Home Opini Memahami Dominasi Laki-laki di Fakultas Teknik Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender
Opini

Memahami Dominasi Laki-laki di Fakultas Teknik Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

Share

Penulis :  Alifah Salsabila

Suara USU, Medan. Fakultas Teknik sering sekali diidentifikasi sebagai salah satu lingkungan pendidikan tinggi yang didominasi oleh mahasiswa laki-laki. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kesetaraan gender dan inklusi dalam dunia pendidikan. Penting untuk memahami penyebab terjadinya dominasi oleh mahasiswa laki-laki di Fakultas Teknik. Sejak dini, anak laki-laki sering diarahkan dan diajarkan pada minat teknis seperti hal kecil bermain mobil-mobilan yang didalamnya terdapat beberapa teknis tertentu. Sementara itu, anak perempuan cenderung dipandu menuju minat humaniora dan seni seperti bermain salon-salonan yang didalamnya terdapat seni menguncir rambut yang indah.

Kurangnya dukungan representasi perempuan di Fakultas Teknik juga menjadi salah satu alasan mengapa Fakultas Teknik didominasi oleh mahasiswa laki-laki. Ketika lingkungan kampus didominasi oleh mahasiswa laki-laki, beberapa mahasiswi perempuan mungkin merasa kurang nyaman dengan lingkungan yang ada sehingga mengurangi minat perempuan dalam mengikuti program yang ada pada Fakultas Teknik. Selain itu, budaya di beberapa daerah mungkin mendorong laki-laki untuk mengejar karir teknis. Hal ini didukung dengan beberapa kegiatan teknik yang dilaksanakan di lapangan langsung. Yang mana kegiatan-kegiatan tersebut biasa dilakukan oleh mahasiswa laki-laki dan dianggap kurang aman untuk dilakukan oleh perempuan.

Sebagai contoh, misalnya dalam sebuah perusahaan konstruksi besar, ketika perusahaan membuka lowongan untuk posisi Engineer Struktural, deskripsi pekerjaan seringkali menekankan kualifikasi teknis, kemampuan pemecahan masalah, dan pengalaman di lapangan. Namun, seringkali terdapat prasyarat tambahan yang cenderung dilakukan oleh laki-laki dan secara tidak langsung menghambat partisipasi perempuan. Contohnya, syarat untuk dapat bekerja di ketinggian atau dalam kondisi fisik yang berat, yang mungkin tidak sejalan dengan harapan atau kebutuhan perempuan. Hal ini dapat membuat perempuan merasa tidak nyaman atau meragukan kemampuan mereka untuk berkarier di bidang tersebut.

Dominasi mahasiswa laki-laki di Fakultas Teknik juga menciptakan persepsi bahwa teknik adalah minat yang tepat untuk laki-laki, sementara perempuan dianggap kurang sesuai untuk peran teknis. Persepsi ini mendukung ketidaksetaraan gender dalam pandangan masyarakat. Menurut penelitian oleh Gendered Innovations, budaya yang melekat pada stereotip gender dapat mempengaruhi minat dan ekspektasi individu terhadap minat dan bidang tertentu. Terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan rendahnya minat perempuan di bidang teknis adalah faktor psikologi. Menurut American Psychological Association, persepsi diri dan ekspektasi sosial dapat memainkan peran penting dalam mempengaruhi pilihan karir individu.

Untuk mengatasi dominasi laki-laki di Fakultas Teknik, diperlukan upaya yang komprehensif dari berbagai pihak. Perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya inklusi gender dalam teknik dan bidang lainnya. Penting untuk mengakui bahwa ada beberapa upaya untuk mendorong partisipasi perempuan dalam bidang teknik. Banyak program dan inisiatif telah diluncurkan untuk meningkatkan kesetaraan gender di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), termasuk kampanye sosial, beasiswa khusus, dan program mentoring. Meskipun demikian, perubahan ini memerlukan waktu dan upaya yang berkelanjutan.

Kesetaraan gender bukan hanya tentang memastikan jumlah yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam fakultas teknik, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan di mana semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar minat dan bakat mereka. Dominasi laki-laki di Fakultas Teknik dan munculnya beberapa persepsi bahwa perempuan tidak tepat berperan di bidang teknik adalah tantangan yang semestinya kita atasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan menumbuhkan partisipasi bagi semua individu tanpa memandang perbedaan.

Redaktur : Grace Pandora Sitorus

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.