Home Kuliner Cimpe, warisan Rasa dari Aceh Tenggara
Kuliner

Cimpe, warisan Rasa dari Aceh Tenggara

Share
Sumber: Bedah News

Oleh: Siti aisyah

Suara USU, Medan. Di lembah tenang yang mengalir di antara perbukitan Aceh Tenggara, kue tradisional bernama cimpe masih bertahan sebagai jejak kuliner suku Alas. Makanan ini memang tidak banyak dikenal di luar tanah kelahirannya, tetapi bagi masyarakat lokal, cimpe menyimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar kudapan. Ia adalah hasil dari kebersamaan, ketekunan, dan kenangan yang dibungkus daun pandan.

Cimpe terbuat dari tepung ketan, yang dibentuk lonjong, dikukus, lalu dipasangkan dua demi dua sebelum dibungkus daun pandan. Berbeda dengan kebanyakan kue tradisional Nusantara yang menggunakan daun pisang, cimpe justru memercayakan aromanya pada daun pandan yang telah dilayukan di atas api. Daun ini memberikan kelembutan serta aroma khas yang menyatu dengan tekstur ketan yang kenyal dan sederhana. Saat disajikan, cimpe biasanya ditemani parutan kelapa segar dan lelehan gula merah yang manis dan hangat. Gabungan rasa ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga membangkitkan pengalaman kuliner yang membumi dan akrab.

Pada masa lalu, cimpe tidak dibuat secara individual. Ia lahir dari proses gotong-royong yang, menghidupkan dapur-dapur kayu di perkampungan. Membuat cimpe sekadar aktivitas memasak, melainkan momen kebersamaan. Para perempuan dalam keluarga besar duduk melingkar, saling mengulurkan daun, adonan, dan senyuman. Proses ini mengajarkan kesabaran, keterampilan tangan, serta penghargaan terhadap kerja bersama. Dalam suasana seperti itu, makanan menjadi bahasa kasih dan penghormatan terhadap tamu maupun leluhur.

Namun seperti banyak kekayaan lokal lainnya, cimpe kini menghadapi tantangan modernitas. Makanan cepat saji, budaya instan, dan minimnya regenerasi membuat banyak anak muda tak lagi akrab dengannya. Cimpe perlahan menghilang dari peta kuliner sehari-hari. Ia mungkin masih muncul dalam acara adat atau kenduri, tetapi jumlah pembuatnya terus menyusut. Pengetahuan tentang cara pembuatannya pun tidak lagi diwariskan secara alami. Banyak yang tidak tahu bahwa melayukan daun pandan memerlukan api kecil dan kesabaran agar tidak mudah sobek saat digunakan membungkus. Detail semacam ini, yang dulu menjadi bagian keseharian, kini menjadi pengetahuan yang langka.

Meski demikian, cimpe bukan sekadar kue yang enak. Ia adalah simbol identitas masyarakat Alas. Dalam setiap gigitannya tersimpan nilai-nilai tentang kebersamaan, ketekunan, dan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan. Makanan seperti cimpe memiliki potensi besar untuk dikenalkan lebih luas sebagai ikon kuliner tradisional Aceh Tenggara. Dengan pengemasan yang baik, narasi yang kuat, serta dukungan komunitas budaya dan pemerintah daerah, cimpe dapat memperoleh tempat yang layak dalam lanskap kuliner nasional.

Pelestarian cimpe tidak harus dilakukan dalam bentuk festival besar atau kegiatan seremonial. Ia bisa dimulai dari ruang-ruang kecil seperti dapur keluarga, kelas memasak di sekolah, atau unggahan sederhana di media sosial yang menampilkan proses pembuatannya. Di era digital, promosi dan edukasi bisa dilakukan secara kreatif. Video pendek, narasi budaya, hingga kampanye pangan lokal dapat membuka ruang apresiasi terhadap makanan yang lahir dari tradisi.

Lebih dari itu, menyantap cimpe hari ini adalah tindakan kecil yang berdampak besar. Ia merupakan bentuk penghargaan terhadap kerja keras perempuan masa lalu, terhadap bahan lokal yang tersedia di sekitar, dan terhadap proses alami yang tak tergantikan oleh mesin. Cimpe tidak membutuhkan pewarna, pengawet, atau inovasi rasa yang berlebihan. Justru kekuatannya terletak pada kesederhanaannya. Dalam dunia yang semakin kompleks, hal-hal yang paling tulus seringkali lahir dari proses yang paling sederhana.

Dalam lembaran pandan yang membungkus cimpe, tersimpan jejak-jejak sejarah, kebiasaan, dan cinta terhadap tanah kelahiran. Cimpe mungkin tidak hadir di restoran besar atau dipromosikan oleh influencer ternama. Tetapi ia tetap hidup di meja-meja kecil rumah tradisional, di perayaan keluarga, dan di ingatan mereka yang masih menjaga rasa. Selama masih ada yang rela mengukus, membungkus, dan menyajikannya dengan sepenuh hati, cimpe akan tetap hidup. Tidak hanya sebagai makanan, tetapi sebagai cerita yang terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Redaktur: Nisya Augia

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.