Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Pernahkah kita membayangkan hidup di bawah kendali seseorang yang menentukan apa yang boleh kita rasakan? Bagaimana jika duka bukan lagi sekadar emosi, melainkan kesalahan yang harus dihukum?
Mahika hidup di tempat yang merantaikan rasa bahagia dalam jiwanya. Tempat dimana air mata mengantongi izin, kesedihan merupakan pelanggaran, dan duka adalah bentuk perlawanan.
Hari ini, di bawah sang surya yang tak bosan memamerkan cahayanya, Mahika duduk bersama temannya, Claudia. Tawa riang anak-anak yang bermain bola dan senda gurau beberapa orang ibu memenuhi indra pendengaran. Lapangan yang ditumbuhi rerumputan hijau itu melukiskan harsa yang seolah-olah tak pernah habis. Bagai tak punya masa.
Inikah kebahagiaan sejati jika memang rasa duka tak pernah ada di dunia?
Pertanyaan tersebut terlintas sekelebat dalam benak Mahika. Belum sempat menjawab monolognya sendiri, Claudia memecah hening yang menjera keduanya sejak beberapa menit yang lalu.
“Kucing peliharaanku mati, Ka.”
Mendengar kabar dukacita tersebut, Mahika menoleh. Claudia menatap ke arah depan. Dapat Mahika lihat, senyum tipis menghiasi wajah Claudia.
Sebenarnya, harus duka seperti apa yang mampu membuat orang-orang di kota ini mengeluarkan tangis sampai tanah mereka sendiri menolak menelan sisa-sisa luka yang tumpah ruah?
“Di rumah cuma aku yang merasa kehilangan.” Claudia melanjutkan.
Kami dilatih hidup tanpa berduka. Kami diajari menelan air mata sebelum sempat jatuh. Di sini, di kota ini, wajar jika kami merasa sendirian saat merasakan sesuatu. Kami hidup tanpa pernah diizinkan merasa sedih.
“Kapan kucing kamu mati?” alih-alih memilih ucapan yang mampu memvalidasi perasaan Claudia, Mahika malah melontarkan tanya.
“Tiga hari yang lalu.” Claudia menjawab, setelah melirik ke arah Mahika sekilas.
“Aku sekarang tidak merasakan perasaan aneh itu lagi.”
Bersedih itu tidak aneh.
“Memangnya kamu merasakan apa?”
Claudia tampak berpikir. “Aku merasa seperti dadaku sesak. Ada yang janggal dan aneh, aku juga sulit untuk tersenyum.” mimik wajah kesulitan memahami suatu hal muncul dalam muka Claudia. Namun, setelahnya, perempuan itu melanjutkan dengan santai, “Tapi, ku rasa sekarang aku sudah merasa seperti biasanya. Ya, setidaknya aku berusaha untuk begitu.”
Mahika tak bisa memahami Claudia, sebab Claudia pun tak bisa memahami dirinya sendiri. Mahika berpikir keras selama beberapa detik sehingga lagi-lagi diam menyelimuti dua perempuan itu. Lalu, tiba-tiba terlintas sesuatu dalam benak Claudia. Ia buru-buru mengambil kertas dan pulpen yang ada di ranselnya.
“Aku ingin minta tolong. Kamu mau membantu?”
Refleks, Claudia menoleh. “Membantu apa?”
“Tuliskan kejadian saat kucingmu mati dan apa yang kamu rasakan saat itu. Dan, jika boleh, tuliskan juga bagaimana perasaanmu ketika tahu bahwa hanya kamu yang merasakan kehilangan di rumahmu.”
Pertanyaan tersebut menjadi akhir dialog antara Mahika dan Claudia di hari itu.
Hari beranjak cepat, seolah tak mau menunggu setiap insan yang perlu mengambil jeda sejenak. Di bawah bentala yang diselimuti warna oranye, Mahika duduk bersama Claudia di pinggir lapangan hijau. Lagi.
“Aku sudah baca apa yang kamu tulis kemarin.” celetuk Mahika, membuka jalannya pembicaraan.
Senyum tipis merajut keindahan di wajah Claudia. “Ya, tak jauh berbeda dengan apa yang sebelumnya ku bilang ke kamu. Begitulah.” perempuan itu kembali menoleh ke arah depan. Menikmati angin sore yang sejuk dan tawa riang anak-anak yang tengah bermain di lapangan. Lagi.
“Nama perasaan itu sedih.”
“Ya?” Claudia menoleh spontan ke arah Mahika. Alisnya terangkat tipis, lalu berkerut. Ia ingin menyangkal, tetapi bagian lain dalam dirinya seolah baru disingkapkan sesuatu yang selama ini ia hindari. Jemarinya tanpa sadar menggenggam ujung bajunya.
“Dengarkan aku, Claudia,” Mahika menyerongkan badannya ke arah gadis itu dan Claudia membalas dengan tatapan serius. “Perasaan yang kamu rasakan kemarin ada namanya. Nama perasaan itu sedih.” Mahika mengulangi kalimatnya dengan nada tegas.
“Apa maksudmu?” keheranan semakin menggerogoti diri Claudia.
“Kemarin aku membaca sebuah buku anak-anak. Buku itu berisi tentang ekspresi wajah yang mewakili perasaan manusia. Perasaan yang kamu rasakan itu namanya sedih.” jelas Mahika.
Claudia terlihat seperti baru menyadari sesuatu. “Aku baru tahu.” gumamnya, pelan dan sedikit terkejut.
“Aku juga baru tahu. Sebenarnya, wajar saja. Kita tidak pernah diajarkan untuk merasakan perasaan lain selain bahagia. Kita selalu diajak untuk kuat dan berpikir positif. Perasaan seperti sedih benar-benar asing untuk kita.”
“Bagaimana ini, Mahika?” Claudia menunduk. Nada tanyanya terdengar pasrah.
Mahika meletakkan tangannya di bahu sebelah kanan Claudia. Seolah ingin menyalurkan perasaan tenang dengan maksud semua akan baik-baik saja. “Kau boleh bersedih. Ya, setidaknya di hadapanku. Anggap saja perasaan lain selain senang bebas untuk kita berdua rasakan.”
Di bawah kerlap-kerlip bintang, Mahika menyelipkan kertas berisi perasaan Claudia ke dalam sebuah kotak kayu. Dadanya dipenuhi tekad yang tak lagi bisa ditawar. Ia akan mengumpulkan setiap surat kesedihan di kota ini—setiap pengakuan yang tak berani diucapkan, setiap duka yang disembunyikan. Tak satu pun akan luput darinya. Semoga.
Kota ini adalah kota tanpa duka. Manusianya diajarkan untuk selalu bahagia tanpa sempat mengenal perasaan lain. Mahika pikir, itu tidak adil.
Di kota ini, orang yang menangis di tempat umum akan ditegur karena dianggap melakukan pelanggaran. Di sekolah, murid yang terlihat murung dipanggil guru BK untuk “dibina” agar lebih positif. Di kantor-kantor, karyawan yang mengeluh terlalu sering bisa kehilangan pekerjaannya karena dinilai tidak membawa suasana yang baik.
Tidak ada berita kesedihan di surat kabar. Tidak ada cerita tentang kegagalan di ruang-ruang percakapan. Semua orang belajar menyimpan perasaan mereka sendiri, karena sedih dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, tak layak ditunjukkan.
Dan kota ini benar-benar berjalan tanpa duka—setidaknya di permukaan.
Bagaimana manusia dipaksa tetap tersenyum walau kesedihan membuncah? Bagaimana manusia diyakinkan untuk tetap kuat walau duka melanda? Bagaimana manusia harus memforsir dirinya untuk selaku berpikir positif? Lambat-laun, bahagia menjadi sesuatu yang melelahkan.
Mahika sadar, dalam kehidupannya, manusia tak dicipta untuk merasa bahagia saja. Perasaan bahagia bagi Mahika terasa biasa saja sebab ia tak sempat mengenal sedih. Ia tumbuh dengan tak mengenal jatuh sehingga ia pun tak paham makna dari bangkit.
Rantai kebahagiaan selalu menjerat diri setiap orang di kota ini. Duka dilarang sehingga air mata pun takut-takut untuk jatuh.
Manusia tak selalu dilingkupi harsa. Ada kalanya nestapa datang, membakar rasa dan menguji jiwa. Namun bagi Mahika, justru di situlah letak bagian terindah dari tumbuh sebagai manusia.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment