Home Featured Mengenal Udin Bernas, Wartawan di Balik ‘Udin Award’ yang Namanya Abadi, Meski Nyawanya Direnggut
FeaturedSosok

Mengenal Udin Bernas, Wartawan di Balik ‘Udin Award’ yang Namanya Abadi, Meski Nyawanya Direnggut

Share
sumber gambar: boombastis.com

Oleh: Zahra Zaina Rusty

Suara USU, Medan. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” – Pramoedya Ananta Toer

Fuad Muhammad Syafruddin, lebih dikenal dengan nama pena Udin, adalah wartawan Harian Bernas Yogyakarta yang dikenal karena keberaniannya mengungkap kasus korupsi di Kabupaten Bantul pada era Orde Baru. Sayangnya keberaniannya dalam menulis berita-berita kritis membuatnya menjadi sasaran kekerasan yang membunuhnya pada tahun 1996.

Udin bukan wartawan sensasionalis Ia tak mengejar clickbait, tak juga haus pujian. Ia cuma ingin satu hal, mengabarkan kebenaran, walau yang dikabarkan itu menyakitkan bagi mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Dalam liputannya di Harian Bernas, Udin berani menulis soal korupsi yang melibatkan pejabat daerah. Ia menyelami persoalan kekuasaan lokal dengan nalar tajam dan data yang lengkap. Sebuah keberanian yang, sayangnya, dibayar dengan nyawanya sendiri.

Udin lahir di Yogyakarta pada 18 Februari 1963. Setelah menamatkan pendidikan di kota tersebut, ia meniti karier jurnalistik di Harian Bernas sejak sekitar tahun 1986. Berbeda dari wartawan lain yang cenderung berhati-hati saat meliput isu politik dan pemerintahan, Udin konsisten menyoroti kebijakan yang dianggap menyimpang, terutama di wilayah Bantul.

Beberapa bulan sebelum kematiannya, Udin sedang menulis tentang dugaan korupsi dan politik uang yang melibatkan Bupati Bantul saat itu, Sri Roso Sudarmo. Artikel-artikelnya disusun berdasarkan data dan sumber yang kredibel, membuat tulisannya kuat secara jurnalistik namun sekaligus berisiko secara politik.

Keberanian Udin ternyata mengancam kepentingan pihak-pihak tertentu. Pada malam 13 Agustus 1996, ia diserang oleh dua orang tak dikenal di depan rumah kontrakannya di Yogyakarta. Udin dipukul dengan benda tumpul di kepala dan mengalami luka serius. Ia sempat dirawat di RS Bethesda, namun nyawanya tak tertolong. Udin meninggal dunia pada 16 Agustus 1996, tiga hari setelah penyerangan.

Sejak awal, banyak pihak meyakini bahwa penyerangan itu berkaitan langsung dengan liputan-liputan kritis Udin. Namun proses hukum atas kasus ini justru penuh kejanggalan. Kepolisian menetapkan tersangka yang diragukan keterlibatannya, dan hingga kini, pelaku utama pembunuhan Udin belum pernah terungkap.

Ironisnya, dalam negeri demokrasi yang konon telah menanggalkan tirani, Udin masih belum mendapatkan keadilan. Tidak hanya jasadnya yang dikuburkan, tapi kebenaran atas kematiannya pun seolah dikubur dalam tumpukan arsip yang tak kunjung dibuka. Setiap tahun, peringatan atas kematian Udin menjadi semacam ritual tahunan yang menandai betapa negara ini masih belum cukup berpihak pada keberanian menulis kebenaran.

Ketika keadilan tidak datang dari negara, masyarakat sipil melanjutkan perjuangan. Udin menjadi simbol keberanian dan integritas jurnalisme. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bahkan menjadikan namanya sebagai penghargaan tahunan Udin Award bagi jurnalis yang menunjukkan dedikasi dan keberanian luar biasa.

Kasus Udin bukanlah kisah masa lalu yang selesai begitu saja. Hingga hari ini, advokasi terus dilakukan oleh jurnalis, organisasi hak asasi manusia, dan aktivis hukum agar kasus ini diusut ulang dan tidak dilupakan. Ia adalah pengingat pahit tentang risiko yang dihadapi mereka yang memilih untuk menulis kebenaran di tengah tekanan kekuasaan.

Lebih dari 25 tahun berlalu, namun situasi kebebasan pers di Indonesia belum benar-benar aman. Masih ada intimidasi terhadap wartawan, baik secara verbal, fisik, maupun digital. Udin adalah simbol. Ia adalah pengingat bahwa menjadi wartawan bukan hanya soal meliput dan menulis, tapi juga soal moral, keberanian, dan tanggung jawab terhadap publik.

Hari ini, ketika media digital berkembang pesat dan kebebasan berpendapat tampak lebih longgar, kita tetap menghadapi tantangan baru, disinformasi, tekanan ekonomi, intervensi politik, hingga kekerasan terhadap jurnalis di lapangan.

Maka pertanyaannya, bukan sekadar apakah kita ingat Udin. Tapi, apakah kita berani menjadi Udin-Udin baru? Yang tak mudah bungkam oleh tekanan, yang menulis karena nurani, bukan hanya karena trending.

Di balik nisan Udin, tersimpan suara yang belum selesai bersuara. Suara yang menolak tunduk, dan terus menyalakan semangat, bahwa kebenaran harus terus ditulis, meski dunia mencoba menghapusnya.

Menjadi Udin berarti sadar bahwa jurnalisme adalah kerja sunyi, kerja pengabdian, kerja perlawanan terhadap ketidakadilan yang kerap tak terlihat. Dan mungkin, itulah alasan mengapa nama Udin tetap hidup, karena ia tak menulis untuk dikenang, tapi untuk menggugah. 

Dan dalam setiap paragraf kritis yang kita tulis hari ini, dalam setiap berita yang kita sajikan dengan niat jujur dan data yang utuh, semangat Udin kembali menyala. Tak lagi hanya di Yogya, tak hanya di Bernas, tapi di setiap ruang redaksi yang masih percaya: bahwa pena tak boleh tunduk pada kuasa.

 

Redaktur: Zalfaa Tirta

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.