Home Tulisan Penerapan Konsep COCD bersama Masyarakat Peduli Disabilitas Indonesia (MPDI) Kota Medan
Tulisan

Penerapan Konsep COCD bersama Masyarakat Peduli Disabilitas Indonesia (MPDI) Kota Medan

Share

Oleh: Canda

Suara USU, Medan. Project Based Learning atau biasa dikenal dengan singkatan PBL merupakan metode pembelajaran yang dilakukan mahasiswa dengan terlibat langsung dan mendorongnya untuk mencari solusi terhadap masalah dalam kehidupan sehari-hari berbasis proyek. Untuk pemenuhan Ujian Akhir Semester (UAS) dalam mata kuliah Community Organization dan Community Development (COCD) yang diampu oleh Bapak Dr. Agus Suriadi S.Sos, M.Si, mahasiswa Kesejahteraan Sosial melakukan COCD bersama Masyarakat Peduli Disabilitas Indonesia (MPDI) di Kelurahan Tegal Sari I. COCD secara sederhana merupakan suatu konsep yang bertujuan melakukan pemberdayaan dan pengembangan kepada masyarakat sebagai langkah atau strategi untuk memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat luas.

Dalam penerapan konsep COCD ada beberapa tahap yang dilakukan, mulai dari tahap persiapan, tahap pengkajian (assessment), tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan evaluasi program. Pada 24 Mei 2025 tahap pertama proses pendekatan, dengan Masyarakat Peduli Disabilitas Indonesia (MPDI), mahasiswa menghubungi salah satu pengurus juga penghubung antara mahasiswa dengan pengurus lainnya. Pada tahap pendekatan awal, mereka sangat menyambut kedatangan mahasiswa secara interaktif. Proses pendekatan diawali dengan perkenalan dan sesi wawancara lebih dalam terkait komunitas.

Wawancara Kepada Salah Satu Pengurus Komunitas MPDI

Komunitas ini sudah lama dibentuk sejak 7 tahun lalu tepat di tahun 2018 dengan jumlah pengurus sebanyak 12 orang. Cukup banyak kegiatan yang dilakukan komunitas ini, mulai dari kegiatan jahit menjahit, berbagi sembako, dan terkadang mereka diundang oleh komunitas lain untuk menghadiri acara dalam meningkatkan tali silaturahmi. Di samping itu, pekerjaan pengurus komunitas ini terdiri dari berbagai jenis latar belakang yang berbeda, tetapi yang paling dominan adalah sebagai pekerja dengan becak bermotor dan adapula yang bekerja sebagai penjahit.

Selanjutnya, setelah tahap pendekatan berhasil dilakukan, mahasiswa menyusun tahap perencanaan untuk penerapan metode COCD dengan melakukan Capital Building yang bertujuan untuk Self Improvement, sebagai proses membangun motivasi dan menigkatkan kekuatan, bonding, dan rasa percaya diri terhadap komunitas MPDI. Disisi lain, jika sudah tertanam penguatan tersebut di antara mereka, diharapkan komunitas ini dapat melakukan kegiatan yang berdampak kepada masyarakat dan bergerak untuk menginspirasi banyak orang bahwa keterbatasan bukan dijadikan alasan untuk tidak memberikan kontribusi, melainkan dapat menciptakan perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. Selain itu, penguatan Capital Building ini dilakukan sebab sebuah komunitas tentu memerlukan penanaman yang kuat atas rasa percaya diri. Mengingat komunitas ini berisi orang-orang tangguh yang memiliki keterbatasan fisik, maka perlu penanaman kuat dan motivasi tinggi yang diberikan agar mereka tidak merasa insecure dan tetap tampil percaya diri.

Pertemuan berikutnya, 27 Mei 2025 sebelum melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) mahasiswa Kesejahteraan Sosial turut ikut andil dalam kegiatan Komunitas MPDI dalam rangka menghadiri acara “Bakti Sosial Komunitas Kasih Asasi Manusia (KAM): Berbagi Kasih kepada 100 Penyandang Disabilitas Kota Medan”. Selama kegiatan berlangsung mahasiswa melakukan pendampingan kepada komunitas MPDI seiring berjalannya acara. Dalam kegiatan tersebut, komunitas MPDI cukup senang karena ada sesi hiburan, makan bersama, hingga pembagian sembako. Komunitas KAM ini sudah bergerak selama 3 tahun dan pengurusnya terdiri dari beberapa suku dengan mayoritas sukunya adalah Cina.

“Kegiatan ini diselengggarakan untuk berbagi kasih kepada sesama. Komunitas ini juga datang ke panti-panti jompo dan panti asuhan untuk melakukan hal yang sama (berbagi kasih). Selain itu, terkadang kami menjenguk orang-orang yang terkena kanker,” ujar salah satu pengurus dalam penyelenggaraan acara tersebut saat diwawancarai oleh mahasiswa.

Menghadiri Kegiatan MPDI dalam Rangka Undangan dari KAM

Setelah mengikuti agenda pendampingan dengan menghadiri kegiatan oleh komunitas KAM, pada hari yang sama mahasiswa juga melakukan penerapan metode COCD yakni sosialisasi dan diskusi dengan mengusung tema “Merangkul bersama Komunitas Disabilitas dalam Mewujudkan Masyarakat Peduli”, sebuah tema yang menjelaskan bahwa semangat kebersamaan, mengajak komunitas untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya serta mengedepankan rasa kesetaraan, empati, dan solidaritas. Mahasiswa memberikan edukasi dari konsep Capital Building menggunakan slide power point dengan pembahasan:

  • Cara Meningkatkan Motivasi dalam Komunitas: Percaya diri, komitmen, dan bergerak melakukan aksi (berdampak).
  • Aksi yang Bisa Dilakukan Komunitas: mengadakan seminar, melakukan peningkatan keterampilan, dan melakukan kolaborasi kepada banyak pihak melakukan aksi.
  • Menonton Cerita Inspiratif.
  • Pohon Harapan: kumpulan harapan-harapan komunitas.
Sosialisasi dan Diskusi Terkait Konsep “Capital Building”

Dalam poin satu dan dua pembahasan, dapat disimpulkan bahwa topik tersebut memberikan tips dan trik untuk memotivasi sesama pengurus disabilitas agar tetap aktif dan percaya diri. Selain itu juga memberikan pemahaman bahwa seseorang yang memiliki keterbatasan, tetap bisa berdampak kepada masyarakat lain dan menjadi inspirasi bagi khalayak dengan menerapkan dan mencoba kedua tips tersebut. Tidak hanya berupa materi slide, mahasiswa juga memberikan sebuah video yang ditonton bersama untuk mengajak komunitas merefleksikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam video yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Berikutnya, sesi terakhir dalam pelaksanaan diskusi, mahasiswa memberikan kertas kecil kepada seluruh pengurus komunitas untuk menuliskan harapan mereka kedepannya terhadap komunitas maupun diri mereka sendiri. Setelah menuliskan, mereka juga menempel kertas kecil yang sudah berisi tulisan ke karton yang dihiasi gambar pohon. Hal ini dilakukan, agar harapan-harapan tersebut terwujud satu persatu dan merupakan salah satu cara agar motivasi itu menjadi acuan mereka untuk mewujudkannya.

Sebagai penutup sesi diskusi, mahasiswa melakukan survei kecil-kecilan dengan menyediakan karton putih yang berisi pertanyaan juga opsi “Ya”/”Tidak” yang wajib diisi mereka seputar kedatangan dan topik pembahasan mengenai Capital Building sebagai konsep membangun komunitas. Hasil dari beberapa pertanyaan yang tersedia, komunitas ini banyak menjawab “Ya”, yang dapat menggambarkan perasaan mereka yang tertarik dan merasa terbantu atas kegiatan yang dilakukan. Sehingga hal ini dapat membantu mereka dalam kegiatan kedepannya agar lebih berdampak dan meningkatkan rasa percaya diri untuk masyarakat luas.

Pada akhir pertemuan, yakni sesi penutup sekaligus evaluasi dari beberapa tahap, mahasiswa melakukan sesi wawancara kepada Ketua Komunitas MPDI yang berinisial A untuk menanyakan pesan dan kesan dari pertemuan berlangsung.

“Saya merasa senang dengan adanya sesi diskusi, semoga kami bisa melakukan pemberdayaan dan menghasilkan karya dari hasil keterampilan komunitas kami. Harapan kami kedepannya, yaitu dapat memiliki sekret sebagai tempat kami berkumpul dan adanya kerja sama dalam pembangunan sekret agar segera terwujud. Karena selama ini berkumpulnya masih di rumah saya,” ujar Ketua Komunitas MDPI tersebut.

Kesimpulan:

Penerapan konsep COCD merupakan salah satu langkah pendampingan dan kolaborasi menciptakan masyarakat agar dapat hidup lebih baik kedepannya. Banyak cara dari penerapan COCD, mulai dari pengembangan kapasitas dalam diri hingga menciptakan karya dari hasil keterampilan yang telah dibuat. Dari beberapa tahap yang sudah dilakukan di atas, secara garis besar komunitas tersebut berharap adanya peran kolaborasi baik dari pemerintah maupun swasta dalam menciptakan kesetaraan akses, pekerjaan, sampai pembangunan sekret tempat dimana mereka berkumpul. Kegiatan COCD tersebut mengajarkan kita dari semangat hidup komunitas yang memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda, dapat bekerja layaknya seseorang yang tidak memiliki keterbatasan.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat (COCD) dengan Dosen Pengampu Dr. Agus Suriadi, S.Sos., M.Si.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.