Oleh: Tania Renata Panjaitan
Untuk sebagian dari diri manusia yang tetap hidup. Abadi, tak pernah mati.
Teramat banyak manusia yang dibanjiri nestapa. Namun, teramat banyak juga manusia yang hidup dalam harsa.
Mereka yang menyelesaikan sesuatu. Mereka yang menjadikan setiap tawa menjadi kenangan. Layakkah mereka?
Layakkah manusia menjadi sumber ratapan manusia lainnya?
Segala pemikiran mengenai penyelesaian, nestapa, dan kenangan dipaksa menjerat kepala Kasih terlalu dalam. Langkahnya tak terasa, tapi mantap. Jejak-jejak kenangan seolah tertinggal di trotoar yang menjadi pijakannya.
Toko Buku Selaksa
Langkah Kasih terhenti. Apakah sudah selesai?
Matanya melirik ke papan cokelat yang bertuliskan Toko Buku Selaksa. Warna cokelat dan krem mendominasi bangunan kecil itu. Pintu bagian atasnya transparan, hanya menggunakan kaca, terpampang tulisan buka disana.
“Kita selesai.”
“Kenapa? Apa alasannya?”
“Hubungan ini memang baik, tapi aku rasa lebih baik lagi jika tidak dijalankan.”
Suara pintu terbuka terdengar. Ucapan selamat datang dari sang pemilik Toko Buku Selaksa menyambut. Senyum tipis dilemparkan Kasih kepada perempuan berambut kecokelatan yang duduk di balik meja kasir.
Kasih mengamati sekitar. Nuansa ruangan ini mengirim rasa hangat yang seolah memeluk dirinya. Pencahayaannya remang-remang. Ada beberapa bunga hidup dalam vas yang diletakkan di atas meja sebagai dekorasi. Harum teh hangat dan buku-buku menciptakan suatu kesatuan.
“Permisi. Saya mau memberikan sebuah barang. Saya baca di media sosial Toko Buku Selaksa menerima barang dengan cerita di baliknya.” Kasih berkata dengan raut wajah agak tak yakin, tetapi ucapannya lancar.
Berbanding terbalik dengan Kasih, raut wajah perempuan di hadapannya cerah mendengarnya. “Wah, boleh sekali! Sebelumnya, boleh tahu barang apa itu?”
“Ini kalung. Dari mantan saya.” Kasih agak terbata menyebutkan kalimat terakhirnya.
Perempuan tersebut tersenyum agak kikuk, tapi kemudian kembali bersikap santai. Mimiknya sendu dan ia melirik ke arah bawah. “Mantan, ya. Pasti penuh dengan kenangan,” gumamnya. Jarak keduanya tak terlalu jauh sehingga Kasih dapat mendengarnya.
“Boleh kita duduk sambil bercerita mengenai kisah di balik kalung itu?” tanya perempuan itu sembari menunjuk salah satu meja bundar cokelat tua dengan dua kursi yang berada di dekat jendela.
“Tentu.”
Perempuan itu bergerak menuju meja yang dituju. Kasih mengikuti dengan langkah pelan.
“Silakan.”
“Terima kasih.”
Dalam penglihatan Kasih, perempuan itu mengembuskan nafasnya lembut dan tersenyum hangat. “Jadi, ada sejarah apa di balik kalung ini?”
Mendengarnya, Kasih melirik ke atas. Berpikir, mulai dari mana ia harus menceritakannya? Namun, baru saja ia akan membuka mulutnya, perempuan itu kembali melontarkan tanya.
“Eh, maaf sebelumnya. Namamu siapa? Aku lupa bertanya tadi.” ia tertawa kecil di akhir kalimatnya.
“Namaku Kasih.”
Hening menyelimuti keduanya sejenak. “Cantik sekali. Tidak pasaran.” pujinya, lebih seperti bermonolog pelan, tetapi Kasih mendengarnya dan mengucapkan terima kasih dengan nada kikuk.
Sedetik kemudian, perempuan itu kembali menampakkan mimik wajah santai. “Baiklah, Kasih. Perkenalkan namaku Anindia. Boleh panggil Anin saja. Salam kenal, ya.”
“Salam kenal, Anin,” balas Kasih dengan suara pelan.
“Sekarang kau boleh memulai dongengmu yang entah berakhir seperti apa.”
Kasih mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan dengan lancar. Ia sudah mempersiapkannya di dalam pikirannya.
“Aku diputuskan oleh pacarku semalam. Kami sudah berpacaran selama dua tahun. Kalung yang ingin ku berikan adalah hadiah darinya saat perayaan setahun hubungan kami.” Kasih menarik napas sejenak, lalu kembali melanjutkan, “Apa yang ia katakan pada saat perayaan itu masih terekam jelas dalam benakku. Semuanya, tanpa terkecuali.”
Kasih meremas kedua tangannya yang berada di atas pahanya. Hal itu tak luput dari pandangan Anindia.
“Kau tak perlu memaksa dirimu untuk bercerita. Tak apa, tak perlu melanjutkannya. Maaf kalau aku terlalu memaksa.” Anindia melontarkan kalimatnya dengan begitu cepat, seolah tak memberi jeda bagi Kasih untuk merespon.
“Tidak masalah. Aku akan melanjutkannya.”
Anindia tersenyum lembut dan mengangguk, siap kembali menampung segala kenangan yang mungkin begitu pahit untuk Kasih.
“Dia bilang, dia akan mengusahakan agar kami dapat merayakan hubungan kami hingga tahun-tahun selanjutnya. Dia akan tetap berada di sisiku dan dia harap aku pun juga. Selalu, hampir setiap hari, dia selalu menyatakan cinta padaku. Dia mengatakan dia mencintaiku, menghargaiku, bersyukur karena aku hadir di hidupnya.”
Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Tak ada air mata, tetapi kenangan itu nyata. Ia berputar-putar seperti gasing dalam pikiran Kasih. Kesesakan melanda, memukuli dadanya.
“Semalam ia memutuskanku. Katanya lebih baik hubungan ini jika tak usah dilanjutkan. Jadi, aku harus percaya yang mana?” pertanyaan itu terucap dengan begitu lirih.
“Haruskah aku tetap mempercayai bahwa ia akan terus mengusahakan dirinya agar senantiasa bersamaku? Atau aku harus memercayai bahwa hubungan ini lebih baik tidak dilanjutkan?”
Rasa sepi menyeruak di antara keduanya. Sejenak, angin sepoi-sepoi menguasai sudut duduk mereka, membawakan kehangatan dari Toko Buku Selaksa yang entah bisa atau tidak memeluk raga Kasih.
“Kau tahu, Kasih,” Anindia membuka kembali dialog, “Manusia itu dinamis. Bukan berarti, aku memintamu tak mempercayai ucapan setiap manusia. Tetapi, memang begitulah kau, mantanmu, aku, dan semua manusia di dunia ini. Kita mudah sekali berubah akibat suatu hal. Aku tidak mengerti itu sebuah hal baik atau buruk.”
Kasih mendongak, menatap Anindia di depannya yang sibuk menerawang.
“Dengan ia mengingkari ucapannya pada perayaan satu tahun kalian, itu menyatakan bahwa memang hubungan kalian tak perlu dilanjutkan.”
“Kesedihanmu valid, tetapi begitu juga dengan perubahan mantan pacarmu. Kenangan itu nyata, hidup, dan tumbuh dalam dirimu.”
Kasih masih tetap diam. Di pelupuk matanya, tergenang air.
“Kau mau ku tunjukkan sesuatu?”
“Apa?”
“Tempat di mana manusia tidak akan mati.”
Kini, Kasih berada tepat selangkah di belakang Anindia. Ia memandang ke sekeliling ruangan berukuran 4×4 meter dengan pencahayaan temaram itu. Disana, ia menemukan ada begitu banyak benda-benda yang entah mengapa dikumpulkan dalam ruangan ini.
Kertas-kertas surat, bunga, gelang, pegboard dengan photostrip pasangan, boneka, dan buku. Ada juga lukisan dan piringan hitam. Saking banyaknya barang disana, Kasih tak dapat memproses semua benda tersebut dalam penglihatannya.
Kasih sedikit tersentak kala Anindia menarik pelan pergelangan tangannya. Ternyata perempuan itu mengajaknya berkeliling. Melihat dan menikmati semua benda-benda disana dalam jarak yang memanjakan mata.
“Ini surat permintaan maaf. Pelanggan yang beri surat ini ke aku bilang ini surat permintaan maaf dari sahabatnya. Sahabatnya yang sekarang sudah menikah dengan mantan pacarnya. Waktu datang kesini, pelanggan itu bahkan tidak tahu dia harus turut bahagia atau malah sedih.” Anindia membuka cerita pertama sembari menunjukkan sebuah surat yang sudah agak menguning dan tertempel di salah satu mading.
Sekarang, keduanya beralih ke sebuah buku klasik yang berjudul Pride and Prejudice oleh Jane Austen. “Seorang laki-laki pernah menyatakan cinta pada seorang pelanggan perempuan, bahkan meminta perempuan itu menjadi pacarnya ketika SMA. Laki-laki itu menyelipkan surat di buku ini saat meminjamkan bukunya dari perempuan itu. Mereka dekat dan semua berjalan baik. Namun, pelanggan perempuan itu menolaknya. Pelanggan itu masih menyimpan suratnya, tetapi buku ini diberikannya ke toko ini.”
Kaki Kasih tergerak mengikuti langkah Anindia yang berpindah ke sisi lainnya. Diam masih menyelimuti dirinya. Namun, Kasih berusaha mempertajam pendengarannya agar tidak melewatkan satupun kata yang dilontarkan oleh Anindia.
Ruangan ini layaknya museum, tetapi mengherankan sekali. Bagaimana bisa ruangan sepetak ini tak terasa sempit meskipun dihinggapi beribu-ribu cerita dari masa lalu?
“Kita manusia selalu memiliki sejarah tersendiri dalam kehidupan. Entah kita pelakunya atau orang lain yang sempat singgah.”
“Kau tahu kenapa aku menamakan toko ini dengan nama Toko Buku Selaksa?” Kasih menoleh ke arah Anindia. Tertarik dengan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Anindia menerawang ke arah depan. “Selaksa itu artinya teramat banyak. Ruangan ini ku buat karena aku mencintai sejarah sejak SMA dulu. Dalam toko buku yang ku bangun ini, aku ingin ada sebuah ruangan yang merepresentasikan kisah hidup manusia.”
Kasih memperhatikan, raut wajah Anindia sendu. “Setiap melihat sekeliling ruangan ini, aku tersadar bahwa ada teramat banyak kepedihan, kekecewaan, kegagalan yang meruntuhkan hati manusia.”
“Namun, banyak juga kebahagiaan, kepercayaan, kebaikan, ketulusan yang mampu diberikan manusia ke sesamanya.” Sejenak, ketulusan terpancar dari diri Anindia.
“Kasih,” panggilnya.
Kasih menoleh, memfokuskan diri kepada perempuan di dekatnya.
“Teramat banyak kesedihan yang kau dapatkan dari keputusan sepihak oleh mantan pacarmu. Namun, hal itu tak akan menghalangi bahwa rasa bahagia akan hadir di hidupmu. Jadi, tetaplah hidup dan gapai bahagia itu walau kau sendiri, walau kau kecewa sekarang, walau kau mempertanyakan segala sesuatu yang terjadi, walau kau masih dalam perasaan sungkan untuk menerima semuanya.”
“Aku tak pernah tahu apa yang dirasakan semua pelangganku pada hari ini, setelah mereka melalui semua kesedihan ataupun kebahagiaan itu. Aku hanya berharap mereka tetap hidup. Tetap hidup untuk diri mereka sendiri. Tetapi, jika boleh, aku juga ingin mereka percaya bahwa di depan sana ada banyak hal yang menanti dan salah satunya kebahagiaan yang tak terkira.”
“Sekarang, bolehkah aku minta kalung yang mau kau berikan itu?”
“Eh, boleh. Sebentar.” Kasih buru-buru mengambil kalung yang dibawanya dari dalam saku celana jeans biru mudanya.
“Ini,” ucapnya bersamaan dengan tangannya yang mengulurkan kalung tersebut ke arah Anindia.
Anindia menerimanya dan mulai berbicara kembali, “Hari ini, kalung ini menjadi saksi kesedihan dan kekecewaan yang menimpa hidupmu. Namun, suatu hari nanti kembalilah lagi kesini. Suatu hari di mana ketika kau melihat kalung ini, kau sanggup tersenyum tulus dan menerima setiap luka yang tertanam disini menjadi bagian dari dirimu, menerimanya untuk berdampingan dengan langkahmu. Bagian yang tak akan pernah hilang dan tetap ada di dalam dirimu.”
“Maka dari itu, tetaplah hidup. Aku berjanji ada teramat banyak yang menunggumu di masa mendatang. Jadi, tetaplah hidup. Tetaplah hidup untuk menyaksikan sendiri semua luka ini berdampingan denganmu dan kau tetap tersenyum tulus ketika mengetahuinya.”
Tetaplah hidup.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment