SUARA USU
Opini

Mahasiswa Hari Ini

Oleh: M. Wirayudha Azhari Lubis

Suara USU, Medan. Mahasiswa adalah seseorang yang secara administrasi resmi terdaftar sebagai pelajar pada perguruan tinggi (PT). Menyandang predikat sebagai insan intelektual, terpelajar, idealis dan juga sebagai agen pembawa perubahan (agent of change).

Idealisme, kritis, dan demokrasi adalah tiga hal yang seharusnya tidak dapat dipisahkan dari diri mahasiswa tersebut. Idealisme dapat disebut komitmen yang mengakar kuat dalam diri seseorang yang terwujud dalam sikap, pikiran, dan tindakan. Lalu, kritis merupakan tindakan lanjut setelah seseorang memiliki idealisme di dalam dirinya. Demokrasi pun begitu, idealisme dan sikap kritis yang dimiliki adalah sebuah kesia-siaan jika tidak ada demokrasi yang ideal sebagai wadahnya.

Hari ini, sudah sepantasnya kita kembali mendiskusikan hal tersebut. Mahasiswa hari ini, lunturnya idealisme, kurangnya sikap kritis, merusak nilai demokrasi. Bagaimana kemudian penulis memberikan pernyataan tersebut merupakan hal yang kini sedang dirasakan penulis sebagai satu diantara kalangan mahasiswa tersebut.

Lunturnya idealisme, merupakan sebuah gambaran yang sangat nyata pada diri mahasiswa hari ini. Idealisme yang dulu diagung-agungkan kini mulai tergerus oleh perkembangan zaman yang menghadirkan teknologi sebagai kemudahan hidup.

Mahasiswa seakan tertutup matanya, tidak berdaya ketika diiming-imingi dengan beasiswa, fasilitas perkuliahan dan gaya hidup serba mudah yang diduga membuat mahasiswa kehilangan idealismenya sendiri.

Gaya hidup modern dan individualis menjadi dua faktor kuat peluntur idealisme tersebut. Segala sesuatu kini dinilai bernasarkan keuntungan materi. Melakukan hal tanpa profit dan keuntungan materi adalah sebuah hal yang sia-sia bagi mahasiswa hari ini. Program magang dengan benefit uang pendidikan kian digandrungi ketimbang diskusi-diskusi atas hajat hidup orang banyak.

Perpecahan di berbagai kalangan mahasiswa kini semakin mengental, tidak ada lagi satu arah pemikiran yang dapat ditarik dari berbagi kalangan tersebut. Kepentingan golongan dan pribadi menjadi momok dan tolak ukur bagi mereka, bukan lagi kepentingan hidup orang banyak.

Idealisme dan sikap kritis yang tergerus tentu saja berdampak banyak dengan demokrasi hari ini. Tidak perlu jauh-jauh dengan objek “Demokrasi di Indonesia”. Hari ini, Demokrasi dikampus saja masih perlu dipertanyakan. Bagaimana tidak, hari ini dikampus penulis sendiri, Universitas Sumatera Utara kini mengangkangi nilai besar dari demokrasi tersebut.

Hal besar yang kini tengah dihadapi adalah apatisnya mahasiswa atas demokrasi dikampusnya sendiri. Presiden Mahasiswa yang seharusnya menjadi refleksi dan cerminan mahasiswa dikampus itu sendiri menjadi oknum pelakunya. Ego besar sang presiden mahasiswa yang enggan mundur dari masa jabatannya yang sudah habis, semakin membuat mahasiswa dikampus itu menjadi apatis dan kehilangan kepercayaan atas pemerintahan mahasiswa itu sendiri. Keinginan besar menuntaskan seluruh proyek kerja merupakan ego buruk atas kepentingan pribadi maupun golongannya. Kurangnya peran mahasiswa sebagai agen kontrol hal tersebut menjadikan sang presiden mahasiswa tersebut semakin semena mena. Terhitung, sudah hampir 3 bulan sang presiden tersebut enggan turun.

Tutup mata atas nilai demokrasi tentu saja mencerminkan kemunduran pemikiran mahasiswa. Lihat saja kasus hari ini, adakah mahasiswa yang mendiskusikan atau melakukan tindakan lanjut atas perbuatan sang presiden mahasiswa tersebut? Tentu saja tidak. Semuanya hanya fokus pada kepentingan pribadi dan golongannya. Sangat miris, di akhir paragraf ini penulis menyampaikan turut berduka cita atas matinya nilai demokrasi di Universitas Sumatera Utara hari ini. Salam!

Seperti kata-kata Soe Hok Gie, “Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi”

Redaktur: Salsabila Rania Balqis

 

Related posts

Mulai Merasa Jenuh Saat Kuliah? Ini Tips Untuk Mengatasinya

redaksi

Produktif Harus Diiringi Tanggung Jawab!

redaksi

Kurang Menjualnya Budaya Indonesia

redaksi