Home Musik “Naikkan Gaji” dan Realitas Hidup dari Gaji ke Gaji
Musik

“Naikkan Gaji” dan Realitas Hidup dari Gaji ke Gaji

Share
Sumber: Spotify

Oleh: Siti Aisyah

Suara USU, Medan. Di tengah hiruk pikuk musik pop yang kerap berbicara soal cinta atau pencapaian pribadi, lagu “Naikkan Gaji” karya eńau hadir dengan pendekatan berbeda. Lagu ini tidak menyoroti romansa, melainkan realita hidup, gaji pas-pasan, kebutuhan yang terus meningkat. Dirilis menjelang Hari Buruh pada April 2022, lagu ini langsung terasa relevan bagi jutaan pekerja di Indonesia yang hidup dari gaji ke gaji bahkan sering kali tidak cukup hingga akhir bulan.

Dengan lirik yang lugas, musik santai, dan nada yang akrab di telinga, lagu ini menjadi semacam anthem kecil bagi mereka yang setiap harinya harus bertanya: “Gimana?”

Secara musikal, Naikkan Gaji dibalut dalam irama yang ringan dan mudah didengar. Instrumennya sederhana, vokalnya santai, bahkan terkesan seperti obrolan. Justru di situlah letak kekuatannya. Lagu ini tidak perlu menjadi marah atau berteriak agar pesannya sampai. Karena terdengar santai, ia terasa lebih jujur dan manusiawi.

Lagu ini dibuka dengan gambaran yang realistis: gaji masuk, belanja mi instan, lalu membayar berbagai tagihan. Tanpa dramatisasi atau puitisasi, hanya cerita sehari-hari yang sayangnya, terlalu umum dialami oleh kelas pekerja urban. Dan saat lagu sampai pada baris:

“Si bos kenyang, kami yang rugi”,

kita tahu bahwa ini bukan sekadar curhatan hati receh. Ini adalah kritik sosial yang disampaikan dengan gaya obrolan di warung kopi.

Salah satu kekuatan utama lagu ini terletak pada kesederhanaan liriknya. Tidak ada metafora rumit atau kata-kata tinggi. Justru karena itu, liriknya terasa dekat dan menyentuh. Lagu ini dengan jujur menggambarkan dilema para pekerja yang hidup dari gaji ke gaji:

“Minggu pertama Bahagia makan mie instan 

Sisanya banyak cicilan”

Baris ini adalah potret klasik dari realita hidup banyak orang. Setelah menerima gaji, minggu pertama mungkin masih terasa nyaman. Namun, minggu-minggu berikutnya diisi perjuangan melunasi tanggungan. Bahkan untuk kebutuhan dasar pun sering kali harus dicicil. Keinginan sederhana seperti membeli rokok pun dilakukan “ketengan”.

“Bayar kontrakan pas-pasan 

Beli rokok ketengan

Perlahan dompet jadi pajangan”

Lirik ini bukan hanya sindiran sosial, tetapi juga testimoni dari mereka yang terus bekerja keras tanpa jaminan hidup yang layak. eńau tidak sedang menyuarakan kemarahan besar, melainkan menggambarkan rasa lelah kolektif dalam bentuk lagu yang terdengar seperti keluhan seorang teman di akhir bulan.

Menariknya, lagu ini  tidak menunjuk langsung pada golongan, perusahaan, atau kebijakan tertentu. Namun, siapa pun yang bekerja dalam sistem yang timpang, buruh harian, staf kontrak, bahkan sebagian pegawai kantoran akan merasa diwakili. Banyak yang lembur setiap hari, tetapi penghasilan masih belum cukup, bahkan sekedar untuk makan bergizi.

“Naikkan gaji, saldo butuh koreksi 

Sedikit tambahan, beras di panci 

Lambung terisi, kami semangat kerja lagi”

Lagu ini memberi kesadaran bahwa yang diminta bukanlah kemewahan. Pekerja hanya ingin hidup yang cukup. Sedikit kenaikan gaji bisa berarti nasi di piring, semangat kerja yang kembali, dan kehidupan yang lebih tenang.

Sejarah musik Indonesia sudah lama mengenal lagu-lagu bertema sosial. Dari Iwan Fals hingga Efek Rumah Kaca, kritik terhadap sistem dan ketimpangan hidup pernah dilontarkan lewat musik. Namun, Naikkan Gaji hadir dengan pendekatan berbeda. Ini bukan lagu demo, bukan orasi musikal. Lagu ini bisa diputar sambil mencuci baju, menyapu kos, atau makan mi instan, karena memang lahir dari suasana yang sama.

Lagu ini tidak menawarkan solusi konkret. Tidak bicara soal revisi UU Ketenagakerjaan, UMP, atau subsidi. Namun lewat satu baris yang terus diulang:

“Naikkan gaji, sejahterakan kami”,

lagu ini berhasil menyuarakan harapan sederhana yang terasa sangat besar bagi banyak orang.

Naikkan Gaji adalah lagu tentang perut kosong dan kepala pusing, dibawakan dengan musik yang ringan tapi tajam. Lagu ini mengajak kita mendengar keluhan para pekerja yang tidak meminta dimanjakan, hanya ingin dihargai. Ia tidak membakar emosi, tidak justru karena itu lebih membekas.

Di tengah lautan lagu pop yang membahas cinta dan ambisi, Naikkan Gaji hadir sebagai pengingat akan hal yang lebih mendasar dan mendesak: Hidup yang layak. Selama hal itu belum terpenuhi, lagu ini akan tetap relevan, tetap diputar, dan tetap menjadi suara kecil yang mengingatkan, jangan lupa mereka yang terus bekerja, tetapi belum cukup sejahtera.

Redaktur: Nisya Augia

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.