
Reporter: Siti Aisyah
Suara USU, Medan. Di tengah maraknya musik digital dan pengaruh budaya global, kekayaan tradisi Nusantara tetap menunjukkan eksistensinya yang kuat. Salah satu bentuk seni musik yang kini kembali mendapatkan perhatian adalah Lagia, sebuah genre musik tradisional yang khas dari masyarakat Nias. Bagi masyarakat Nias, Lagia lebih dari sekadar melodi, ia berfungsi sebagai sarana untuk menjaga ingatan bersama dan meneguhkan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Lagia dikenal sebagai alat musik gesek tradisional yang telah digunakan oleh masyarakat Nias sejak masa lampau. Berdasarkan dokumentasi kebudayaan di Museum Pusaka Nias, alat musik ini dibuat dari bahan-bahan alami seperti akar tanaman salak sebagai badan instrumen, kayu aren sebagai resonator suara, dawai tunggal yang menghasilkan nada utama, dan busur gesek sederhana yang sering kali memerlukan teknik khusus untuk dimainkan.
Lagia dulunya memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Ia digunakan sebagai medium penyampaian cerita, keluh kesah, nasihat leluhur, hingga ungkapan perasaan personal. Dalam kehidupan masyarakat tradisional Nias yang sangat mengandalkan tradisi lisan, Lagia menjadi sarana penting dalam menjaga kesinambungan cerita dan nilai budaya antargenerasi.
Secara fisik, Lagia memiliki bentuk sederhana namun unik. Walaupun mirip dengan alat musik gesek seperti rebab atau biola, cara memainkannya berbeda. Lagia biasanya diletakkan di atas tanah atau permukaan datar lalu digesek dengan busur. Teknik menggeseknya membutuhkan ketelitian tinggi karena pemain harus mengatur tekanan gesek dan getaran dawai untuk menghasilkan suara yang jelas.
Menurut pandangan masyarakat lokal, Lagia merujuk pada jenis nyanyian atau puisi berirama yang sering disertai dengan pertunjukan alat musik tradisional seperti aruho, doli-doli, dan gendang. Iringan musiknya memiliki karakteristik yang khas. Melodi yang dihasilkan memiliki ciri khas yang tegas, bersifat repetitif, dan berirama. Ini mencerminkan ikatan masyarakat Nias dengan alam, pekerjaan, serta tradisi ritual yang telah mereka laksanakan selama ratusan tahun.
Salah satu ciri khas Lagia adalah perannya dalam tradisi, khususnya pada prosesi owasa yang merupakan pesta kehormatan untuk seorang tokoh atau keluarga yang mengalami peningkatan status sosial. Dalam acara itu, Lagia berfungsi sebagai penghormatan sekaligus pengikat kebersamaan. Lantunan lagu biasanya dipimpin oleh seorang penyanyi utama yang mengalunkan syair-syair tentang sejarah keluarga, keberanian, dan harapan untuk masa depan. Setelah itu, dilanjutkan dengan kelompok yang menyanyikan bersama, menghasilkan harmoni yang memberikan penegasan pada tema tersebut.
Lagia tidak hanya muncul dalam upacara tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia sering dinyanyikan saat bekerja di ladang, merayakan panen, atau bahkan untuk menghibur keluarga di malam hari. Hal ini menjadikan Lagia sebagai bentuk ekspresi yang terus berkembang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, memasuki era modern, Lagia sempat menghadapi tantangan besar. Masuknya musik populer, migrasi generasi muda dari desa ke kota, serta minimnya dokumentasi membuat keberadaan Lagia sempat redup. Banyak anak muda Nias yang tidak lagi mengenal atau mempelajari tradisi musik ini. Para tetua adat menyadari bahwa jika tidak ada usaha pelestarian yang konkret, Lagia bisa hilang dalam satu generasi.
Meski menghadapi tantangan besar, gerakan pelestarian Lagia terus dilakukan. Museum Pusaka Nias menjadi salah satu pusat edukasi yang menyimpan instrumen autentik dan menyediakan ruang pembelajaran bagi masyarakat. Komunitas seni lokal juga mulai membuka kelas musik tradisional, melibatkan maestro-maestro tua untuk mengajarkan teknik bermain serta sejarah Lagia kepada pelajar.
Menariknya, generasi muda mulai menaruh minat baru terhadap Lagia, termasuk menggabungkannya dengan instrumen modern. Kolaborasi musik tradisional dan kontemporer membuat Lagia kembali terdengar dalam berbagai pertunjukan budaya, festival lokal, hingga unggahan media sosial yang menjangkau audiens lebih luas.
Lagia bukan hanya alat musik, ia adalah jejak sejarah, identitas, dan kebijaksanaan leluhur masyarakat Nias. Melestarikannya berarti memahami nilai yang dibawanya, yaitu tentang kebersamaan, penghormatan pada leluhur, serta hubungan manusia dengan alam.
Selama masih ada ruang belajar dan kesadaran budaya, Lagia akan terus hidup. Ia akan mengalun dalam perayaan dan menjadi suara masa lalu yang menuntun masa depan, menjaga agar identitas Nias tetap bergema di tengah ritme zaman.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment