SUARA USU
Opini

Minimalkan Erosi, Langkah Awal Selamatkan Tanah di DAS Percut

Oleh : Niara Sari Sevania Simaramata

Suara USU, Medan. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kesatuan wilayah yaitu berupa sistem lahan yang tertutup, permukaan alam berupa punggung bukit yang hujan sebagai masukan, menyimpan dan mengalirkan udara, serta tidak diragukan lagi yang terikut melalui anak-anak sungai yang kemudian menuju satu sungai utama lalu berakhir di laut atau danau. DAS memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia karena merupakan tempat aktivitas manusia berlangsung. DAS Percut merupakan salah satu DAS yang berada di Sumatera Utara dengan bagian hilirnya adalah Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan. Seperti yang kita ketahui bahwa pada musim hujan Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan rawan banjir.

Erosi merupakan proses terangkutnya tanah bagian atas yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang baik sehingga terjadinya erosi dapat mempengaruhi produktivitas tanah. Kurangnya produktivitas tanah dapat menyebabkan krisis pangan, kelangkaan air, ketersediaan keanekaragaman hayati, terjadinya perubahan, yang sehat bahkan dapat memicu terjadinya konflik. Tanah mendukung banyak kehidupan mulai dari tumbuhan, satwa bahkan manusia.

Tanah merupakan penyerap karbon terbesar di dunia setelah lautan. Tanah yang kaya akan bahan organik menahan dan menyimpan CO 2 . Tanah yang kaya akan bahan organik sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan tanaman agar emisi karbon yang berlebihan dapat dihilangkan. Pohon, tanaman, semak dan rerumputan yang tumbuh di atas tanah adalah paru-paru bumi yang memberikan kita oksigen dan menyerap CO 2 . Hal ini dapat langsung kita rasakan saat kita berada di wilayah yang padat akan vegetasi seperti hutan, berada di tengah hutan memberikan sensasi yang membuat kita lebih tenang dan segar.

Tanah yang subur mempengaruhi produktivitas tanaman sehingga dapat menghasilkan produksi pangan yang sehat. Tanah merupakan media tumbuh dari sebagian besar makanan yang kita makan. Tanah sangat mempengaruhi kehidupan tumbuhan yang secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan makhluk hidup lainnya yaitu satwa dan manusia. Tanah juga berperan penting dalam ketersediaan air. Tanah yang mengalami erosi besar dan rusak tidak dapat menyerap dan mengatur aliran udara. Tidak mampunya tanah dalam menyerap air dapat menyebabkan kelangkaan air, kekeringan bahkan banjir akibat pendangkalan sungai dari sedimentasi yang disebabkan oleh erosi tanah. Bahan organik yang banyak berada di lapisan atas tanah tanah dapat hilang terbawa erosi. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya erosi di DAS Percut bervariasi dari sangat ringan sampai sangat berat. Erosi dengan kelas sangat ringan yaitu seluas 9.311,80 ha, kelas ringan yaitu seluas 9.937,91 ha, kelas sedang yaitu seluas 15.472,08 ha, kelas berat yaitu 3.566,03 ha dan kelas sangat berat yaitu seluas 2.648,51 ha. Luasnya erosi dengan kelas yang sangat berat tentu merupakan faktor yang mempengaruhinya yaitu erosivitas hujan, erodibilitas tanah, kemiringan lereng, faktor tanaman dan tindakan konservasi. Dari pengamatan lapangan yang dilakukan serta berdasarkan analisis dari software arcgis , 48% wilayah DAS Percut berada pada kelas sedang, 34% sangat ringan, 12% ringan, 4% berat dan 2% sangat berat.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi erosi di DAS Percut adalah salah satunya dengan metode vegetatif yaitu dengan mempertahankan fungsi hutan, melakukan reboisasi hutan, pengkayaan tanaman keras, melakukan sistem agroforestri dan kebun campur, penanaman menurut kontur, menanam tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman dan penggunaan sisa tanaman. Penerapan metode vegetatif lebih mudah dan murah untuk dilakukan sehingga kita sebagai masyarakat dapat menerapkannya karena menyelamatkan tempat kita hidup.

Sadhguru seorang yang aktif dalam konservasi tanah pernah mengatakan “ Tidak peduli berapa banyak kekayaan, pendidikan, dan uang yang kita miliki, anak-anak kita tidak dapat hidup dengan baik kecuali milik tanah dan air. Tanah adalah satu-satunya, tidak diragukan lagi Ajaib yang kematian menjadi kehidupan ” mari mengubahkan tanah tubuh kita sesungguhnya, bersama bergerak untuk tanah yang lebih sehat sehingga jauh dari bencana!

Redaktur: Yessica Irene

 

Related posts

Berada pada Fase Quarter Life Crisis, Apa yang Harus Dilakukan?

redaksi

Menilik Pembatasan Informasi Elektronik oleh Pemerintah, Kebebasan Berpendapat Tersumbat?

redaksi

Di Balik Hingar Bingar dan Nama Besar “USU”

redaksi