, bagian dari identitas, sekaligus bukti kreativitas manusia dalam memanfaatkan alam. Dari bambu yang sederhana lahir musik yang dapat menemani berbagai fase kehidupan, dari sukacita pernikahan hingga duka kematian. Ketika suara Keteng-Keteng bergema, ia membawa pesan bahwa budaya adalah napas yang harus dijaga, bukan sekadar kenangan yang dibiarkan hilang.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment