Oleh: Deswina Listiani Matondang
Suara USU, Medan. Keluhan asam lambung tidak lagi bisa dipandang sebagai masalah kesehatan yang identik dengan usia paruh baya. Di lingkungan kampus, gejala seperti perih di ulu hati, sensasi panas di dada, hingga asam yang naik ke tenggorokan semakin sering dialami mahasiswa. Kondisi yang dalam dunia medis dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease (GERD) ini bukan lagi kasus yang jarang terjadi, melainkan sinyal yang menunjukkan adanya persoalan lebih dalam. Gaya hidup mahasiswa semakin tidak sehat.
Fenomena ini tidak berdiri di atas asumsi. Sejumlah penelitian di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa angka kejadian gejala GERD di kalangan mahasiswa tergolong tinggi. Penelitian dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia tahun 2025 yang menggunakan instrumen GERD-Q mencatat sekitar 20% mahasiswa mengalami gejala refluks asam lambung. Artinya, satu dari lima mahasiswa berhadapan dengan gangguan ini. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa masalah ini sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Terlebih lagi, penelitian yang sama menunjukkan bahwa pola makan tidak teratur meningkatkan risiko lebih dari tiga kali lipat, sementara kualitas tidur yang buruk hampir melipatgandakan risiko tersebut.
Data ini dengan jelas mengarah pada satu kesimpulan. Meningkatnya kasus asam lambung di kalangan mahasiswa bukan kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari gaya hidup yang tidak terkelola. Tekanan akademik yang tinggi sering dijadikan alasan, tetapi pada saat yang sama juga memperlihatkan bagaimana mahasiswa dan lingkungan kampus sama-sama membiarkan pola hidup tidak sehat menjadi sesuatu yang wajar. Jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, serta aktivitas organisasi memang menyita waktu, tetapi tidak seharusnya mengorbankan kebutuhan dasar seperti makan dan istirahat.
Realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sarapan dilewatkan demi presensi, makan siang digantikan makanan cepat saji, dan malam hari menjadi waktu makan utama sebelum kembali beraktivitas. Pola ini bukan hanya tidak ideal, tetapi secara langsung memperbesar risiko gangguan lambung. Ketika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, maka wajar jika tubuh memberikan respons berupa gangguan kesehatan.
Situasi ini diperparah oleh budaya begadang yang telah dinormalisasi. Tidur lewat tengah malam tidak lagi dianggap masalah, melainkan simbol produktivitas. Kopi dikonsumsi secara berlebihan untuk mempertahankan fokus, padahal kafein justru merangsang produksi asam lambung dan melemahkan katup antara lambung dan kerongkongan. Lebih buruk lagi, kebiasaan makan larut malam yang diikuti dengan langsung berbaring menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya refluks. Ini bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi pola yang secara sistematis merusak kesehatan.
Stres akademik juga tidak bisa diabaikan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat kecemasan tinggi lebih rentan mengalami gangguan lambung. Secara fisiologis, stres meningkatkan produksi asam lambung serta membuat sistem pencernaan lebih sensitif. Hal ini menegaskan bahwa persoalan GERD bukan hanya soal makanan atau tidur, tetapi juga hasil dari tekanan mental yang tidak dikelola. Dengan kata lain, meningkatnya kasus asam lambung adalah refleksi dari sistem kehidupan mahasiswa yang tidak seimbang.
Dampaknya pun tidak sederhana. Gangguan lambung mengganggu kualitas tidur, menurunkan energi, dan melemahkan konsentrasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru merusak performa akademik yang selama ini dikejar. Ironisnya, mahasiswa terus mempertahankan pola hidup yang sama atas nama produktivitas, tanpa menyadari bahwa mereka sedang menciptakan hambatan bagi diri sendiri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukan sekadar masalah kesehatan individu, melainkan krisis gaya hidup sehat di lingkungan kampus. Pola makan yang tidak teratur, konsumsi makanan tidak sehat, kebiasaan begadang, minimnya aktivitas fisik, serta buruknya manajemen stres saling memperkuat dan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Jika terus dibiarkan, gangguan yang dianggap ringan ini berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Dalam konteks ini, kampus sebagai ruang intelektual memiliki peran penting. Lingkungan akademik yang hanya berfokus pada capaian tanpa memperhatikan kesejahteraan mahasiswa secara tidak langsung turut melanggengkan pola hidup tidak sehat. Edukasi mengenai pola hidup seimbang, pentingnya waktu istirahat, serta pengelolaan stres perlu menjadi bagian dari budaya kampus. Selain itu, penyediaan akses makanan sehat dan layanan konseling seharusnya menjadi bagian dari sistem, bukan sekadar pelengkap.
Namun, satu hal yang kerap luput dibicarakan adalah kesadaran diri. Edukasi sebanyak apa pun tidak akan berdampak jika mahasiswa sendiri belum memiliki kesadaran untuk berubah. Informasi tentang pola makan sehat, bahaya begadang, atau dampak stres sebenarnya sudah sangat mudah diakses. Masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada sikap yang masih menganggap remeh kesehatan. Selama pola hidup tidak sehat terus dinormalisasi dan tidak ada kemauan untuk mengubah kebiasaan, maka berbagai upaya edukasi hanya akan berhenti sebagai wacana.
Karena itu, tanggung jawab tidak berhenti pada institusi, tetapi juga pada individu. Perubahan gaya hidup menuntut kesadaran dan kemauan dari diri sendiri. Menjaga jadwal makan, membatasi konsumsi kafein, mengurangi begadang, dan menyediakan waktu istirahat bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar. Tanpa kesadaran tersebut, produktivitas yang dikejar hanya akan menghasilkan kelelahan dan penurunan kualitas hidup.
Jika satu dari lima mahasiswa mengalami gejala asam lambung, maka ini bukan lagi persoalan individu. Ini adalah peringatan bahwa ada pola hidup yang salah dan terus dipertahankan. Tubuh tidak pernah benar-benar diam, ia selalu memberi sinyal ketika ada yang tidak beres. Dalam konteks ini, rasa perih di ulu hati bukan sekadar keluhan, melainkan bentuk peringatan yang seharusnya tidak lagi diabaikan.
Redaktur: Debora Gracia Nauli
Leave a comment