
Oleh: Melda Roza, Ivana Tefincha Zebua, Ramayana Pebriyanti Lumbangaol, Annisa Putri Mahendra
Suara USU, Medan. Kemiskinan adalah masalah sosial dan ekonomi yang kompleks, memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Istilah ini tidak hanya merujuk pada kekurangan materi, tetapi juga mencakup keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang hidup layak. Pemahaman tentang kemiskinan sangat penting untuk merumuskan kebijakan dan strategi penanggulangannya.
Berdasarkan Laporan Pemantauan Global Cakupan Kesehatan Universal 2023 oleh WHO, Secara global pada 2019, sekitar dua miliar orang mengalami kesulitan finansial karena biaya kesehatan, termasuk 344 juta orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Kesehatan sering kali dianggap sebagai “harta yang paling berharga”, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan untuk menjaga “harta” ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi seseorang. Hubungan antara kemiskinan dan kesehatan bukanlah hubungan satu arah, melainkan sebuah siklus kompleks yang saling mempengaruhi.
Kesehatan yang baik merupakan landasan kesejahteraan individu dan penentu penting kemakmuran masyarakat. Namun, distribusi hasil kesehatan di berbagai populasi seringkali tidak merata, dengan faktor sosioekonomi yang memberikan pengaruh signifikan. Meskipun ada kemajuan dalam perawatan kesehatan, kesenjangan kesehatan yang terus-menerus tetap ada, di mana individu dan komunitas yang menghadapi kesulitan ekonomi mengalami hasil kesehatan yang lebih buruk
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan status ekonomi sebagai salah satu Determinan Sosial Kesehatan (Social Determinants of Health) yang paling krusial. Lantas, bagaimana sebenarnya kemiskinan menggerogoti kualitas kesehatan masyarakat?
1. Gizi Buruk dan Ancaman Stunting
Dampak paling nyata dari kemiskinan adalah ketidakmampuan keluarga untuk membeli pangan yang bergizi.
- Kuantitas vs. Kualitas: Keluarga miskin cenderung memprioritaskan rasa kenyang (karbohidrat tinggi) dibandingkan nutrisi (protein, vitamin, mineral) karena harga makanan bernutrisi relatif lebih mahal.
- Dampak Jangka Panjang: Hal ini menyebabkan malnutrisi pada anak-anak, yang berujung pada stunting (gagal tumbuh). Stunting tidak hanya memengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak dan kognitif anak, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas mereka di masa depan.
2. Lingkungan Hidup dan Sanitasi yang Buruk
Kemiskinan sering kali memaksa masyarakat untuk tinggal di lingkungan yang padat penduduk, kumuh, dan minim infrastruktur dasar.
- Akses Air Bersih: Kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular seperti diare, kolera, dan tifus.
- Kualitas Udara: Perumahan yang berventilasi buruk dan penggunaan bahan bakar murah (seperti kayu bakar di dalam ruangan) meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Tuberkulosis (TBC).
3. Keterbatasan Akses Layanan Kesehatan
Meskipun di beberapa negara (termasuk Indonesia) sudah ada jaminan kesehatan nasional, hambatan bagi masyarakat miskin tetap ada:
- Hambatan Biaya Non-Medis: Biaya transportasi menuju fasilitas kesehatan atau hilangnya upah harian saat harus mengantre di rumah sakit sering menjadi alasan masyarakat miskin menunda pengobatan.
- Kualitas Layanan: Fasilitas kesehatan di daerah kantong kemiskinan sering kali memiliki peralatan yang kurang memadai atau kekurangan tenaga medis dibandingkan fasilitas di daerah perkotaan yang makmur.
- Perilaku Pencarian Pengobatan: Akibat keterbatasan biaya, masyarakat miskin cenderung hanya berobat ketika penyakit sudah parah (stadium lanjut), yang membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan angka harapan hidup lebih rendah.
4. Beban Kesehatan Mental
Aspek yang sering terlupakan adalah dampak psikologis dari kemiskinan.
- Stres Kronis: Kekhawatiran terus-menerus mengenai cara membayar sewa, membeli makan, atau melunasi utang memicu stres kronis.
- Dampak Fisiologis: Stres berkepanjangan ini meningkatkan produksi hormon kortisol, yang dapat memicu hipertensi, penyakit jantung, dan melemahkan sistem imun tubuh. Kemiskinan adalah faktor risiko utama untuk depresi dan gangguan kecemasan.
Kemiskinan dan kesehatan memiliki hubungan timbal balik yang membentuk “lingkaran setan”, di mana keterbatasan ekonomi menjadi akar utama dari gizi buruk, sanitasi yang tidak layak, stres kronis, dan hambatan akses medis yang secara langsung menurunkan kualitas hidup seseorang. Kondisi kesehatan yang memburuk ini kemudian memperdalam jurang kemiskinan akibat hilangnya produktivitas kerja dan tingginya beban biaya pengobatan yang harus ditanggung. Dengan demikian, upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat tidak akan efektif jika hanya berfokus pada aspek medis semata tanpa dibarengi intervensi struktural untuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi dan menjamin pemerataan akses terhadap kebutuhan dasar.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerjaan Sosial Internasional dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritongga, S.Sos., M.Kesos.
Leave a comment