Home Tulisan Mahasiswa USU Gelar Edukasi Anti Perundungan untuk Perkuat Kesehatan Psikologis Siswa
Tulisan

Mahasiswa USU Gelar Edukasi Anti Perundungan untuk Perkuat Kesehatan Psikologis Siswa

Share

Oleh: Kelompok MKWK Anti Perundungan 73

Suara USU, Medan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) melalui proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) mengadakan sosialisasi bertema “Edukasi dan Aksi Anti Perundungan untuk Melindungi Kondisi Psikologis Anak” di SMP Namira Islamic School, Jl. Pasar 1 No. 76, Tanjung Sari, Medan Selayang, pada Selasa, 21 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh dua puluh satu siswa dari tingkat sekolah menengah pertama. Kegiatan ini berfokus pada peningkatan pemahaman siswa mengenai berbagai bentuk perundungan, baik verbal, fisik, maupun non-verbal yang sering muncul di lingkungan sekolah serta dampak psikologis yang sering muncul pada korban. Melalui penyampaian materi yang disusun secara terstruktur, mahasiswa USU berupaya membuka ruang diskusi yang mendorong siswa untuk memahami pentingnya sikap saling menghargai dan mampu membedakan tindakan yang termasuk kategori perundungan dengan interaksi sosial yang wajar.

Kegiatan ini juga bertujuan memperkenalkan jenis-jenis perundungan yang umum terjadi di lingkungan sekolah, baik yang muncul secara langsung maupun yang terbentuk dalam pergaulan sehari-hari. Mahasiswa memberikan pemahaman mengenai bagaimana kondisi emosional korban dapat terganggu apabila pengalaman perundungan tidak ditangani dengan tepat. Karena itu, sosialisasi ini diharapkan menjadi referensi penting bagi  pihak  sekolah,  guru, dan  orang  tua  dalam  usaha  bersama  mencegah  dan menindaklanjuti kasus perundungan di lingkungan sekolah. Melalui pemahaman tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan informasi tetapi juga diajak menumbuhkan kepekaan serta rasa tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih positif.

Dalam sesi wawancara, Bapak Agung selaku perwakilan kesiswaan SMP Namira Islamic School memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa USU. Beliau menilai kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan siswa, sangat membantu sekolah dalam memperkuat upaya pencegahan perundungan. Beliau menyatakan, “Kegiatan semacam ini selaras dengan kebutuhan sekolah karena memberikan pemahaman langsung kepada siswa mengenai perilaku yang harus dihindari”. Ia juga menilai bahwa penyampaian materi akan menjadi jauh lebih kuat apabila dilengkapi dengan sesi praktik atau role playing yang memungkinkan siswa melihat contoh nyata perilaku perundungan, baik dalam bentuk verbal maupun fisik. Menurutnya, metode praktik langsung idealnya dilakukan per kelas sehingga hasil pembelajaran dapat lebih mendalam dan menyentuh pengalaman pribadi setiap siswa.

Bapak Agung juga menjelaskan bahwa materi yang dibawakan mahasiswa telah sesuai dengan kondisi siswa saat ini dan berperan penting dalam pembentukan karakter mereka. Ia berharap kegiatan sosialisasi dapat memberikan dampak positif pada perubahan perilaku siswa, baik di lingkungan sekolah maupun dalam interaksi sosial di luar sekolah. Selain itu, ia menekankan pentingnya pendampingan personal bagi siswa yang berpotensi menjadi korban atau yang telah mengalami perundungan. Beberapa siswa memiliki kepribadian yang tertutup sehingga membutuhkan pendekatan perlahan dan penuh empati agar mereka merasa aman untuk mengungkapkan pengalaman yang sedang mereka hadapi.

Melalui pelaksanaan program Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) ini, harapannya lingkungan sekolah dapat berkembang menjadi ruang yang aman, nyaman, dan suportif bagi pembentukan karakter dan kesehatan psikologis siswa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi kontribusi nyata mahasiswa terhadap dunia pendidikan, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam meminimalkan dampak jangka panjang yang merugikan baik bagi korban maupun pelaku perundungan. Sinergi antara mahasiswa, sekolah, guru, dan orang tua diharapkan mampu menciptakan budaya sekolah yang lebih sehat sehingga siswa dapat tumbuh dan berkembang dalam suasana yang mendukung kemajuan akademik dan kesejahteraan emosional mereka.

Dengan adanya kegiatan edukasi anti-perundungan ini, diharapkan siswa SMP Namira School lebih memahami cara mencegah perundungan, berani melapor apabila menjadi korban, serta mampu menunjukkan empati kepada teman sebaya. Proyek MKWK USU menjadi langkah nyata bahwa mahasiswa tidak hanya belajar dalam ruang kelas, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih aman dan manusiawi.

Artikel ini merupakan publikasi tugas proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum dengan dosen fasilitator Dr. Iwan Nasution, MHI

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.