Home Tulisan Penerapan Strategi STP pada UMKM Cafe Tutus Medan
Tulisan

Penerapan Strategi STP pada UMKM Cafe Tutus Medan

Share

Oleh: Aulia Rahma Dini, Kezya Ester Nababan, Alin P. Simanjuntak, Amanda Manik, Kyrie Eleison Sihombing, Harvin Felix Ceko Sinambela

Suara USU, Medan. Cafe Tutus merupakan salah satu UMKM kuliner yang berlokasi di sekitar Universitas Sumatera Utara, Medan, tepatnya di Jl.Pembangunan. Usaha ini hadir dengan konsep “Masakan Mama” yang menyasar kebutuhan emosional para mahasiswa rantau yang merindukan suasana rumah. Melalui menu makanan khas rumahan seperti nasi goreng, sayur-sayuran, dan hidangan sederhana lainnya, Cafe Tutus berhasil menciptakan pengalaman makan yang bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menenangkan. Dalam menghadapi persaingan bisnis kuliner di kawasan kampus yang semakin padat, Cafe Tutus menerapkan strategi pemasaran berbasis STP, yaitu segmenting, targeting, dan positioning, untuk meningkatkan daya saing dan membangun kedekatan dengan konsumennya.

Strategi segmentasi yang digunakan oleh Cafe Tutus dilakukan berdasarkan pemahaman mendalam terhadap karakteristik konsumennya. Secara demografis, usaha ini menyasar mahasiswa dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun, khususnya mereka yang berasal dari luar kota. Mahasiswa rantau ini umumnya memiliki keterbatasan waktu dan keterampilan memasak, sehingga membutuhkan tempat makan yang bisa menjadi solusi praktis sehari-hari. Dari sisi psikografis, pelanggan Cafe Tutus cenderung mencari suasana yang hangat, nyaman, dan membangkitkan rasa nostalgia terhadap rumah. Sementara itu, secara perilaku, mereka biasanya mendapatkan informasi tempat makan dari rekomendasi teman, media sosial, dan pengalaman pribadi. Dengan memahami segmentasi ini, Cafe Tutus dapat menyusun pendekatan yang lebih relevan dalam pelayanan maupun strategi promosinya.

Setelah mengetahui siapa target konsumennya, Cafe Tutus menetapkan mahasiswa dan pekerja muda di sekitar Padang Bulan sebagai pasar utamanya. Konsumen ini memiliki penghasilan terbatas namun tetap memiliki preferensi terhadap makanan yang lezat, terjangkau, dan disajikan dalam suasana yang bersahabat. Cafe Tutus memaksimalkan media sosial, terutama Instagram, sebagai alat utama dalam menjangkau dan berinteraksi dengan konsumen. Melalui konten yang menampilkan menu makanan, suasana cafe, dan testimoni pelanggan, Tutus membangun kedekatan yang lebih dari sekadar hubungan penjual-pembeli. Pendekatan ini dinilai efektif karena menyentuh aspek emosional pelanggan, yang selama ini menjadi kekuatan utama Tutus dalam membangun loyalitas.

Sementara itu, dalam strategi positioning, Cafe Tutus berupaya membentuk citra sebagai tempat makan yang menghadirkan cita rasa rumah dengan suasana kekeluargaan. Positioning ini tidak hanya dibentuk melalui produk makanan yang ditawarkan, tetapi juga melalui atmosfer tempat yang nyaman dan hangat. Cafe Tutus menyediakan fasilitas seperti Wi-Fi, televisi besar untuk nonton bersama, dan alat musik seperti gitar yang dapat digunakan pengunjung. Semua elemen ini dirancang untuk menciptakan suasana santai dan akrab, seolah-olah pelanggan sedang berada di ruang makan rumah mereka sendiri. Nama “Tutus” yang berasal dari bahasa Karo dan berarti “tulus dan sungguh-sungguh”, juga menjadi bagian penting dari citra yang ingin dibangun, bahwa semua yang disajikan oleh cafe ini dibuat dengan penuh ketulusan.

Dari hasil observasi dan wawancara langsung dengan pemilik usaha, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi STP oleh Cafe Tutus telah memberikan dampak positif dalam memperkuat identitas usaha dan meningkatkan daya tarik konsumen. Pendekatan yang terstruktur dan relevan dengan kebutuhan pasar menjadikan Tutus tidak hanya sebagai tempat makan biasa, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mendukung kebutuhan mahasiswa akan kenyamanan dan kedekatan emosional. Di tengah banyaknya pesaing di sektor kuliner, strategi STP yang diterapkan secara konsisten membantu Cafe Tutus mempertahankan eksistensinya dan bahkan terus berkembang.

Penerapan STP pada UMKM seperti Cafe Tutus membuktikan bahwa strategi pemasaran tidak hanya dimiliki oleh perusahaan besar. UMKM pun dapat memanfaatkannya untuk memahami konsumen secara lebih spesifik, menargetkan pasar yang tepat, serta membentuk citra yang kuat dan berbeda dari pesaing. Strategi semacam ini penting untuk terus dikembangkan dan dijadikan acuan bagi pelaku UMKM lainnya yang ingin membangun hubungan yang kuat dengan konsumennya di tengah persaingan pasar yang kompetitif.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Marketing Management dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.