Home Entertaiment Memakan Daging Teman Untuk Bertahan, Kisah Nyata Bertaruh Nyawa dalam Film Society of the Snow
EntertaimentFilm

Memakan Daging Teman Untuk Bertahan, Kisah Nyata Bertaruh Nyawa dalam Film Society of the Snow

Share

Oleh: Rifatul Suaidah

Suara USU, Medan. Teman makan teman, pernah dengar istilah itu? ternyata sepenggal kalimat itu bukan hanya sebuah kiasan, di film Society of the Snow yang merupakan salah satu film drama bertahan hidup paling mencekam yang pernah dibuat, memakan daging manusia demi bertahan hidup benar terjadi. Film yang disutradarai oleh J.A Bayona ini mengangkat kisah nyata tragedi Penerbangan Angkatan Udara Uruguay 571 yang jatuh di Pegunungan Andes pada tanggal 13 Oktober 1972. Film ini diadaptasi dari buku “La Sociedad de la Nieve” karya Pablo Vierci, seorang jurnalis yang merupakan teman kuliah para korban yang berhasil selamat dari tragedi kecelakan pesawat. Proyek film Society of the Snow menghabiskan waktu 10 tahun lamanya guna memastikan setiap detail cerita tersampaikan ke penonton. 

Tragedi terjadi ketika pesawat mereka menabrak pegunungan Andes yang bersalju karena turun terlalu dini, meninggalkan hanya 16 penyintas dari 45 penumpang selama 72 hari dalam kondisi ekstrim dengan suhu mencapai 40 derajat Celcius dibawah nol. Yang membuat film ini begitu kuat secara emosional adalah cara Bayona menyajikan dilema moral yang dihadapi para penyintas, dimana mereka tidak hanya berjuang melawan dingin yang menusuk tulang dan kelaparan yang menyiksa, tetapi juga harus menghadapi keputusan yang sangat berat untuk melakukan antropofagi yaitu memakan tubuh korban yang telah meninggal demi bertahan hidup. 

Roberto Canessa, salah satu penyintas yang kini menjadi ahli jantung anak terkemuka, menekankan bahwa istilah “Antropofagi” lebih tepat daripada “Kanibalisme” karena mereka tidak membunuh untuk konsumsi. Bayona menunjukkan komitmen luar biasa terhadap autentisitas dengan mengambil sebagian adegan di lokasi asli kecelakaan yang kini dikenal sebagai Valley of Tears (Lembah Air Mata), meskipun untuk alasan keamanan, sebagian besar syuting dilakukan di Resor Ski Granada pada ketinggian 2.000 meter dan berbagai lokasi di Sierra Nevada, Montevideo, hingga pegunungan Andes di Chili dan Argentina. 

Setelah tayang perdana di Venice Film Festival September 2023, film ini masuk nominasi Best International Feature Film di Oscar 2024, Golden Globe Awards, dan Critic’s Choice Awards, kemudian ketika rilis di Netflix pada 4 Januari 2024, film ini langsung masuk Top 10 global dan menjadi film non-English terpopuler dengan 50 juta penayangan, menggeser posisi Film Below Zero. Dengan durasi film 2 jam 24 menit, film ini berhasil menyajikan narasi yang mendalam tentang perjuangan hidup yang luar biasa ketika menceritakan perjalanan tim Rugby Uruguay Old Christians Club yang hendak terbang dari Uruguay ke Chili. 

Proses syuting yang berlangsung selama 138 hari tepatnya dari November 2021 hingga Januari 2022 dan para aktor harus menyelami karakter secara mendalam, dan yang lebih menarik, film ini direkam secara kronologis, memungkinkan para aktor merasakan perjalanan emosional karakter mereka secara alami. Meskipun dibintangi oleh aktor aktor Amerika Latin pendatang baru, bahkan beberapa yang belum pernah berakting sebelumnya, film ini terbukti sukses besar. Pembawaan karakter yang alami dapat dirasakan ketika pemeran utama seperti Enzo Vogrincic, Agustín Pardella, dan Matías Recalt berhasil menghadirkan performa yang luar biasa.

Keputusan jenius ini memastikan tidak ada satu karakter pun yang overshadow yang lain, menciptakan ensemble cast yang kuat dan setara, sementara kehadiran beberapa penyintas asli sebagai cameo menambah dimensi emosional yang kuat. Roberto Canessa muncul sebagai dokter spesialis jantung, sementara Nando Parrado tampil sebagai anggota keluarga di adegan bandara, dimana kehadiran mereka bukan sekadar ‘penglaris’, tetapi penghormatan kepada kisah nyata yang mereka jalani. 

Kompleksitas cerita, kontras antara terang dan gelap, serta eksplorasi rasa bersalah para penyintas menjadi elemen-elemen yang membuat film ini begitu memikat dan berhasil mencuri perhatian dunia. Lebih dari sekadar film survival, Society of the Snow adalah meditasi mendalam tentang batasan kemanusiaan ketika dihadapkan pada situasi life or death, dimana film ini tidak sensasional dalam menggambarkan antropofagi, melainkan menyajikannya sebagai keputusan yang dipaksakan oleh keadaan, diiringi dengan pergulatan moral yang intens. 

Kisah para penyintas yang kini telah melanjutkan hidup sepertI Gustavo Zerbino yang menjadi Direktur Utama Federasi Rugby Uruguay, Eduardo Strauch yang menjadi arsitek, dan Fernando Parrado yang menjadi presenter TV menunjukkan bahwa trauma dapat diatasi dan hidup dapat berlanjut dengan bermakna, menjadikan Society of the Snow bukan hanya film tentang bertahan hidup, tetapi tentang semangat manusia yang tak terkalahkan dalam menghadapi adversitas. Dengan sinematografi yang memukau dan performa yang luar biasa, film ini layak menjadi salah satu karya terbaik dalam genre survival drama.

 

Redaktur: Zalfaa Tirta

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.