Home Opini Ketika Teori Berbanding Terbalik dengan Aksi Nyata, Mahasiswa Krisis Peduli Lingkungan
Opini

Ketika Teori Berbanding Terbalik dengan Aksi Nyata, Mahasiswa Krisis Peduli Lingkungan

Share
Ilustrator: Priyanka Az Zahra

Oleh: Nurur Rahmah

Lingkungan hidup yang bersih, sehat dan terjaga adalah tiang dari keberlangsungan hidup manusia. Namun nyatanya, di luar banyaknya kampanye mengenai kelestarian lingkungan, masih banyak hal-hal kecil yang harus diperhatikan yang merupakan akar dari tantangan dalam menciptakan kelestarian lingkungan. Salah satu hal kecil ini, yaitu kesadaran akan lingkungan. 

Apa sih kesadaran akan lingkungan itu? Kesadaran akan lingkungan adalah bagaimana sikap manusia dalam memahami, memberi perhatian dan bertanggungjawab terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Rasa tanggungjawab akan kondisi lingkungan akan menimbulkan tindakan atau upaya yang nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan. Namun, apa jadinya jika kesadaran lingkungan ini tidak ditanamkan pada generasi muda, khususnya mahasiswa? Meskipun, berbagai program edukasi sudah diterapkan, nyatanya kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan tindakan nyata masih sangat terlihat jelas.

Penelitian yang diterbitkan oleh Agus Sugiarto dan Diana Ayu Gabriella (2020) dalam jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora mengenai kesadaran dan perilaku ramah lingkungan mahasiswa di kampus menunjukkan bahwa tingkat kesadaran lingkungan mahasiswa berada pada kategori tinggi. Namun, sayangnya tingkat perilaku ramah lingkungan mahasiswa masih berada dalam kategori sedang. Hal ini menggambarkan, bahwa mahasiswa sudah berada pada tahap sadar dimana perilaku ramah lingkungan itu penting, tetapi dalam implementasi dan tindakan nyata masih memiliki kategori sedang sehingga kesadaran ramah lingkungan hanya sebatas teori dan tidak dipraktekkan oleh seluruh mahasiswa. 

Di Sumatera Utara sendiri, kesadaran akan lingkungan dan perilaku ramah lingkungan masih tergolong rendah. Hal ini tentunya menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dalam masyarakat. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara, volume sampah yang dihasilkan per hari bisa mencapai lebih dari 2.000 ton yang dimana angka ini bukanlah angka yang kecil. Dari 2.000 ton sampah per hari yang dihasilkan masyarakat, sebagian besar dari sampah itu tidak terolah dengan maksimal. Bahkan hanya 60% sampah yang dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dan sisanya terbuang begitu saja di aliran drainase, sungai ataupun dibakar sembarangan oleh masyarakat. Kemudian, tidak adanya sistem pemilahan sampah dari rumah membuat sampah-sampah yang dihasilkan ini sebagian tidak bisa untuk diolah kembali.

Adapun faktor-faktor penyebab kurangnya kesadaran dan perilaku ramah lingkungan di kalangan mahasiswa, yaitu kurangnya fasilitas pendukung oleh kampus, meskipun minat dan kesadaran mahasiswa untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, kurangnya fasilitas pendukung seperti tong sampah dengan pemilahan, ataupun tempat pengisian ulang air minum, membuat mahasiswa menjadi ragu untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Selanjutnya, kurangnya regulasi dan hukuman yang ketat bagi pelanggar, tidak adanya sanksi dalam kegiatan yang merusak lingkungan membuat mahasiswa berpikiran bahwa melakukan hal kecil seperti membuang satu sampah plastik di sembarang tempat tidak begitu berpengaruh ke dirinya ataupun orang lain, padahal jika seribu orang memiliki pemikiran yang sama maka akan ada seribu sampah plastik yang berserakan. 

Lalu bagaimana cara meningkatkan kesadaran dan perilaku ramah lingkungan bagi mahasiswa? Nah, hal ini dapat dimulai dari pemberian edukasi secara merata di lingkungan kampus, mata kuliah Pendidikan lingkungan bisa untuk dijadikan opsi sebagai mata kuliah pilihan bagi mahasiswa. Kemudian, penyediaan fasilitas pendukung di kampus, misalnya area kampus yang luas seharusnya membutuhkan banyak tempat sampah yang tersedia terutama di trotoar yang menjadi jalur mahasiswa untuk berkeliling kampus, nyatanya saat ini di beberapa kampus belum banyak yang memenuhi salah satu fasilitas pendukung ini. 

Beberapa kampus hanya menempatkan tempat sampah di gedung program studi masing-masing, padahal area trotoar adalah tempat yang paling banyak dilalui oleh orang-orang. Kolaborasi dengan Lembaga ataupun komunitas lingkungan juga dapat menjadi opsi untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku ramah lingkungan bagi mahasiswa, kampus dapat menjalin Kerjasama dengan komunitas atau lembaga lingkungan untuk mengadakan kegiatan ataupun program menjaga kelestarian lingkungan, dengan program ini dapat membuat mahasiswa terjun langsung dalam upaya pelestarian lingkungan.

Kesadaran lingkungan pada mahasiswa masih menghadapi berbagai tantangan, meskipun banyaknya peningkatan pengetahuan tentang berbagai isu dan teknologi untuk lingkungan. Sayangnya, aksi nyata untuk kesadaran lingkungan ini belum direalisasikan oleh seluruh mahasiswa dan lagi masih banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa masalah lingkungan bukanlah masalah utama. Kurangnya kesadaran ini akan mengkhawatirkan kedepannya karena sebagai generasi muda yang akan menjadi penerus, dengan kesadaran lingkungan yang rendah akan membuat lebih banyaknya kerusakan bagi lingkungan di kemudian hari. Kesadaran lingkungan bukan hanya upaya dalam menyelamatkan alam tetapi juga upaya dalam membangun masa depan yang lebih lestari, aman dan nyaman.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.