Oleh: Grace Junita Samosir, Breby Nathania Putri Tarigan, Veni Yulita Sijabat, Sabrina Aulia Zahra, Ridu Ella Okmaydinanta Br. Munthe
Suara USU, Medan. Dalam upaya memahami meningkatkan literasi digital terkait kebijakan penggunaan paylater di kalangan mahasiswa, kami mahasiswa Universitas Sumatera Utara dari mata kuliah Pekerja Sosial Internasional, Fakultas Keperawatan, Program Studi Ilmu Keperawatan, melakukan analisis kasus (case method). Kelompok ini terdiri Grace Junita Samosir (221101112), Breby Nathania Putri Tarigan (221101157), Veni Yulita Sijabat (221101162), Sabrina Aulia Zahra (221101167), Ridu Ella Okmaydinanta Br. Munthe (221101215) dengan dosen pengampu mata kuliah Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos. Analisis kami berfokus pada Mahasiswa dan Paylater: Fenomena Gaya Hidup Konsumtif di Era DigitalPerkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan mahasiswa.
Salah satu inovasi yang semakin populer adalah layanan paylater, yaitu sistem pembayaran yang memungkinkan konsumen membeli barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya di kemudian hari. Kemudahan akses, proses yang cepat, serta minimnya persyaratan membuat layanan paylater banyak digunakan oleh mahasiswa. Fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji karena berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup dan meningkatnya perilaku konsumtif di era digital.Bagi mahasiswa, paylater sering dipandang sebagai solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan maupun keinginan.
Dengan keterbatasan pendapatan dan ketergantungan pada uang saku, paylater memberikan ilusi kemampuan finansial yang lebih besar. Berbagai platform digital menawarkan fitur ini dengan promosi menarik, seperti potongan harga dan cicilan ringan. Akibatnya, mahasiswa semakin terdorong untuk melakukan konsumsi tanpa perencanaan keuangan yang matang.Gaya hidup konsumtif di kalangan mahasiswa tidak terlepas dari pengaruh media sosial dan budaya digital. Paparan konten gaya hidup, tren fesyen, teknologi terbaru, serta gaya hidup selebritas dan influencer menciptakan standar sosial baru. Mahasiswa cenderung terdorong untuk mengikuti tren demi menjaga citra diri dan eksistensi sosial.
Dalam konteks ini, paylater menjadi sarana yang memudahkan mahasiswa untuk memenuhi tuntutan gaya hidup tersebut, meskipun sering kali tidak sesuai dengan kemampuan finansial yang dimiliki.Ketika melakukan wawancara, salah satu mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengatakan bahwa penggunaan paylater di kalangan mahasiswa membawa dampak yang beragam. Dari sisi positif, layanan ini dapat membantu mahasiswa dalam kondisi mendesak, seperti kebutuhan akademik atau keperluan penting lainnya. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan masalah keuangan, seperti penumpukan utang, keterlambatan pembayaran, hingga menurunnya kesehatan finansial.
Selain itu, kebiasaan mengandalkan paylater dapat membentuk pola pikir konsumtif dan mengurangi kemampuan mahasiswa dalam mengelola keuangan secara mandiri.Literasi keuangan menjadi faktor kunci dalam menghadapi fenomena paylater di kalangan mahasiswa. Pemahaman tentang manajemen keuangan, risiko utang, serta perencanaan anggaran sangat diperlukan agar mahasiswa dapat menggunakan layanan digital secara bijak. Institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi keuangan sejak dini, sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga konsumen yang kritis dan bertanggung jawab.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment