Oleh: Ruthmala Kristiani Harefa, Caroline Andhara Johan Hulu, Lisa Amanda Manalu, dan Siti Zulaiha
Suara USU, Medan. Dalam upaya memahami dampak sosial dan lingkungan akibat melonjaknya penyakit menular, kami mahasiswa Universitas Sumatera Utara dari mata kuliah Pekerja Sosial Internasional, Fakultas Keperawatan, Program Studi Ilmu Keperawatan, melakukan analisis kasus (case method). Kelompok ini terdiri dari Ruthmala Kristiani Harefa (221101129), Caroline Andhara Johan Hulu (221101180), Lisa Amanda Manalu (221101202), dan Siti Zulaiha (221101218) dengan dosen pengampu mata kuliah Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos. Analisis kami berfokus pada dampak penyakit menular terhadap pekerja sosial khususnya di bidang kesehatan.
Penyakit menular hingga saat ini masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat baik di tingkat nasional maupun global. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menegaskan bahwa meskipun tren penyakit tidak menular terus meningkat, penyakit menular tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap angka kesakitan dan kematian di seluruh dunia.
Salah satu penyakit menular yang saat ini atau pernah membuat kecemasan terhadap tenaga medis ataupun non tenaga medis yaitu Tuberkulosis (TBC) dan COVID-19. Tuberkulosis (TBC) dan COVID-19 merupakan dua penyakit menular yang masih menjadi perhatian besar dalam kesehatan global. Menurut Kementerian Kesehatan RI, yang merujuk pada laporan terbaru dari World Health Organization (WHO), kedua penyakit ini terus memberikan dampak signifikan terhadap angka kesakitan dan kematian di seluruh dunia.
Secara global, WHO melaporkan bahwa TBC masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi. Diperkirakan terdapat sekitar 10,6 juta kasus TBC baru setiap tahun di seluruh dunia. Sementara itu, COVID-19 juga memberikan dampak luar biasa sejak kemunculannya pada akhir 2019. WHO mencatat ratusan juta kasus dan jutaan angka kematian secara global selama puncak pandemi.
Tuberkulosis (TBC) dan COVID-19 bukan hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga tantangan sosial yang kompleks. Dalam konteks ini, pekerja sosial memegang peran penting dalam mendukung penanganan kedua penyakit tersebut, karena dampaknya tidak hanya pada kesehatan individu, tetapi juga pada kondisi sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat.
Dalam wawancara dengan Kak Maranti dan Kak Fara Diba, seorang pekerja tenaga medis, ia mengungkapkan bahwa “penyakit menular tidak hanya mencekam di bidang kesehatan tetapi juga memengaruhi ekonomi, tetapi dalam dunia kesehatan hal ini bisa menjadi kerja sama antara negara seperti pembuatan dan penyebaran vaksin atau media telemedicine untuk mempermudah masyarakat untuk konsultasi kesehatan”. Suara ini mewakili banyak masyakarat yang terdampak oleh penyebaran penyakit menular ini.
Secara keseluruhan, hasil wawancara dan analisis kami menunjukkan bahwa tantangan dalam menangani penyakit menular tidak hanya terletak pada aspek medis, tetapi juga pada keterbatasan fasilitas kesehatan yang masih terjadi di berbagai wilayah. Kekurangan sarana, ketimpangan akses layanan, serta beban kerja tenaga kesehatan menggambarkan bahwa isu ini membutuhkan perhatian global yang lebih kuat. Sebagai mahasiswa keperawatan, kami melihat pentingnya peran generasi muda dalam merespons persoalan ini melalui peningkatan literasi kesehatan, keterlibatan aktif dalam edukasi masyarakat, serta kesiapan berkolaborasi dalam upaya kesehatan lintas negara. Dengan memahami realitas di lapangan, kami berharap dapat mengambil bagian dalam memperkuat sistem kesehatan dan memberikan kontribusi nyata terhadap penanganan isu kesehatan global di masa depan.
Dalam laporan ini, mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara menyoroti tantangan besar dalam penanganan penyakit menular, khususnya keterbatasan fasilitas kesehatan dan beban kerja tenaga medis yang masih tinggi. Melalui hasil wawancara dengan tenaga kesehatan, terungkap bahwa dampak penyakit seperti TBC dan COVID-19 tidak hanya dirasakan pada aspek medis, tetapi juga memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Sebagai generasi muda yang sedang belajar di bidang kesehatan, para mahasiswa menegaskan pentingnya meningkatkan literasi kesehatan, memperkuat kolaborasi lintas negara, serta mempersiapkan diri untuk berkontribusi dalam menghadapi isu kesehatan global. Temuan ini menjadi pengingat bahwa penyakit menular merupakan tantangan bersama yang membutuhkan perhatian, empati, dan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment