Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga
Suara USU, Medan. Pernahkah kamu membayangkan ikan-ikan berenang bebas di langit? Atau sebuah bus kota yang tiba-tiba memiliki kesadaran dan bisa berbicara? Bagaimana kalau seluruh perjalanan hidup ini terasa seperti mimpi ganjil yang tidak pernah benar-benar kita pahami? Di tangan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dalam novelnya Semua Ikan di Langit, segala ketidakmungkinan itu menjadi kenyataan.
Buku setebal 220 halaman ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2017. Sebelum resmi dipasarkan oleh Grasindo, naskah ini sudah lebih dulu menyabet Juara I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016. Sebuah prestasi yang mengonfirmasi bahwa karya ini bukanlah sekadar fiksi “aneh”, melainkan sebuah pencapaian sastra yang mempunyai kelas tersendiri.
Novel ini memang dikenal karena keabsurdannya. Cerita ini dipandu oleh narator yang sangat tidak biasa yakni sebuah Bus Damri bernomor 431. Ia adalah bus yang sehari-harinya hanya berputar-putar di trayek Dipatiukur–Leuwipanjang. Hingga suatu hari, seekor ikan julung-julung yang bisa terbang memintanya untuk menemani “Beliau” berjalan-jalan melintasi ruang dan waktu. Mulai dari misi menyelamatkan kucing bernama Bastet, sampai membebaskan seekor kecoak bernama Nad dari penjara luar angkasa, semuanya diceritakan dalam alur yang benar-benar menabrak logika realistis kita.
Di halaman 62, Bus mengucapkan kalimat yang menjadi kunci untuk mengenali siapa sebenarnya sosok Beliau: “Tapi, dalam hal seseorang yang begitu ajaib seperti Beliau, perasaan itu punya akibat lain. Ini yang saya tahu merupakan akibat dari perasaan tertentu pada Beliau: Kebahagiaan Beliau melahirkan bintang. Kesedihan Beliau membunuh keajaiban. Kemarahan Beliau berakibat fatal.”
Beliau digambarkan sebagai anak laki-laki kecil berjubah hitam yang penuh kuasa tetapi masih memiliki sisi emosional yang manusiawi. Sepanjang membaca, kita akan dibuat terus bertanya-tanya: siapa sebenarnya Beliau? Ia bisa terlihat sangat hangat saat menjahitkan boneka untuk anak-anak yang takut akan kegelapan, tetapi ia juga bisa hancur melihat kengerian perang di Auschwitz tahun 1944, ketika seorang perempuan bernama Shoshanna gemetar setelah membunuh tentara Nazi yang lebih dulu merenggut nyawa kakaknya. Beliau bahkan bisa murka melihat kekerasan kecil, seperti saat seorang pemuda menendang kakek kurus kering, dan memberikan hukuman dengan caranya sendiri yang ajaib.
Di tengah semesta galaksi permen, pohon Chinar yang “beternak jiwa”, serta anak-anaknya yang bernama C, H, A, dan R, juga tersimpan banyak kisah menakjubkan. Ziggy mengajak kita masuk ke ruang batin yang terasa sunyi dan rapuh. Dunia yang ganjil ini uniknya terasa sangat hangat karena dipenuhi percakapan sederhana tentang kehilangan, perpisahan, dan kesetiaan. “Ah, berpisah bukan berarti berhenti menyayangi, hm, hm,” (halaman 120). Kutipan ini adalah salah satu bagian favorit yang paling sering digarisbawahi oleh para pembacanya.
Namun, di balik keganjilan dunia itu, terselip satu pertanyaan sederhana dari sebuah bus: bagaimana cara terbaik untuk mencintai Beliau? Bus Damri 431 mencintainya tanpa peduli apakah cintanya akan terbalas. Ia terus berjalan, mengantar, dan menemani, bahkan sampai raganya hancur lebur. Cinta di buku ini tidak digambarkan secara romantis-picisan, melainkan sebuah cinta tanpa syarat. Menariknya, Beliau tidak pernah membalasnya dengan janji yang manis pula. Respons Beliau hadir dalam bentuk kesunyian yang magis, dengan menghadiahkan galaksi permen, mengajak Bus berkelana lintas dimensi, dan membiarkannya tetap berada di sisi-Nya.
Bagi sebagian pembaca, Semua Ikan di Langit mungkin bukan tipe buku yang bisa diselesaikan dengan cepat. Kita akan sering merasa kebingungan dan dipaksa untuk merenung. Novel ini mungkin bukan pilihan pertama untuk mereka yang baru saja menyukai fiksi, tetapi justru menjadi pilihan paling tepat bagi mereka yang mencari tema keabsurdan yang mendalam.
Menariknya, Ziggy tidak hanya sekadar berimajinasi kosong. Ia menyelipkan fakta sejarah yang kuat di dalam alur cerita tersebut. Pada tahun 2008, Rusia memang pernah mengirim kecoak bernama Nadezhda yang berarti “harapan” ke luar angkasa. Perang di Auschwitz tahun 1944 juga merupakan sejarah kelam yang benar-benar pernah terjadi. Bahkan pohon Chinar pun memang ada di dunia ini sebagai simbol kebijaksanaan.
Melalui gaya bahasa yang imajinatif dan penuh simbol, Ziggy seolah ingin menyampaikan bahwa hidup ini memang sering tidak masuk akal dan berada di luar kendali kita. Namun, di tengah ketidakrasionalan itu, kita masih bisa memilih untuk tetap mengasihi satu sama lain. Semua keanehan yang kita jumpai dalam buku ini sebenarnya adalah cara halus untuk membicarakan sesuatu yang sangat manusiawi, bahwa kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Karena di dunia nyata, kita semua pasti pernah berpisah, tapi tidak semua dari kita harus berhenti menyayangi.
Itulah makna terdalam dari cerita pada novel ini. Di dunia yang absurd dan penuh kejahatan sekalipun, cinta dan kemanusiaan tidak boleh hilang. Buku ini tidak akan langsung memberitahumu siapa Beliau atau mengapa judulnya Semua Ikan di Langit. Kamu diajak untuk menebak, merenungkan, dan menafsirkannya sendiri. Namun, kalau kamu berani berkomitmen membacanya sampai halaman terakhir, pelan-pelan kamu akan paham siapa Beliau sesungguhnya, mengapa cinta-Nya melampaui logika, dan akhirnya… mengapa ikan-ikan itu bisa terbang di langit.
Bagi Sobat Suara USU yang sedang mencari fiksi yang tidak biasa dan ingin melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, Semua Ikan di Langit adalah pilihan yang sangat tepat untuk masuk ke daftar bacaanmu.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment