Home Opini Membangun Kembali yang Tak Tampak, Pentingnya Pendampingan Psikologis Pascabencana
Opini

Membangun Kembali yang Tak Tampak, Pentingnya Pendampingan Psikologis Pascabencana

Share

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Banjir bandang dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kembali membuka luka lama. Bencana alam tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga trauma. Ketika data resmi menunjukkan hampir 1 juta orang harus mengungsi akibat banjir besar di Sumatra dengan 969 korban jiwa dan ratusan korban lainnya belum ditemukan, kita harus menyadari bahwa penderitaan tidak berhenti hanya pada jumlah rumah yang hancur atau jembatan yang terbawa arus. Ada penderitaan psikologis yang jauh lebih senyap, tetapi menancap lebih dalam.

Di lapangan, berbagai relawan, influencer,  lembaga, dan organisasi terus mengirimkan logistik dan bantuan medis. Seluruh bantuan yang diberi itu tentu merupakan komponen penting bagi para korban. Namun, perlu kita ketahui bahwa ada kegelisahan yang sejatinya tidak bisa terhapus dan mengendap dalam diri korban sebagai penyintas. Bencana alam yang datang tiba-tiba, tentu merenggut rasa aman mereka dalam hitungan menit. Tidak mengherankan jika banyak korban yang merasa ketakutan, cemas, atau kehilangan pegangan hidup berkepanjangan setelahnya. Ketika tubuh selamat, pikiran mereka belum tentu demikian, dan inilah yang sering luput dari perhatian publik. Di sinilah pentingnya pendampingan psikologis. Bukan sekadar pelengkap, bukan hanya kegiatan tambahan, tetapi sebagai salah satu bagian inti dari proses pemulihan.

Sebuah studi oleh Susanti dkk. (2024) di Demak, Jawa Tengah yang melakukan asesmen psikososial pada penyintas banjir menunjukkan, bahwa banyak pengungsi baik anak-anak maupun dewasa, mengalami diam berkepanjangan, ketakutan, menarik diri, mudah menangis, kesulitan berkonsentrasi, dan hambatan berkomunikasi. Gejala distress ini tidak hanya disebut dalam pengantar penelitian, tetapi terlihat jelas selama proses pendampingan yang mereka lakukan. Temuan ini menegaskan bahwa bencana tidak hanya menghancurkan ruang hidup, tetapi juga merusak rasa aman secara mendalam.

Gambaran distress tersebut selaras dengan penelitian Budhiana dkk. (2025) pada korban gempa Cianjur, Jawa Barat, yang mengkaji gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada korban gempa. Mereka menemukan bahwa gejala PTSD muncul lengkap dalam tiga kluster, yaitu intrusi (mimpi buruk, kilas balik), penghindaran (menjauhi lokasi atau percakapan terkait bencana), serta hiperarousal (mudah terkejut, sulit tidur, gelisah). Gejala-gejala ini bukan hanya reaksi sesaat, tetapi dapat berlangsung lama bila tidak ada intervensi psikologis yang memadai. 

Hal ini memberikan peringatan penting bagi penanganan bencana hari ini, bahwa trauma tidak hilang. Beberapa studi tersebut membentuk gambaran yang sangat jelas, bahwa pemulihan psikologis pascabencana tidak akan pernah terjadi bila penyintas dibiarkan menghadapi trauma tanpa dukungan. Trauma membutuhkan ruang aman, butuh pendampingan, dan butuh pengetahuan. Kajian-kajian sebelumnya memperlihatkan bahwa ketika pendampingan diberikan secara tepat, kemampuan bangkit para penyintas meningkat secara signifikan.

Dampak bencana terhadap anak-anak juga sangat menuntut perhatian serius. Temuan Susanti dkk. menegaskan, bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan, terutama karena sistem emosi mereka belum matang. Ketakutan yang mereka alami bukan hanya faktor lingkungan, ia bisa membentuk pola stres jangka panjang jika tidak ditangani. Sementara itu, banyak orang tua mereka juga mengalami distress sehingga tidak mampu menjadi figur yang stabil. Dalam kondisi ini, pendampingan keluarga atau komunitas menjadi sangat penting, karena pemulihan anak tidak dapat dipisahkan dari pemulihan orang dewasa di sekitarnya.

Semua temuan ini mengarah pada kesimpulan yang sama,  Indonesia membutuhkan pendekatan bencana yang tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga pada psikologis. Bantuan logistik dapat menyelamatkan tubuh, tetapi pendampingan psikososial menyelamatkan hidup dalam arti yang lebih luas menyangkut kehidupan emosional, sosial, dan mental penyintas. Pemulihan sejati tidak hanya membangun kembali rumah, tetapi membangun kembali rasa aman. Karena luka terdalam tidak tampak, dan justru di situlah manusia paling membutuhkan untuk dipulihkan.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.