Home Tulisan Mahasiswa Statistika USU Ungkap Rahasia Kesuksesan Petani Buah di Dataran Tinggi Karo
Tulisan

Mahasiswa Statistika USU Ungkap Rahasia Kesuksesan Petani Buah di Dataran Tinggi Karo

Share

Oleh: Rizki Indah Ayubi, Rizki Ardiansyah, Balqis Raudha, dan M. Haekal Adam Sutara

Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi D3 Statistika Fakultas Vokasi Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil mengungkap faktor-faktor penting yang memengaruhi biaya perawatan tanaman buah di Desa Jaranguda, Kabupaten Karo. Penelitian ini dilakukan oleh empat mahasiswa, yaitu Rizki Indah Ayubi, Rizki Ardiansyah, Balqis Raudha, dan M. Haekal Adam Sutara, sebagai bagian dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berlangsung pada Agustus hingga September 2025. Selama kurang lebih 30 hari, mereka melakukan penelitian langsung di desa yang berada pada ketinggian 1.453 meter di atas permukaan laut dan dikenal sebagai salah satu sentra pertanian buah dataran tinggi di Sumatera Utara.

Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa tidak hanya mengolah data di balik layar, tetapi juga terjun langsung ke lapangan dengan berinteraksi intensif bersama para petani buah. Mereka mengikuti berbagai kegiatan masyarakat, termasuk gotong royong dan pengenalan wilayah di empat dusun yang ada di Desa Jaranguda. Pendekatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kepercayaan dengan masyarakat setempat sehingga proses pengumpulan data dapat berjalan dengan lancar. Tim juga harus beradaptasi dengan budaya lokal, memahami istilah pertanian, serta menyesuaikan diri dengan kondisi geografis wilayah pegunungan.

Selama dua minggu pertama, tim melakukan wawancara mendalam terhadap 41 petani buah yang mengelola berbagai komoditas seperti jeruk dan markisa. Proses pengumpulan data dilakukan secara langsung di kebun-kebun petani dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Melalui interaksi tersebut, tim menemukan adanya perbedaan signifikan dalam pola panen, hasil produksi, dan biaya perawatan antarpetani, meskipun berada dalam satu wilayah yang sama. Perbedaan inilah yang kemudian menjadi dasar rasa ingin tahu tim untuk dianalisis lebih lanjut secara statistik.

Data yang telah terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS dan Microsoft Excel. Proses ini memerlukan ketelitian tinggi karena tidak semua data dapat langsung digunakan. Tim melakukan pembersihan, pengkodean, serta verifikasi ulang terhadap sejumlah data, bahkan kembali menemui petani untuk memastikan keakuratan informasi. Analisis dilakukan secara regresi untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel, seperti frekuensi panen, jumlah hasil panen, luas lahan, dan harga jual, terhadap biaya perawatan tanaman.

Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi panen menjadi faktor paling dominan dalam memengaruhi biaya perawatan. Setiap penambahan satu kali panen dalam setahun berkorelasi dengan peningkatan biaya perawatan hingga sekitar Rp2,8 juta. Selain itu, jumlah hasil panen juga berbanding lurus dengan biaya, di mana setiap peningkatan satu kilogram hasil panen diikuti kenaikan biaya perawatan sekitar Rp1.014. Temuan menarik lainnya adalah luas lahan dan harga jual buah tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap biaya perawatan. Hal ini mengindikasikan bahwa petani di Desa Jaranguda lebih berfokus pada perawatan per tanaman dibandingkan luas lahan, serta tetap menjaga standar perawatan meskipun harga jual berfluktuasi.

Hasil penelitian ini kemudian disajikan dalam bentuk laporan, infografis, dan dashboard interaktif yang diserahkan kepada Pemerintah Desa Jaranguda. Kepala Desa Jaranguda, Elisa Sinuraya, S.H., menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa USU karena data yang dihasilkan dinilai sangat membantu dalam perencanaan program pemberdayaan petani dan pengambilan kebijakan berbasis data. Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat ini dianggap sebagai contoh nyata sinergi antara dunia akademik dan kebutuhan riil masyarakat.

Bagi para mahasiswa, pengalaman PKL ini memberikan pembelajaran yang jauh melampaui aspek akademik. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan teknis dalam pengolahan dan analisis data, tetapi juga belajar berkomunikasi dengan masyarakat, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta memahami langsung tantangan yang dihadapi petani. Interaksi dengan para petani juga memberikan pelajaran tentang ketekunan, kesabaran, dan nilai kerja keras yang tidak diperoleh di ruang kelas.

Melalui penelitian ini, tim berharap semakin banyak mahasiswa yang berani keluar dari zona nyaman dan melihat bahwa ilmu statistika memiliki peran strategis dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Mereka juga merekomendasikan adanya penelitian lanjutan yang mempertimbangkan faktor lain, seperti kondisi cuaca, varietas tanaman, dan penerapan teknologi pertanian. Dengan pengelolaan data yang baik dan dukungan kebijakan yang tepat, Desa Jaranguda dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani di masa mendatang.

Artikel ini merupakan publikasi laporan PKL Mahasiswa D3 Statistika Universitas Sumatera Utara

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.