
Oleh: Nurur Rahmah
Suara USU, Medan. Dalam beberapa tahun terakhir, kehidupan manusia telah berkembang dengan sangat cepat daripada dengan yang kita bayangkan. Kemajuan teknologi yang dulunya hanya kita anggap sebagai fiksi ilmiah dan dalam bayangan saja, kini menjadi kenyataan yang diterima oleh seluruh masyarakat. Bayangkan pada saat ini semakin banyak teknologi yang mampu mempermudah pekerjaan manusia, tetapi juga memiliki banyak dampak buruk bagi manusia itu sendiri. Faktanya, perubahan dan kemajuan teknologi ini tidak selamanya mengarah pada hal-hal baik ataupun menyenangkan. Sering kali di antara kemajuan dan perubahan teknologi saat ini membuat kita bertanya-tanya, apakah kehidupan nyata kita sedang menuju serial Black Mirror?
Lalu apa itu serial Black Mirror? Serial Black Mirror adalah serial yang pertama kali ditayangkan pada 2011 lalu. Serial ini menggambarkan bagaimana kehidupan dan masa depan yang gelap akibat dari tidak terkendalinya teknologi yang berkembang secara pesat. Salah satu cerita utama dalam serial Black Mirror sendiri adalah bagaimana manusia menjadi semakin tergantung pada teknologi hingga tidak bisa memberikan batas antara dunia nyata dengan dunia fiksi.
Di salah satu episode Black Mirror yaitu Nosedive, menunjukkan bagaimana setiap manusia diberi penilaian oleh manusia lain berdasarkan interaksi sosial mereka. Penilaian ini akan menentukan reputasi digital mereka. Reputasi digital ini akan menentukan segala aspek, mulai dari pekerjaan hingga akses untuk fasilitas umum. Nah, sekarang sistem ini tidak hanya fiktif belaka melainkan sebuah kenyataan yang ada, meskipun tidak se-komprehensif itu, tetapi beberapa platform media sosial sudah menciptakan dunia yang serupa. Dunia bagaimana ‘like, followers ataupun engagement’ menjadi penilaian terhadap diri seseorang.
Bahkan di China sempat diberlakukan sistem social credit score. Social Credit Score adalah sistem dimana adanya pemberian skor terhadap masyarakat dan bisnis berdasarkan perilaku dan kepatuhan mereka terhadap peraturan dan hukum. Sistem ini bekerja dengan mengumpulkan data berbagai sumber dari mulai catatan keuangan, perilaku sosial, dan aktivitas daring. Kemudian dianalisis dan akan mengeluarkan skor dalam bentuk skor numerik.
Selain episode Nosedive, ada juga episode Be Right Back yang mengisahkan tentang seorang wanita yang menggunakan teknologi untuk menghidupkan kembali pasangannya yang sudah meninggal melalui AI untuk meniru segala perilaku dan kepribadiannya. Nah, dalam dunia nyata sendiri saat ini sedang maraknya tren AI yang membuat foto seseorang yang telah tiada menjadi bisa bergerak atau bahkan seperti video yang baru saja direkam. Tren ini bernama Deepfake, di mana teknologi AI ini bahkan dapat meniru suara dan wajah dari seseorang. Bahaya deepfake ini bukan hanya terletak pada potensi kebohongan, tetapi juga pada batasan antara kenyataan dan fiktif.
Di Indonesia sendiri tren deepfake sudah sangat bebas di media sosial. Salah satu contoh yang viral terjadi pada tahun 2023, di mana muncul video deepfake presiden Indonesia yang seolah-olah sedang menyanyikan lagu pop Korea. Meskipun hanya dibuat sebagai parodi, tetapi video ini menunjukkan bagaimana mudahnya memalsukan ataupun memanipulasi wajah dan suara tokoh publik tanpa adanya keterampilan khusus dengan hanya menggunakan website AI yang beredar bebas dan gratis digunakan.
Selain itu, Januari lalu sempat viral kasus deepfake public figure yang digunakan untuk menipu banyak orang. Pelaku penipuan menggunakan wajah public figur untuk dijadikan deepfake video yang di mana public figur ini menawarkan bantuan kepada masyarakat dengan mencantumkan nomor WhatsApp pelaku untuk kemudian dihubungi oleh korban. Calon korban yang menghubungi nomor itu kemudian diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dan diminta untuk mentransfer sejumlah uang dengan alasan uang administrasi. Korban dijanjikan mendapatkan uang jika sudah menyelesaikan pembayaran uang administrasinya. Namun, semua tawaran itu hanyalah tipuan belaka. Penipuan ini meraup keuntungan kurang lebih sekitar 30 juta dalam 4 bulan.
Kita mulai hidup dijaman teknologi fiksi yang telah menyusup ke dalam kehidupan nyata sehari-hari. Bahkan, yang lebih buruknya kita tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang fiksi. Ketika semua hal bisa dimanipulasi baik secara visual maupun auditif, maka kebenaran juga bisa menjadi ruang yang dibentuk untuk akses terhadap teknologi. Fiksi seharusnya menjadi peringatan bagi dunia nyata. Dahulu kita selalu menganggap bahwa dongeng hanyalah teman tidur dan peringatan semata agar kita tidak berbuat sesuatu yang buruk, tetapi sekarang fiksi itu seolah masuk dan ikut membersamai kehidupan kita yang tanpa kita sadari membuka ruang baru untuk propaganda, fitnah, bahkan pemerasan dan penipuan. Selain itu hal yang lebih mengkhawatirkan adalah regulasi, etika dan hukum selalu tertinggal oleh teknologi. Di Indonesia sendiri belum ada regulasi tegas tentang penyalahgunaan teknologi. Perlindungan hukum masih bersifat umum dan reaktif. Di sisi lain, masyarakat sebagai penerima kemajuan teknologi juga belum dibekali oleh pengetahuan dan pemahaman yang cukup mengenai teknologi yang bebas digunakan hingga saat ini.
Dulu, teknologi diciptakan untuk membantu manusia, tetapi seiring waktu manusialah yang menjadi pelengkap dari teknologi itu. Serial Black Mirror adalah gambaran bagaimana dunia di masa depan yang tak mungkin terjadi, tetapi nyatanya telah terjadi. Namun, perlu diingat bahwa teknologi bukanlah musuh kita, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana cara kita bersikap terhadap perkembangan teknologi yang semakin pesat, bagaimana cara mengendalikannya dan bagaimana cara kita menggunakannya dengan baik.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment