SUARA USU
Beasiswa

Menjadi Delegasi International Youth Leader : Belajar sambil Refreshing

Penulis: Fitri Dian Jannah

Suara USU, Medan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara menjadi Delegasi International Youth Leader di Turki. Dua mahasiswa USU yang tergabung dalam program tersebut adalah Rahma Rahmah dari Fakultas Teknik, (Jurusan Teknologi Informasi 2018) bersama dengan Yogi Juliansyah dari Fakultas Ilmu Budaya, (Jurusan Sastra Arab 2019) dan berlangsung pada 22-29 September 2021. Setelah melalui proses seleksi, wawancara, administrasi dan rangkaian seleksi lainnya, kedua mahasiswa USU ini berhasil lolos dan bergabung dalam program tersebut. Kali ini, tema yang diangkat International Youth leader (IYL) merupakan Santri Milenial.

Program pertukaran mahasiswa ini diikuti oleh 30 mahasiswa dari 20 kampus, diantaranya Universitas Sumatera Utara, UIN Jakarta, UIN Bandung, Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Islam Indonesia, Universitas Sebelas Maret, Universitas Riau, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta, Universitas Diponegoro, Universitas Andalas, STIQ Ar-Rahman Bogor, Zamzam Syifa Boarding School Depok, Man 4 Banjar, SMAN 1 Kalianda Lampung, dan universitas lainnya yang berasal dari luar negeri.

International Youth Leader merupakan platform pelatihan dan Pendidikan kepemimpinan untuk pemuda Indonesia yang dibentuk oleh CV. International Youth Leader yang memiliki berbagai program, seperti Student Exchange, Leadership Camp, Halal Tour and Travel. Youth Leader sendiri difokuskan untuk melatih pemimpin muda yang berpotensi agar mandiri dan siap bersaing di kancah internasional.  Kepemimpinan, Kewirausahaan, Keagamaan, Budaya dan Sosial.

Program pertukaran mahasiswa ini menekankan pada pembelajaran terkait kepemimpinan, kewirausahaan, keagamaan, budaya, dan juga sosial melalui riset sejarah dari negara yang didatangi.

Para delegasi banyak melakukan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah di Turki, seperti kota Konya, Istanbul, dan Angkara. Mereka melakukan kunjungan ke masjid, museum, dan lainnya sembari mengamati kegiatan disana, misalnya orang-orang yang datang ke masjid berapa banyak, kalangan apa saja. Setelah pengamatan, para delegasi melakukan FGD (Forum Group Discussion) untuk membahas apa saja yang telah mereka amati disana. Sesuai dengan tema “Santri Milenial” mereka berdiskusi terkait kekurangan yang dimiliki oleh santri di era milenial dan hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki kembali.

Kunjungan ke toko swalayan, toko tekstil juga dilakukan oleh para delegasi. Turki dikenal dengan karpetnya yang sangat menawan, menjadi salah satu mata pencaharian disana, banyak warga turki yang ditemukan sedang menjahit kain untuk dibuatkan karpet. Selain itu, mereka juga melakukan kunjungan ke warga setempat, lebih tepatnya desa di Turki. Para delegasi dibentuk kelompok dan diminta mengamati kegiatan sosial, seperti pengaturan pemerintah terhadap kemiskinan, kesenjangan sosial yang terjadi disana, dan hubungan kemasyarakatan lainnya. Kegiatan diskusi juga terus dilakukan selepas melakukan kunjungan.

Bagi delegasi, mereka merasakan keberagaman, seperti keberagaman pikiran terutama. Dengan adanya program ini mereka dapat bertukar pikiran antar individu. Yogi, Rahma, dan kawan-kawan delegasi mendapatkan berbagai macam hal-hal menarik, tentunya mereka juga merasakan culture-shock karena adanya perbedaan budaya. Semua fasilitas juga sangat lengkap sehingga para delegasi merasakan kenyamanan selama berkegiatan diturki, mulai dari koneksi internet melalui WI-FI, guide, hingga tempat menginap yang terus berpindah-pindah ke berbagai kota. Tidak hanya terus menerus belajar dan diskusi, namun mereka juga dapat belajar sambal refreshing. Belajarnya dapat, hiburannya pun dapat.

Redaktur: Zukhrina Az Zukhruf

Related posts

Sosialisasi Beasiswa LPDP: Siapkan Amunisi Terbaik

redaksi

Be A Huffaz Sahabat Pendidikan Ulil Albab

redaksi

Mahasiswa Bisa Dapat 2,4 Juta Rupiah dari Program Kampus Mengajar

redaksi