Oleh: Elvira Khairani, Syahna Sahara, Nurhidayah, Hanna Erista
Suara USU, Medan. Anemia merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Angka prevalensi anemia masih tergolong tinggi pada masyarakat Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, diketahui prevalensi anemia masing-masing sebesar 18,0% pada perempuan, dan 14,4% pada laki-laki dewasa. Meski pemerintah telah meluncurkan program konsumsi tablet tambah darah, pertanyaan besar muncul: apakah konsumsi tablet tambah darah mereka sudah efektif?
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyoroti bahwa dari 12,1 juta anak muda, terdapat lebih dari 8,3 juta anak muda yang tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Penelitian di Indonesia mengidentifikasi bahwa kepatuhan konsumsi tablet tambah darah merupakan faktor utama dalam pencegahan anemia. Risiko anemia tercatat 24,5 kali lebih tinggi pada anak muda yang tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah.
Menanggapi permasalahan ini, Grace Olivia sebagai narasumber kalangan anak muda menyatakan bahwa penyebab anemia pada anak muda berasal dari kurangnya konsumsi makanan bergizi, dan kurangnya konsumsi tablet tambah darah, dimana tablet tambah darah diketahui perlu dikonsumsi minimal sekali dalam seminggu.

“Anak muda sering tidak rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) karena dipersepsikan tidak penting, merasa dirinya masih sehat, dan tidak merasakan keluhan seperti lemas, letih, serta kurangnya edukasi mengenai pentingnya tablet tambah darah,” tutur mahasiswi Fakultas Keperawatan USU, Grace Olivia.
Di lain sisi, mahasiswi bernama Gabriella dari Prodi Manajemen USU mengatakan bahwa ia pernah mengonsumsi tablet tambah darah, tetapi cara konsumsinya belum tepat karena tidak rutin dan sering terlewat.
Jika ditinjau berdasarkan masalah yang muncul dalam konsumsi tablet tambah darah di kalangan anak muda, menunjukkan bahwa mereka cenderung tidak melakukan tindakan pencegahan apabila tidak merasa dirinya berisiko atau tidak menganggap serius kondisi ini. Fenomena kalangan anak muda yang mengabaikan konsumsi tablet tambah darah ini sejalan dengan teori kesehatan Health Belief Model. Teori ini menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk menerapkan perilaku sehat dipengaruhi oleh cara mereka memandang risiko dan manfaat suatu tindakan, sehingga teori ini sering digunakan untuk memahami mengapa seseorang mau atau enggan melakukan pencegahan penyakit.
Kurangnya konsumsi tablet tambah darah pada kalangan anak muda membuat pemerintah Indonesia menerbitkan program pemberian tablet tambah darah secara gratis pada kalangan anak muda. Namun, hal tersebut tampaknya tidak terlalu mendorong penurunan kasus anemia pada masyarakat Indonesia. Lantas, solusi yang bagaimana dapat dilakukan guna mengatasi masalah peningkatan kasus anemia di Indonesia?
Untuk mengatasi persoalan anemia secara lebih komprehensif, peran pekerja sosial mungkin diperlukan. Sistem pelayanan dan program kesehatan dalam pencegahan anemia yang ada tentunya membutuhkan berbagai profesi dalam mendukung keberhasilannya. Peran pekerja sosial dapat berkontribusi dalam hal ini.
Peran pekerja sosial sebagai fasilitator, dapat menjadi pendampingan terdekat dalam memberikan informasi kesehatan. Mereka juga berperan sebagai advokator dalam memberikan rekomendasi atau arahan terkait konsumsi tablet tambah darah yang benar. Peran mereka sebagai konselor juga dapat mendorong motivasi bagi kalangan muda untuk rutin mengonsumsi tablet tambah darah dan memberikan saran atau rekomendasi terkait hambatan sosial dan psikologis yang membuat remaja tidak patuh.
Permasalahan anemia yang melonjak disebabkan oleh ketidakpatuhan dalam mengonsumsi tablet tambah darah yang merupakan faktor penting dalam pencegahan anemia di kalangan anak muda. Kolaborasi antara pemerintah, profesi kesehatan dan pekerja sosial diharapkan dapat memperkuat peran mereka masing-masing agar edukasi benar menjangkau kalangan yang berisiko serta mampu menekan angka kejadian anemia di Indonesia.
Artikel ini merupakan publikasi tugas MKWU Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritongga S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment