
Oleh: Vera Lidia Marpaung, Santi Romi Arta, Soca Dwinanda
Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara (USU) sedang melaksanakan tugas PBL (Problem Based Learning) pada mata kuliah Pekerja Sosial Internasional yang dibimbing oleh Bapak Fajar Utama Ritonga, S. Sos., M. Kesos. Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah melalui pengkajian kasus nyata. Dalam artikel ini, kami mengulas permasalahan Tuberkulosis (TB) bukan hanya sebagai persoalan medis, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.
Epidemiologi Global dan Indonesia: Situasi Darurat. menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2023 terdapat sekitar 10,8 juta kasus TB baru di dunia dengan insiden 134 per 100.000 penduduk. Total kematian akibat TB kembali meningkat, menjadikan TB sebagai salah satu penyakit menular paling mematikan secara global.
Indonesia berada dalam kondisi darurat sebagai salah satu negara dengan beban TB tertinggi dunia. Data tahun 2024 menunjukkan sekitar 885.000 kasus TB ditemukan di seluruh Indonesia. Namun estimasi prevalensi memperkirakan angka sebenarnya lebih tinggi karena masih banyak kasus yang belum ditemukan atau tidak terdiagnosis.
Kota Medan sebagai Kontributor Kasus tinggi, anggota Medan sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia turut menyumbang beban TB nasional secara signifikan. Berdasarkan Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Medan 2024, tercatat 17.654 kasus baru TB BTA+ pada tahun tersebut.
Dari angka itu:
11.021 kasus → laki-laki
6.633 kasus → perempuan
1.154 kasus → anak usia 0–14 tahun
Dominasi kasus pada laki-laki dikaitkan dengan mobilitas tinggi dan faktor risiko perilaku seperti merokok, yang mengkhawatirkan, angka keberhasilan pengobatan (TSR) turun drastis dari 83,4% (2023) menjadi 26,7% (2024), dengan angka kesembuhan hanya 16,3%. Penurunan ini dipengaruhi oleh durasi terapi panjang, putus obat, peningkatan komorbid HIV, serta munculnya TB-MDR.
Laporan dinas kesehatan juga mencatat 13 kematian akibat TB paru pada tahun 2024 menunjukkan bahwa TB masih menjadi penyebab kematian signifikan di wilayah perkotaan padat seperti Medan. Dari data ini terlihat bahwa TB di kota besar bukan hanya isu medis, tetapi menjadi tantangan sistem kesehatan yang lebih kompleks dan mendesak.
Problem TB di Indonesia Lebih dari Sekadar Infeksi, berdasarkan literatur dan observasi sosial, kami identifikasi sejumlah tantangan klasik dalam penanggulangan TB di Indonesia: Stigma sosial terhadap penderita TB dianggap sebagai penyakit berbahaya/”kotor” sehingga individu enggan melapor atau berobat. Kesadaran gejala rendah batuk lama, penurunan berat badan, keringat malam sering dianggap sakit ringan, sehingga banyak kasus terlambat terdiagnosis. Ketidakpatuhan terapi durasi pengobatan panjang (± 6 bulan atau lebih), efek samping, biaya tidak langsung (transport, waktu kerja) menyebabkan banyak pasien putus obat berisiko munculnya resistensi obat. Kepadatan hunian & sanitasi lingkungan buruk memfasilitasi penularan, terutama di area urban atau komunitas padat. Keterbatasan akses pelayanan primer & diagnostik fasilitas kesehatan primer kurang didukung dengan alat diagnostik cepat dan sistem rujukan yang efisien menunjukkan banyak kasus tidak terdeteksi atau terlambat ditangani. Masalah ini menunjukkan bahwa TB di Indonesia sudah melebar dari sekadar infeksi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang kompleks dan multidimensional.
Kerangka Teoritis dan Bukti Ilmiah: Mengapa TB Sulit Teratasi
Dalam analisis kami, tiga kerangka teoritis membantu menjelaskan mengapa TB tetap eksis meskipun ada pengobatan efektif:
- Health Belief Model (HBM): Persepsi risiko rendah, rasa stigma, serta hambatan sosial-ekonomi membuat individu enggan skrining dan menyelesaikan pengobatan, meskipun manfaat terapi jelas.
- Social Determinants of Health: Faktor sosial-ekonomi, lingkungan tempat tinggal, sanitasi, dan akses layanan sangat menentukan kerentanan TB menunjukkan bahwa intervensi medis saja tidak cukup tanpa kebijakan sosial dan lingkungan.
- Model Keperawatan Komunitas: Perawat memiliki posisi strategis dalam skrining, edukasi, pengawasan terapi, dukungan psikososial, dan advokasi menjembatani aspek klinis dan sosial.
Temuan riset sebelumnya mendukung kerangka ini: skrining aktif dan kontak tracing meningkatkan temuan kasus; edukasi dan pendampingan sosial memperbaiki kepatuhan; pengawasan ketat (misalnya lewat DOTS) menurunkan angka kegagalan terapi; sementara stigma menjadi penghambat pencarian layanan.
Secara global, bentuk TB resistan obat juga tetap menjadi ancaman serius dalam prevalensi MDR-TB pada kasus baru diperkirakan sekitar 3–4% secara global, dan lebih tinggi pada kasus yang pernah berobat sebelumnya.
Dampak Luas TB: Kesehatan, Sosial, dan Ekonomi
TB membawa konsekuensi berat bukan hanya bagi pasien, tetapi keluarga dan masyarakat:
Kesehatan : TB dapat menyebabkan kerusakan paru permanen, kecacatan, penyakit paru kronik, dan kematian terutama jika terlambat ditangani atau terjadi resistensi.
Sosial : Stigma, isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, dan beban keluarga. Anak-anak bisa kehilangan hak pendidikan bila anggota keluarga utama sakit lama.
Ekonomi : Produktivitas menurun, biaya pengobatan dan transport meningkat, serta beban sistem kesehatan nasional membengkak terutama untuk bentuk MDR-TB yang pengobatannya jauh lebih mahal.
Publik/global : Indonesia yang termasuk negara dengan beban TB tinggi berkontribusi signifikan terhadap beban global. Gagal menangani TB berarti menjaga reservoir infeksi yang dapat menyebar lintas wilayah. Rekomendasi Strategis dari Perspektif Keperawatan dan Kebijakan
Berdasarkan analisis di atas, menurut pendapat kami, beberapa hal yang bisa kami rekomendasikan yaitu:
1. Penguatan kapasitas perawat komunitas, pelatihan lanjutan manajemen TB & MDR-TB
, pembentukan tim perawat khusus TB di puskesmas, skrining aktif, tracing kontak, DOTS, dan home visit
2. Dukungan sosial-ekonomi untuk pasien berupa bantuan transport, nutrisi, dan insentif bagi pasien kerjasama dengan pekerja sosial, pemerintah lokal, dan lembaga kemanusiaan
3. Digitalisasi dan inovasi pemantauan
Pemanfaatan teknologi (misalnya aplikasi pengingat minum obat, pelaporan efek samping, sistem rujukan digital) Integrasi data nasional untuk pemetaan hotspot dan respons cepat
4. Perbaikan kondisi lingkungan dan perumahan sehat
Kampanye ventilasi rumah, sanitasi, dan hunian layak terutama di area padat, kolaborasi sektor kesehatan, perumahan, dan sosial, dengan strategi ini, kami yakin bahwa Indonesia dapat memperkuat sistem kesehatan primer, mempercepat deteksi dan pengobatan, serta menekan penyebaran TB mendekatkan diri ke target eliminasi global.
Kesimpulan
TB tetap menjadi “pembunuh sunyi” yang menyasar jantung kesehatan masyarakat, terutama di negara dengan beban tinggi seperti Indonesia termasuk Kota Medan sebagai episentrum urban. Penanggulangan TB tidak bisa hanya mengandalkan obat, tetapi memerlukan strategi komprehensif yang menggabungkan aspek klinis, sosial, dan kebijakan. Perawat komunitas, sebagai ujung tombak layanan kesehatan primer, memegang peran sentral dalam mendeteksi kasus, mendampingi pasien, serta memutus rantai penularan. Dengan implementasi upaya yang serius dan berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar dalam mengurangi beban TB secara signifikan dan berkontribusi pada eliminasi TB di tingkat global.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional yang dibimbing oleh Bapak Fajar Utama Ritonga, S. Sos., M. Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment