
Oleh: Alya Nayla Sahirah S.
“Kau ini anak perempuan atau laki-laki, kah? Bantu-bantu di rumah dan kebun saja sudah! Urus kau punya adik-adik itu juga. Sudah itu tugas perempuan. Jangan pikir yang macam-macam.”(Tanah Tabu, halaman 52). Begitulah sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Mama Helda kepada gadis perempuannya, Yosi. Sekilas, dialog ini terdengar seperti nasihat biasa di tengah rutinitas pedesaan. Namun, jika disimak lebih dalam, inilah wajah domestik dari kekuasaan yang membungkam di tanah Papua. Di balik perintah yang tampaknya lumrah itu, tersembunyi sistem nilai yang membentuk perempuan hanya sebagai pelengkap dalam rumah, penjaga anak, pemikul beban, dan penerima warisan diam-diam dari generasi sebelumnya untuk terus patuh, kuat, tetapi tidak bersuara.
Novel Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf diterbitkan pada tahun 2009 oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Karya dengan tebal 240 halaman ini berhasil meraih juara pertama sekaligus satu-satunya pemenang dalam sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2008. Dengan berlatar tempat di Papua, novel ini menyajikan potret kehidupan masyarakat adat yang hidup dalam keterpinggiran dan penindasan. Tanah Tabu menghadirkan kisah perempuan Papua yang berjuang dalam kemiskinan dan kekerasan struktural yang merangsek masuk ke kehidupan paling pribadi mereka, mulai dari tubuh, rumah, hingga tanah tempat mereka berpijak.
Novel ini menampilkan narasi dengan mengambil sudut pandang gadis kecil polos bernama Leksi yang baru berusia tujuh tahun. Leksi tinggal bersama ibunya, Mace, dan neneknya, Mabel, di sebuah kampung kecil di Timika. Mereka adalah representasi tiga generasi perempuan Papua yang bertahan hidup tanpa kehadiran laki-laki. Tokoh Mabel sendiri merupakan figur sentral dalam cerita ini, yang digambarkan sebagai perempuan tangguh yang menyimpan luka dan sejarah panjang, mulai dari diasuh oleh keluarga Belanda, diculik karena dituduh terlibat pemberontakan, hingga penderitaan saat ia kehilangan suaminya. Namun, semua luka itu tidak membuatnya lemah. Sebaliknya, Mabel tumbuh menjadi perempuan yang cerdas, pemberani, dan penuh dengan semangat perlawanan.
Salah satu keunggulan novel ini terletak pada bagaimana Anindita mengkritik tajam sistem representasi gender. Di tangannya, stereotipe terhadap perempuan tidak hanya dideskripsikan secara naratif, tetapi juga ditonjolkan melalui karakter-karakter perempuan dalam novel ini. Contohnya Mabel, yang menolak identitas perempuan yang cengeng dan pasrah terhadap keadaan. Ia bahkan menyatakan, “Dari dulu aku jarang menangis, Sayang. Menangis hanya membuatku semakin lemah, dan aku tidak mau itu terjadi. Selain itu, aku juga kasihan dengan Tanah Ibu kalau kita terus menerus menyiramnya dengan air mata kita. Air jadi asin. Tanaman tidak bisa tumbuh subur. Binatang di hutan berkurang. Langit pun ikut mendung. Nasib baik tidak akan datang kalau kita menangis terus,” Kalimat ini menyiratkan bahwa air mata perempuan bukan hanya melambangkan emosi, tetapi juga bagian dari mitos kelemahan yang terus dipelihara dalam budaya patriarki.
Tidak berhenti pada kritik terhadap stereotipe, Tanah Tabu juga menunjukkan secara gamblang bagaimana subordinasi dan kekerasan terhadap perempuan terjadi secara sistematis dalam relasi keluarga dan sosial, terutama di Papua. Tokoh laki-laki dalam novel ini hampir seluruhnya digambarkan sebagai sosok yang problematik, pemabuk, pemukul, dan kerap memanfaatkan tenaga perempuan. Misalnya seperti ayah Yosi, seorang pemabuk yang sering memukuli istri dan anaknya. Bahkan, dalam salah satu adegan, ia digambarkan menendang perut istrinya yang sedang hamil secara brutal. Kekerasan seperti ini tidak hanya menjadi gambaran realitas perempuan di Papua, melainkan juga menunjukkan bagaimana tubuh perempuan dijadikan arena kekuasaan yang sah secara semena-mena oleh kaum patriarkis.
Melalui kacamata Leksi sebagai anak kecil, pembaca diajak menelusuri berbagai aspek kehidupan di tanah Papua, mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan, hingga relasi sosial yang timpang antara penduduk asli dan para pendatang. Leksi menggambarkan sekolahnya sebagai bangunan reyot beratap seng, dengan kondisi pengap karena berdesakan bersama 60 siswa lainnya. Ia juga merasa lebih nyaman bermain di pasar daripada belajar di ruang kelas. Namun, di balik keluguannya, Leksi sadar bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengangkat harga dirinya sebagai perempuan.
Sebagai anak suku Dani, Leksi memiliki cara pandang yang kental akan identitas fisik. Ia memberi label “pendatang” kepada orang-orang berkulit putih dan berambut lurus, dan cenderung menghindari mereka. Ia menganggap bahwa orang-orang itu hanya datang untuk menjajah dan menguras kekayaan tanah tempat tinggalnya. Perspektif Leksi ini menunjukkan kepada pembaca, bagaimana trauma yang diwariskan oleh kolonialisme dan eksploitasi tanah Papua merembes ke dalam cara pandang anak-anak di sana.
Dari sisi struktur penceritaan, Tanah Tabu juga memiliki cara yang sangat unik karena menghadirkan tiga narator utama yaitu Leksi, Kwee (seekor babi), dan Pum (seekor anjing). Ketiganya menjadi saksi sekaligus penggerak alur cerita yang memungkinkan pembaca melihat kehidupan Papua dari berbagai sudut pandang. Pendekatan ini menjadi simbol bagaimana suara-suara marjinal, bahkan yang selama ini dianggap remeh, bisa menjadi pembawa kebenaran teradap situasi apa yang sebenarnya dialami oleh para perempuan di tanah Papua.
Meskipun memiliki banyak keunggulan, Tanah Tabu ternyata tetap tidak luput dari kritik. Beberapa pembaca merasa narasi Leksi terlalu dewasa untuk ukuran anak usia tujuh tahun. Meskipun ia digambarkan sebagai sosok yang keras kepala dan selalu ingin tahu, beberapa kalimat yang ia utarakan lebih mencerminkan suara orang dewasa dibandingkan seorang gadis kecil. Hal ini menimbulkan jarak antara karakternya dengan pembaca, sekaligus mempertanyakan konsistensi sudut pandang anak dalam novel tersebut. Selain itu, alur cerita yang terkadang melompat-lompat ke adegan lainnya, dan narator yang berganti-ganti sudut pandang bisa menyulitkan pembaca yang tidak terbiasa dengan teknik semacam ini.
Meskipun demikian, Tanah Tabu tetap merupakan karya yang sangat luar biasa. Novel ini berhasil mengangkat Papua sebagai sebuah latar yang hidup, dan tidak hanya menyuguhkan kritik sosial, tetapi juga perlawanan terhadap ketidakadilan sistem. Novel ini juga berhasil membongkar konstruksi sosial tentang perempuan dan menyuarakan perlawanan dari sudut pandang yang selama ini sering dibungkam.
Bagi Sobat Suara USU yang penasaran seperti apa rasanya menjadi perempuan di tanah yang sering dilupakan, Tanah Tabu adalah opsi yang sangat layak untuk dibaca.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment